Melepas Penat, Menuai Nikmat Aftermidnight club makin merebak di pelbagai kota besar. Ini ajang pelepas penat kaum berduit. |
Dentuman house music mulai menggedor jantung. Sekitar seratus pengunjung Planet Hollywood, Jakarta, pekan lalu tampak asyik menggoyang tubuh. Gelas-gelas berisi pelbagai jenis minuman—bir, tequila, dan (tentu saja) vodka—berseliweran di atas meja bartender. Tepat pukul 24.00, perempuan muda yang menjadi bartender meniup peluit panjang tiga kali. Teriakan dan goyangan pengunjung makin mengguncang ruangan yang pekat dengan asap itu.
Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover, tiba-tiba naik ke meja. Liukan tubuh tambunnya terlihat sangat "terlatih". Alumni IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini sesekali menyeka keringat yang mulai membasahi keningnya. Sejurus kemudian dia menarik tubuh mungil Vicky Burki, penggiat olah tubuh ternama, ke atas meja. Pengunjung pun memberi applause pemompa semangat. Emka dan Vicky, tanpa sengaja, menjadi bintang. Hanya bertumpu pada meja bartender selebar 40 sentimeter, mereka terlihat kompak. Dua perempuan seksi ikut mendampingi aksi panggung itu. "Saya ingin melepas penat di sekujur tubuh," bisik Emka.
Ini Jakarta, Bung! Metropolitan ini tak pernah tidur. Aftermidnight club kini menjadi hidangan tetap aktivis "dugem" alias pecandu "dunia gembira" Jakarta. Pelbagai kafe terkemuka—seperti Planet Hollywood, Hard Rock Cafe, dan Mata Bar—berlomba-lomba menjala pengunjung. Gayung pun bersambut. Rutinitas Jakarta yang kerap membuat capek, jenuh, hingga stres tingkat tinggi memaksa kaum berduit tebal mencari saluran pelepasan.
Tak percaya? Dengarlah pengakuan Ardy Santoso. Bujangan berusia 33 tahun ini tampak enjoy dan menikmati atraksi Emka dan Vicky. Untuk mengendurkan saraf di kening yang telah berkerut tujuh, Ardy rutin ikut nongkrong di pelbagai kafe di Jakarta. Tak sekadar iseng, "Ini sudah jadi kebutuhan pokok," ujar Ardy, yang mengaku bekerja di IBM Corporation.
Aktivitas aftermidnight club sejatinya bukanlah monopoli Jakarta. Pelbagai kota besar lain kini makin diramaikan berbagai klub yang memompa keringat setelah tengah malam. Bandung, misalnya, memiliki beberapa arena bagi ajang after midnight yang asyik. Para clubber-mania di Kota Kembang membanggakan Fame Station, tempat mangkal anak muda di lantai 11 Gedung Lippo. Tiap tengah malam, tak kurang dari 300 pengunjung setia menjejali Fame Station.
Selain menyajikan hidangan mulut, Fame Station juga menyuguhkan pelbagai "hidangan mata" yang menyegarkan. Puluhan perempuan seksi dengan goyangan "ngebor" yang tengah ngetop menjadi daya tarik Fame. "Kami tak kalah dengan tempat ngetop di Jakarta," ujar Jacky Wangkay, Manajer Fame Station, setengah berpromosi.
Namun, aksi lepas tengah malam yang sedang menjamur itu acap mengundang tudingan miring. Ada dugaan aktivitas itu tak terlepas dari pelbagai kegiatan "menyimpang". Padahal, ujar Emka, "Ini realitas kota besar. Soal benar atau salah, itu sungguh subyektif."
Setiyardi (Jakarta) dan Bobby Gunawan (Bandung)
|