Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Investigasi

Hidup yang Terenggut

Pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei bukanlah dongeng. Dua korban, dokter, dan sejumlah pendamping bersaksi kepada TEMPO.

TANGANNYA terulur mengajak bersalaman. "Mei Ling," ia mengenalkan diri dengan suara lirih (nama itu telah disamarkan). Sepintas, perempuan berusia 37 tahun ini kelihatan sangat normal. Parasnya manis, kulitnya putih bersih, penampilannya pun rapi.

Tapi, tak lama kemudian, segera terasa ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Dia tersenyum, tapi nyaris tak diiringi emosi. Pikirannya pun seperti sedang berkelana ke tempat yang jauh. Tatapan matanya hampa, tapi sewaktu-waktu berubah nanar, seperti menyimpan amarah.

Mei Ling adalah korban pemerkosaan Mei 1998. Atas kebaikan Nyonya Wati (ini juga bukan nama sebenarnya), seorang penjual kue yang lama mendampingi dia, mingguan ini berhasil menemuinya secara langsung. Pada suatu sore awal Mei lalu, ibu tua yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial itu mengajak Karaniya Dharmasaputra dan Iwan Setiawan dari TEMPO ke sebuah rumah perawatan di Jakarta Utara. Mei Ling dititipkan di sini sejak dua tahun lalu.

Kami lalu duduk di sofa. Setelah mengoleh-olehi Mei Ling kue sekantong, Wati membuka percakapan. Mei Ling tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk, paling sesekali menjawab "iya" atau "enggak."

Wati lalu bercerita tentang anak lelaki Mei Ling. Berumur 15 tahun, bocah itu kini diasuh Wati.

Tiba-tiba dari mulut Mei Ling tercetus, "Saya mau pulang."

Wati merengkuh tangannya. "Nanti kalau si ... (Wati menyebut nama anak Mei Ling) sudah besar, sudah bisa cari duit, dia pasti ajak kamu pulang. Sabar, ya...."

"Iya...," Mei Ling kembali tertunduk.

Sesaat kemudian, Mei Ling bicara lagi. Kali ini dia minta uang. Buat jajan, katanya. Wati buru-buru membuka tas, memberinya selembar Rp 10 ribuan. "Terima kasih, Iie (Tante dalam bahasa Cina)," katanya.

"Saya mau pergi ke dokter."

Wati kaget, "Kamu sakit?"

Mei Ling mengangguk, sambil memegangi bagian bawah perutnya, "Sakit, di sini."

Tapi wajahnya datar, tak menunjukkan rasa nyeri.

"Mau ke dokter mana?" tanya TEMPO.

"Ke dokter di Cikini," Mei Ling menjawab.

Wati bertanya lagi, "Kamu mau saya antar?"

Ia menggeleng cepat. "Nggak usah. Saya mau pergi sendiri saja."

Setelah itu dia membisu. Pandangan matanya memaku lantai. Percakapan tak lagi dia hiraukan. Ibu Wati berbisik, dokter di Cikini itu adalah ahli kandungan yang pernah merawat Mei Ling setelah ia diperkosa.

Sebelum pertemuan yang menyesakkan dada itu, Wati berkisah bagaimana hidup Mei Ling direnggut. Pada 14 Mei sore lima tahun silam, perempuan beranak dua yang telah berpisah dengan suaminya itu dicegat massa di jalan. Tanpa ampun, ia lalu diperkosa. Mei Ling ditolong seorang ibu yang kebetulan lewat di daerah Sunter. Ia ditemukan dalam keadaan nyaris bugil (hanya mengenakan celana dalam), dan dikerubuti empat lelaki di pinggir jalan. Sekujur tubuhnya penuh memar, dan ia dalam keadaan syok berat.

Dokter Lie Dharmawan yang pernah menolongnya menduga lebam itu ber-kaitan dengan pemerkosaan yang dialaminya (lihat Ada yang Telah Melahirkan Bayinya). Mei Ling lalu dirawat di bagian jiwa Rumah Sakit Carolus, Jakarta. Menurut Wati, sampai saat ini dia bahkan tak sanggup mengenali anak keduanya yang perempuan.

Nasib tragis Mei Ling diungkapkan seorang relawan lain, Yuli (bukan nama sebenarnya). Mendampingi korban selama dua tahun, dia pun memastikan wanita malang itu adalah korban pemerkosaan. Suatu waktu, untuk memulihkan ingatannya, dia pernah mengajak Mei Ling berkeliling. Tiba di daerah Sunter, Mei Ling menunjuk kantor cabang BCA. Ternyata, di situ dia dikenali sebagai nasabah. "Jadi, sebelumnya dia terbukti waras," kata Yuli. Mei Ling juga selalu mengeluh kemaluannya terasa nyeri. Dan tiap kali melihat laki-laki ia selalu ketakutan. "Melihat suami saya saja dia histeris," kata Yuli.

Kisah Mei Ling hanyalah satu dari sekian banyak laknat lain yang terjadi pada prahara 13-15 Mei 1998. Dalam laporannya 18 Oktober 1998, Tim Gabungan Pencari Fakta menyimpulkan, setidaknya telah terjadi 92 kasus pemerkosaan dan penganiayaan seksual. Penyelidikan yang dipimpin Profesor Saparinah Sadli kuat menduga aksi brutal itu tak sekonyong-konyong terjadi, "Jumlah korban, waktu, dan lokasi kejadian menunjukkan telah terjadi pemerkosaan massal… oleh sejumlah pelaku di berbagai tempat berbeda dalam waktu hampir bersamaan. Mayoritas korban dari etnis Tionghoa, meski ditemukan juga korban pribumi."

Toh, ketika itu para petinggi Republik—Panglima ABRI Jenderal Wiranto, Kepala Kepolisian RI Letjen Roesmanhadi, Jaksa Agung Andi Ghalib, dan lainnya—bersikukuh membantah. "Selama tidak ada bukti, pemerkosaan tidak ada," kata Letjen Roesmanhadi saat itu, sembari mengancam akan menyeret para aktivis yang terus menggembar-gemborkan pemerkosaan tanpa bukti, ke pengadilan.

Itu kata pejabat. Di lapangan, berbagai kesaksian dan fakta yang tersedia sesungguhnya terlampau banyak untuk diingkari. Kepada TEMPO, seorang korban bahkan langsung membeberkan mimpi buruknya.

Kita sebut saja namanya Dini. Gadis Tionghoa berusia sekitar 29 tahun itu kini tinggal di Amerika Serikat. Melalui telepon dan e-mail, Dini bersaksi kepada majalah ini bahwa ia telah diperkosa tiga lelaki tegap berambut cepak sekitar tanggal 15 Mei 1998. Ketika itu dia baru pulang kantor. Tengah menunggu bus di Jalan Sudirman, Jakarta, tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depannya. Seorang pria turun, dan sambil menodongkan belati ia mendorong Dini masuk.

Taksi melaju. Dini menggigil ketakutan. Sampai di bawah Jembatan Semanggi, taksi berhenti di dekat sekelompok tentara. Dari kerumunan itu dua orang berkaus hitam ikut naik, mengapit Dini di jok belakang. Selama perjalanan ke arah Bekasi, mereka menggerayanginya. "Aku takut sekali. Mereka tertawa-tawa, saling bercerita telah memperkosa perempuan-perempuan Cina di Glodok dan Tangerang," kata Dini.

Di daerah persawahan yang sepi, mereka berhenti. Dini digelandang keluar dan langsung ditelanjangi. Ketika itulah dia pingsan. Siuman menjelang subuh, Dini merasa sekujur badannya sakit. Bagian pangkal pahanya terasa amat nyeri. Tangisnya langsung meledak. Dia sadar baru diperkosa para bajingan itu.

Romo Sandyawan, Ketua Tim Relawan untuk Kemanusiaan, mengkonfirmasi kesaksian Dini. Sandyawan mengaku pernah bertemu Dini di New York pada tahun 2000. Kepadanya Dini pun mengungkap pengakuan serupa. Dini bahkan menyatakan hakulyakin pelakunya adalah oknum aparat.

Kesaksian lain diungkap Nyonya Wati. Selain Mei Ling, ia juga pernah menolong seorang korban lain. Namanya Lina (bukan nama asli, pun keturunan Cina). Umurnya baru 14 tahun. Ketika itu, 14 Mei 1998 sekitar pukul 15.00, Lina baru pulang sekolah. Seperti biasa, begitu tiba di rumahnya di kawasan Kapuk, ia lalu menyiapkan kue bikinan ibunya untuk dijual ke warung.

Baru berjalan beberapa meter, tiba-tiba ia dihadang massa beringas. Gadis itu lari ketakutan ke dalam rumah. Tapi belasan lelaki mengejarnya. Lina lalu "digarap" beramai-ramai. "Saya tak ingat berapa orang, pokoknya banyak," Wati menirukan.

Aksi binatang itu membuat jiwa Lina terguncang. Seperti Mei Ling, tiap kali melihat lelaki, juga perempuan bercelana panjang, ia selalu mengkerut ketakutan.

Malangnya lagi, setelah itu menstruasi Lina tak kunjung datang. Rupanya dia hamil. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan rohaniwan, keluarga memutuskan dia untuk menggugurkan si jabang bayi.

"Saya mengantar dia ke dokter kandungan," ujar Wati, yang satu setengah tahun menampung Lina di rumahnya. Syukurlah, setelah menjalani terapi intensif, remaja itu kembali pulih. Akhirnya, pada tahun 2000 Lina diboyong tantenya ke Taiwan. Setahun lalu ia berkirim surat. Kepada Wati, Lina mengabarkan: kini ia telah menikah.

Berbagai fakta itu membuat Ester Yusuf, pengacara yang kini menjadi Sekretaris Tim Ad Hoc Penyelidikan Kasus Mei 1998, heran atas penyangkalan banyak pejabat Republik atas pemerkosaan Mei. Ester sendiri mengaku pernah langsung mendampingi tiga korban. "Dua orang menghilang setelah Ita terbunuh (seorang relawan pendamping korban yang kematiannya sempat menggegerkan—Red). Yang seorang lagi, saya sempat bertemu tahun lalu," katanya.

Hal senada diutarakan Ita Nadia, anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang juga pernah menolong belasan korban pemerkosaan. Dia meyakini aksi bejat itu bukan semata ekses dari amuk massa, tapi merupakan bagian dari teror sistematis.

Dan pemerintah akan terus menutup mata? Mei Ling sudah tak paham lagi apa pun jawabnya. Di sore yang gerimis itu, saat mengantar kami pulang sampai gerbang bangsal, dari balik jeruji ia hanya bisa melambaikan tangan dengan kikuk, sambil memandang hampa.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data