Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Fotografi

Dua Menit yang Mengubah Sejarah

Tanggal 12 Mei 1998, pukul 11.00. "Saya di sebuah sudut Jalan Gatot Subroto depan gerbang barat Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, yang menghadap jalan layang tol. Demonstrasi ribuan mahasiswa yang bersikeras menuju gedung DPR terhadang lapisan barisan ratusan aparat polisi bersenjatakan pentungan dan tameng. Atmosfernya panas. Ada rumor seorang polisi luka parah dipukuli mahasiswa di Bogor."

Julian Sihombing, 44 tahun, fotografer harian Kompas, membuka kembali lembar ingatannya lima tahun lalu. Matahari mulai lengser ke barat, hiruk-pikuk demonstrasi memanas. Mendekati pukul 5, gerimis dan hujan turun. Mahasiswa mundur dan balik badan. Mendadak aparat merangsek maju dan menyerang. Hujan mereda, tapi aparat tetap beringas. Julian tak habis pikir: kenapa jadi begitu, padahal sebelumnya mahasiswa menaruh bunga-bunga di moncong senapan, lambang perdamaian.

Lulusan FISIP Universitas Indonesia yang pernah berkarier di majalah Jakarta-Jakarta sepanjang 1985-1991 ini kaget. Di antara buntut barisan mahasiswa yang kocar-kacir, seorang mahasiswi terjatuh. Tertinggal temannya. "Saya ambil gambar mahasiswi terkapar itu sebanyak enam kali dengan Nikon FM-4." Spontan, karena ia pikir puncaknya di situ. Momentum terkaparnya mahasiswi itulah titik temu antara mahasiswa yang lari dan polisi yang bernafsu mengejar.

Mahasiswi itu mungkin diterjang polisi. Atau dipentung. Jatuh karena shocked. Matanya terbelalak, mulut agak terbuka, badan sedikit kelojotan. Seperti mati terkapar di aspal. "Gadis itu masih hidup, tapi saya tak sempat menolong," tuturnya. Ia sempat melihat sebuah baner demo tergeletak di dekat gadis itu. Tapi ia lalu buru-buru naik ke jembatan penyeberangan karena ada keramaian mahasiswa tengah dipukuli belasan aparat.

Julian bertambah galau ketika pukul 7 malam ia menembus masuk kampus yang tengah dikepung aparat. Ia mendengar teriakan-teriakan, "Ampun, Pak. Ampun, Pak." Sementara itu, dari luar pagar, tembakan masih menyalak: dar-dar-dar. Dengan peluru tajam. Mereka tak berdaya, tapi yang di luar masih beringas. "Di dalam kampus yang kacau itu saya dengar mahasiswa tertembak," kata Julian.

Menjelang tengah malam, sosok yang mengenal fotografi sejak SMP ini kembali ke kantor, melihat tayangan berita di CNN. Astaga, ia melihat mahasiswi yang terbaring itu sehabis dijepretnya. Ada seorang aparat polisi yang menendang mukanya satu kali. Lalu tampak seorang komandan aparat polisi menghampiri dan menolong.

Keesokan hari, 13 Mei, ia menuju ke Tanah Kusir mengikuti pemakaman korban penembakan di Kampus Trisakti. Foto itu muncul di halaman 11 Kompas. Di latar belakang mahasiswi terkapar itu tampak aparat mengejar mahasiswa. Juga terlihat di kejauhan tukang teh botol lagi ngumpet dan wartawan berlarian.

Setiba di daerah Grogol, rupanya Roxy sudah mulai rusuh. Sampai ke arah Jelambar. Lalu, 14 Mei pagi hingga malam, seluruh Jakarta hangus. Tanggal 15 Mei vakum karena perusuhnya capek. Sepi sekali dan mahasiswa bergerak menduduki DPR. Begitu terus, hingga akhirnya Pak Harto mengundurkan diri.

"Saya menghabiskan 20 rol sepanjang hari-hari itu. Saya selalu terkenang dengan hati membara bila ingat demonstrasi Trisakti. Stasiun RCTI kalau memperingati reformasi selalu menampilkan foto saya. Jadi seperti simbol awalnya reformasi," ia mengenang.

Efek foto itu besar. Guntingannya dibawa-bawa orang. Bahkan dipakai lawan-lawan politik Pak Harto. Banyak orang menyangka mahasiswi itu—belakangan saya tahu namanya Kiki—tewas. Padahal di caption tidak tertulis tewas, melainkan terkapar. "Saya tak bakal melupakan momentum sekejap mengabadikannya," kata fotografer yang meraih penghargaan Adinegoro untuk foto jurnalistik 1988 dan 1991 itu. Dua menit itu telah ikut mengubah sejarah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data