Mahal Dibuat, Mahal Dihancurkan Satu persen persenjataan kimia bekas Uni Soviet yang ada di Rusia dimusnahkan. Teknik penghancurannya telah lama dimiliki dan dilakukan Rusia. |
Sergey Kirienko bungah. Dalam konferensi pers yang digelar dua pekan lalu di pabrik senjata kimia di Gorny, wilayah Saratov, Presiden Komisi Pemusnahan Senjata Kimia Rusia ini menyatakan berhasil memusnahkan 400 ton gas kimia beracun.
Kirienko pantas berbesar hati. Soalnya, apa yang dicapai timnya sesuai dengan tenggat yang ditetapkan dalam konvensi internasional senjata kimia yang diratifikasi Rusia pada 1997. Berdasarkan konvensi itu, pemusnahan senjata kimia Rusia akan dilakukan dalam empat tahap, yakni pemusnahan satu persen pada 2003, 20 persen pada 2007, 45 persen di tahun 2009, dan 100 persen pada 2012.
Kirienko memang mengemban tugas berat. Soalnya, di Rusia terdapat 40 ribu ton persenjataan kimia. Bahan berbahaya ini tersimpan di tujuh lokasi, sebagian besar di bagian barat Rusia di tepian Sungai Volga. Sebagian besar persenjataan ini (32.300 ton) berbentuk senyawa organofosfat, semisal gas sarin, soman, dan gas VX. Sisanya berupa gas mustard, lewisite, atau campuran keduanya. Berbagai zat kimia ini juga dikemas dalam amunisi tentara seperti peluru, ranjau, bom, bahkan peluru kendali. ”Tahun 1920 tentara Rusia untuk pertama kalinya menerima senjata kimia di Saratov. Tahun ini di tempat yang sama kami orang Rusia yang menghancurkannya,” ujar Kirienko bangga.
Memang benar, teknologi yang dipakai buat mengeliminasi senjata kimia ini lahir dari ilmuwan lokal. Adalah State Scientific Research Institute of Organic Chemistry and Technology (Gosniiokht) yang bertanggung jawab dan sukses membuat teknik pemusnahan senjata kimia yang aman dan ekonomis.
Menurut Direktur Gosniiokht, V.A. Petrunin, institusinya telah mengembangkan teknologi pemusnah agen organofosfat sejak 1970. Hasil kerja Gosniiokht dibuktikan buat pertama kalinya pada 1980. Ketika itu tentara Uni Soviet menggunakan unit pemusnah senjata kimia bergerak—ciptaan Gosniiokht—untuk menghancurkan senjata kimia dalam jumlah kecil. Selama 1980 hingga 1987, tak kurang dari 4.000 amunisi kimia seberat 280 ton dimusnahkan. Sistem ini kemudian berkembang hingga menjadi ”teknik pemusnahan senjata kimia dua langkah”, yang kini dipakai.
Langkah pertama disebut proses detoksifikasi. Satu demi satu amunisi senjata kimia diproses dalam mesin khusus untuk dipisahkan bahan kimia dari bahan pembalutnya (selongsong). Proses ini dilakukan dengan mengeringkan bahan kimia menggunakan vacuum, dan dikontrol dengan sebuah indikator gas beraliran cepat. Hasilnya, berbagai bahan kimia terpisah dari bahan-bahan pembungkusnya. Dalam proses ini, bahan kimia yang tadinya mematikan dilumpuhkan melalui serangkaian reaksi massa. Hasilnya adalah bahan kimia yang masuk kategori limbah buangan industri.
Berbagai bahan pembungkus agen kimia selanjutnya dihancurkan dalam suhu tinggi. Sedangkan agen kimia kering yang sudah masuk kategori limbah buangan industri melaju ke reaktor kimia. Proses ini dilakukan terputus dan meminimalisasi penggunaan bahan kimia lain selama proses berlangsung. Kalaupun digunakan bahan kimia lain buat menetralkan racun, dilakukan setelah tahap pertama dan kedua dilewati.
Tahap kedua meliputi proses ”bituminisasi” massa. Proses ini mengakibatkan tereliminasinya agen yang mungkin kembali seusai proses pertama. Langkah ini membuat massa yang keluar setara dengan kategori limbah rumah tangga. Buangannya lalu dikuburkan di lokasi-lokasi yang aman buat kesehatan penduduk dan lingkungan.
Proses dua langkah itu, menurut V.V. Demidyuk, Kepala Ilmuwan Gosniiokht, mampu menjamin keamanan dan efektivitas penghancuran senjata kimia di Rusia. Terbukti, teknologi ini sukses melewati pengujian yang dilakukan ahli pemusnah senjata Rusia dan Amerika Serikat. Dari berbagai pengujian modern yang dilakukan terhadap proses pemusnahan dua langkah Gosniiokht, tim penguji tak menemukan bahan kimia berbahaya pada buangan sampah akhir.
Teknologi itu memang andal. Hanya, ia berpacu dengan biaya dan waktu. Untuk tahun ini dianggarkan dana US$ 160 juta (lebih dari Rp 1,3 triliun), US$ 50 juta di antaranya difasilitasi oleh Amerika Serikat. Rusia sendiri hampir mustahil memenuhi pembiayaan itu sendirian. Soalnya, ekonomi negeri ini sedang babak-belur.
Dari sisi persoalan ekonomi itulah program pemusnahan senjata kimia berkejaran dengan waktu. Sebabnya, akibat tuntutan ekonomi yang mendesak, berbagai senjata kimia yang gampang dibawa itu amat mungkin dicuri tangan-tangan tak bertanggung jawab dari berbagai instalasinya. Peminatnya amat banyak, terutama berbagai organisasi teroris internasional. Akibatnya bisa mengerikan. Masih bisa diingat, misalnya, peristiwa pembunuhan dengan gas sarin oleh sekte Aum Shinrikyo di kereta bawah tanah Tokyo pada 1995.
Upaya pemusnahan senjata itu bisa jadi peringatan bagi negara lain yang mengembangkan senjata sejenis: buat apa membangun sesuatu dengan biaya mahal kalau akhirnya harus dimusnahkan, juga dengan biaya mahal?
Agus Hidayat (berbagai sumber)
|