Mimpi Buruk Sang Opsir Seorang perwira militer bersaksi: saat peristiwa Mei, aparat dilarang menindak keras para perusuh.
|
BANGUNAN mungil di ujung jalan itu lebih mirip gardu listrik ketimbang rumah. Menempati tanah sempit seluas 25 meter persegi di pojokan sebuah kota di Jawa Timur, dindingnya hanya dilengkapi sebuah pintu dan jendela kecil yang selalu tertutup gorden.
Di situlah Bambang (bukan nama sebenarnya) tinggal. Tak banyak yang tahu kalau ia seorang pensiunan tentara. Lebih banyak lagi yang tak mafhum bahwa Bambang adalah salah satu saksi penting di balik tabir kerusuhan Mei. Saat Jakarta dilalap amuk massa lima tahun lalu, ia diberi tugas mengamankan Ibu Kota.
Jejak Bambang dilacak majalah ini melalui seorang relawan. Ditemui wartawan Iwan Setiawan dari TEMPO awal Mei lalu, semula ia bahkan menolak bertemu muka. Sang opsir baru bersedia membuka pintu setelah ditunggui selama empat jam di muka rumahnya.
Purnawirawan berusia 59 tahun itu masih terlihat gagah. Badannya tegap, setinggi 175 sentimeter, dengan otot-otot yang masih kukuh. Awalnya pembicaraan berlangsung lumayan akrab. Tapi, saat TEMPO menyinggung kerusuhan Mei, air mukanya langsung membeku. Senyumnya menghilang, parasnya mengeras. Baru setelah berkali-kali diyakinkan bahwa semua jati dirinya akan dirahasiakan, Bambang bersedia membuka kesaksian yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
Kisahnya berawal di sebuah pagi, 9 Mei 1998. Ketika itu, katanya mengenang, bersama seribuan anggota militer dari berbagai kesatuan, dia bersiap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dengan belasan kapal perang, Bambang—saat itu seorang perwira menengah—dan pasukannya diangkut ke Jakarta. Perintah untuk mereka jelas: membantu mengamankan Sidang Umum MPR dari gelombang demonstrasi mahasiswa.
Tiba di Ibu Kota, Bambang langsung menghadapi situasi genting. Pada tanggal 12 Mei, setelah empat mahasiswa Trisakti ditembak mati, rusuh telah di ambang mata. Saat itu ia memimpin satu peleton pasukan di sekitar Grogol. Mendengar penembakan misterius itu, ia bingung. Soalnya, kata Bambang, sedari awal mereka telah diinstruksikan supaya tak menembakkan sebutir pelor pun, apalagi yang berjenis peluru tajam.
Esoknya, 13 Mei, Bambang diberi tugas mengamankan kawasan Jakarta Pusat. Ia sudah mendapat firasat hari itu kerusuhan bakal meledak. Benar saja. Tengah hari tiba-tiba puluhan orang meloncat dari mobil pick-up dan Metromini. Mereka lantas berteriak-teriak memanasi massa yang berkerumun di pinggir jalan, "Mari kita jarah! Bakar toko-toko Cina!"
Bambang melihat jelas kawanan itu rata-rata berbadan tegap dan berambut cepak. Mereka memakai kaus. Ada yang membawa pentungan dan tas ransel, ada pula yang menenteng handy-talkie. Bambang sudah curiga, "Dari cara membakar dan menggerakkan massa, mereka tampak terlatih. Saya yakin mereka aparat."
Namun ia tak berdaya. Saat itu jumlah anak buahnya cuma belasan. Yang lain telah menyebar ke sekitar Glodok. Bambang hanya bersiaga. Dalam hati ia berkata, asal mereka tak membunuh, ia belum akan mencabut pistol.
Yang paling merintangi Bambang bukan hanya keterbatasan pasukan. Ia tak bisa bertindak karena memang dilarang atasannya. "Oleh pimpinan, kami dilarang menembak atau menindak massa secara keras," ujarnya.
Bambang kalut. Massa makin menyemut. Tak lama kemudian mereka mulai menjarah pertokoan. Jelas tampak olehnya, yang mula-mula membongkar pintu adalah kawanan berbadan kekar yang tadi memprovokasi massa. Makin sore, aksi mereka menggila. Bangunan mulai dibakar. Tak tahan, Bambang dan anak buahnya berusaha mencegah. Tapi kawanan itu nekat melawan. Kalah jumlah, Bambang terpaksa mundur.
Menjelang malam, para perusuh seperti kerasukan setan. Dengan mata kepalanya sendiri, Bambang menyaksikan seorang perempuan Tionghoa ditarik ke dalam sebuah toko oleh belasan orang, dan menjerit-jerit minta tolong. "Saya yakin, wanita Cina itu diperkosa. Saya sangat syok," Bambang menerawang.
Esoknya, Bambang masih bertugas memimpin pasukan. Tapi sekali lagi, ia hanya bisa menahan marah dan bingung, "Saya tidak mengerti, mengapa saat kerusuhan pasukan hanya sedikit sekali. Terutama dari Angkatan Darat dan polisi."
Mimpi buruk itu rupanya membekas dalam dirinya. Akhirnya, tak lama setelah kerusuhan Mei 1998, Bambang pun memilih mengundurkan diri dari militer. Ia lalu menjauhkan diri dari senjata, dan mengabdikan sisa hidupnya dengan melayani seorang pemuka agama.
|