Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Fotografi

'Atju'

Di atas puing bangunan tokonya yang terbakar, Atju mengorek sisa-sisa reruntuhan dengan kedua belah tangannya. "Siapa tahu masih ada yang bisa dijual untuk membayar utang," ucapnya dengan air mata meleleh kepada Awi, sang suami.

Sepotong adegan yang terjadi Mei lima tahun lalu itu masih segar dalam ingatan Bea Wiharta. Di belakang Hotel Glodok City, pewarta foto yang kala itu bekerja untuk majalah Gatra tersebut secara tak sengaja menyaksikan sepasang suami-istri pemilik toko bumbu masakan Varia Baru, di daerah Glodok, sedang ribut bertengkar. Awi bersikukuh agar istrinya merelakan dagangan mereka yang sudah hangus terbakar. Sebaliknya, Atju bertahan mengumpulkan barang-barang yang masih tersisa di sela reruntuhan bangunan.

Saat itu Jakarta baru saja didera kerusuhan hebat. Massa yang mengamuk membakar serta menjarah beberapa pusat bisnis dan perumahan mewah, terutama milik masyarakat keturunan Tionghoa. Toko milik Atju dan Awi pun tak luput dari sasaran kemarahan massa.

Peristiwa tragis ini tentu saja menimbulkan trauma yang dalam bagi pasangan suami-istri itu. Apalagi, menurut Bea, mereka membangun toko ini dengan cucuran peluh dan air mata selama 30 tahun. Selain itu, satu-satunya bisnis yang mereka pahami hanya berjualan bumbu masakan.

"Insting wartawan saya langsung jalan. Ini menarik untuk dibuat cerita dalam penggalan-penggalan foto," kata Bea. Namun, merekam kisah Atju dan Awi dalam kamera awalnya bukan perkara mudah. Atju selalu mendelik marah saat ia mencoba menjepret wajahnya dengan kamera. Kadang ia melengos atau ngeloyor pergi saat lelaki yang telah mengenal dunia fotografi sejak bangku SMP tersebut akan membidik wajahnya. Ia bahkan sempat diusir berkali-kali oleh Atju. "Ngapain wartawan ke sini-sini," ucapnya seperti ditirukan oleh Bea.

Namun, semangat pewarta foto yang menggeluti dunia ini sejak tahun 1990-an tersebut tak pupus begitu saja. Bukannya jera, ia malah tambah sering menyambangi keluarga keturunan Tionghoa tersebut. Sejak pagi hingga sore menjelang, ia selalu mengekor ke mana pun pasangan ini pergi. Beruntung sikap sang suami, Awi, lebih santai dan terbuka, sehingga jalan untuk masuk ke keluarga ini jadi lebih mulus.

Selang satu minggu kemudian, Atju akhirnya pasrah. "Pada hari ketujuh, ia mau saya foto," tutur lelaki yang kini bekerja untuk kantor berita Reuters ini. Dalam film hitam-putih, ia merekam setiap kejadian yang dialami keluarga ini, mulai dari puing bangunan yang terbakar hingga toko yang akhirnya berdiri kembali. Bea juga mengabadikan setiap proses yang dilewati oleh pasangan suami-istri ini. Ada adegan saat mereka tetap gigih berjualan di sela-sela bangunan yang terbakar, mengupas bawang dan meracik bumbu untuk dijual kembali, bahkan mengantar sendiri barang dagangan ke langganan dengan berjalan kaki atau mengengkol sepeda tua. Dan tanpa harus berkata banyak, esai foto Bea bercerita lebih dari kumpulan kata-kata itu sendiri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data