Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Fotografi

'Pukul 09.45'

Pukul lima subuh, saya dan teman-teman mahasiswa sudah berada di Gedung DPR," kata Saptono mengenang peristiwa tepat lima tahun silam. Seperti para mahasiswa yang menduduki Gedung DPR, Saptono, seorang fotografer kantor berita Antara, mencium aroma tegang yang meliputi Ibu Kota: Jakarta semakin panas, demonstrasi merebak luas, tapi Soeharto tetap bertahan di kursinya.

Setiap hari Saptono dan kawan-kawan mahasiswanya berharap dan kecewa. Mereka mendengar selentingan Soeharto akan mundur. Tapi, ketika hari mulai gelap, terbuktilah: itu cuma rumor. Namun, inilah 21 Mei 1998. Di Gedung DPR ia melihat rekan-rekan sekantornya yang ditugasi di sana. Rumor beredar tentang rencana lengser, tapi keraguan yang biasa muncul terasa tipis. "Insting kami percaya bahwa berita itu benar," kata Saptono.

Pukul 9 lewat 45 menit, segenap kegiatan di Gedung DPR seakan terhenti. Mata para mahasiswa, atau siapa pun yang berada di sana, tak lepas dari pesawat televisi. Soeharto akhirnya berbicara. Saptono ingat betul momen dramatis itu. Suasana tegang dan senyap mendadak riuh-rendah. Soeharto meletakkan jabatan, dan mahasiswa berteriak seraya mengacungkan tangannya, "Hidup mahasiswa!"

Ada yang berlarian, ada yang nyemplung sekalian mandi di kolam berair mancur di kompleks wakil rakyat itu. Tapi selintas mata Saptono menangkap satu adegan istimewa: para mahasiswa terharu dan berpelukan. Klimaktik, mewakili ekspresi para mahasiswa saat Soeharto jatuh. Tangan fotografer yang bergabung dengan Antara sejak 1992 ini cepat bekerja.

"Saya lupa siapa saja mereka dan dari kampus mana," kata lulusan Fakultas Pertanian UPN Yogyakarta ini. Tapi, "Esoknya saya lihat foto itu terbit di beberapa surat kabar. Saya juga tak menyangka, banyak orang menilai gambar saya sebagai foto yang monumental." Hari itu ia senang dan larut dalam atmosfer kemenangan. Rasa capek karena kurang istirahat terusir dalam sekejap. Sejarah telah melangkah, dan Saptono seorang individu di sela-sela perubahan besar.

Sosok yang sudah rajin memegang kamera sejak SMA ini masih merasakan klimaks yang terjangkau. Saptono amat akrab dengan para mahasiswa waktu itu. "Setiap ada isu-isu, pasti mereka mengontak saya. Begitu juga saya, kalau ada perkembangan baru pasti menghubungi mereka."

"Kekuatan mahasiswa saat itu masih murni. Mereka solid banget," ia mengenang. "Lewat televisi, kami memantau perkembangan yang terjadi setiap detiknya. Sebetulnya hubungan saya dengan kelompok mahasiswa sudah terbina sejak beberapa bulan sebelumnya, yaitu ketika demonstrasi menuntut turunnya Soeharto mulai merebak di mana-mana. Saat jatuh korban dari Universitas Trisakti, saya juga sedang meliput di sana."

Hari-hari yang lampau, bernas, dan memuliakan pengorbanan ketimbang ego pribadi dan kelompok itu telah berlalu. Tapi kamera mencoba mengekalkannya dan menawarkan kesaksian: itu pernah (dan bisa) terjadi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data