Lensa, sebagai Wakil Mata Sejarah |
Kamis dini hari, tanggal 21 Mei. Setelah beberapa hari berturut-turut saya dan rekan-rekan dari Antara memotret kerusuhan, penjarahan, pembakaran, kami semua merasakan akan ada peristiwa puncak yang bersejarah. Pagi itu, kami semua berkumpul di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru. Kami sudah mendengar bahwa Presiden Soeharto hari itu benar-benar akan mengumumkan pengunduran dirinya. Maka saya dan sembilan fotografer lainnya berbagi tugas. Ada yang di Istana, Gedung MPR/DPR, kawasan Kota, dan saya sendiri kebagian di jantung kota.
Ketika matahari mulai merambat naik, saya berjalan kaki. Suasana begitu sepi dan mencekam. Soeharto sudah mengumumkan pengunduran dirinya. Betapa sepinya jalan-jalan. Tak ada satu kendaraan pun lewat. Sampai di ujung Jalan Medan Merdeka Barat, saya melihat pemandangan yang sangat dramatis.
Pemandangan ini sangat kontras dengan situasi di Gedung MPR/DPR yang gegap-gempita. Suasana di sini jauh dari euforia. Yang ada justru rasa keterkungkungan. Aparat berjaga di setiap sudut. Truk-truk militer memblokir jalan menuju Istana dari arah Jalan Thamrin. Sedangkan di mulut Jalan Merdeka Barat, kawat berduri dipasang berlapis-lapis. Tidak cukup dengan itu, aparat memarkir tank baja militer tepat di tengah jalan. Menghunus dalam posisi siaga.
Saya tertarik merekam suasana keterkungkungan itu. Maka saya memutuskan masuk ke kolong tank baja itu, memotret ke arah Jalan Thamrin. Jalinan rantai roda baja tank itu menjadi bingkainya. Rasanya begitu dingin, sedingin suasana Jalan Thamrin saat itu.
Dalam hidupku, saya baru pertama kali menyaksikan betapa sepinya Jalan Thamrin. Mungkin tentara-tentara itu takut mahasiswa juga akan merasuk ke kawasan Istana.
Buat saya, buat kita semua, rentetan peristiwa lebih dari yang terlihat di permukaan. Mungkin lebih dari itu. Ini adalah sebuah titik paling bersejarah bangsa kita, Indonesia. Sebuah sejarah yang harus ditangkap dengan baik oleh lensa kami, sebagai wakil dari mata sejarah.
|