Menangkap Gerak Demonstran |
Suasana sudah memanas saat itu. Mahasiswa merangsek ke depan. Berhadapan langsung dengan tameng-tameng tentara. Berhadangan dengan raut muka tentara yang dingin. Juga siaga.
Mereka tidak saling bertatapan mata. Tak perlu, memang. Mereka tak sejalan pikiran. Sang tentara, pasukan antihuru-hara itu, menghadang mereka masuk Gedung MPR/DPR. Sang mahasiswa menuntut Habibie turun takhta.
Kemal Jufri berdiri di antara mereka, menunggu. Kamera sudah terbidik dan… klik! Gerak yang ditunggu itu akhirnya keluar juga. Sang mahasiswa berteriak sekerasnya. Sang tentara entah mendengar atau tidak. Demonstrasi terus bergulir, korban berjatuhan.
"Kala itu adalah hari-hari panjang demonstrasi," kenang Kemal, yang pernah diganjar Award of Excellence dari Picture of the Year (POY) di Amerika Serikat—organisasi yang berpusat di Missouri yang memberikan penghargaan semacam World Press Photo (versi AS) tahun 1999. Kejadian itu diabadikan di sekitar Jembatan Slipi (di depan Jakarta Desain Center). Selain menuntut Habibie turun takhta, mereka menuntut penghapusan dwifungsi TNI dan menolak Sidang Istimewa MPR. Mahasiswa berusaha merangsek dari arah barat Gedung MPR/DPR. Foto bertajuk Water Canon ini sempat menjadi sampul muka majalah Far Eastern Economic Review (FEER).
Sementara itu, dari arah timur, mahasiswa tertahan di Jembatan Semanggi. Mereka dihadang tidak hanya oleh sepasukan, tapi juga oleh panser-panser militer. Entah siapa yang memulai, situasi saat itu memanas, batu sudah beterbangan ke arah tentara. Tiba-tiba air menyembur! Mahasiswa merunduk, melindungi muka dan kepala sebisa mungkin. Dengan kaus, syal, topi, tangan, bendera. Mereka merapatkan barisan.
Lagi-lagi Kemal Jufri berada di antara mereka. Untuk seorang fotografer yang belajar secara autodidak ini—dan sempat mengikuti lokakarya bersama fotografer Oscar Matuloh—penciuman Kemal terhadap momen terasah tajam dari pengalaman. "Saya harus siap dengan segala kemungkinan," ujar Kemal, yang saat itu masih menjadi fotografer AFP. Kemal sendiri saat itu siap dengan dua kamera. Satu dengan lensa tele, lainnya wide angle. Hasilnya prima. Di minggu yang sama dengan pemunculan foto Water Canon di majalah FEER, foto ini juga menjadi kover majalah Newsweek.
Masa-masa itu adalah masa yang tak ada hentinya bagi Kemal berada di tengah demonstrasi. Tapi pengagum fotografer James Natchwey, Sebastio Salgado, dan Eugene Richards ini justru merasa hidup setelah berada di belakang lensa kamera. Dirinya hampir tak pernah luput dari berbagai peristiwa kekerasan. Bahkan, saat tulisan ini dibuat pun, Kemal siap memotret Aceh yang kian di ambang perang.
Padahal dirinya sempat mengalami trauma ketika menjadi korban kekerasan aparat saat kerusuhan 27 Juli 1996. Tapi trauma itu tak sempat menyurutkan semangatnya untuk berada di tengah mereka, dan masa reformasi malah membakar semangatnya, "Karena saya harus menangkap gestur mereka saat protes," ujar Kemal, yang berencana menerbitkan buku Children of the East Timor, esai foto yang sempat dipamerkan di First Asian Photography Festival di Chobimela, Bangladesh, tahun 2000.
|