Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Fotografi

Kamera yang Menyibak Selubung

Tiga puluh dua tahun Soeharto seolah membebat dirinya dalam sehelai selubung kedigdayaan. Dia menabung kekuasaan, memperkuat diri, menyimpan rahasia-rahasia kelemahannya dalam ruang-ruang pribadi—tanpa bisa dikuak oleh siapa pun. Mengiringi rezim Orde Baru yang sekarat pada awal 1998, harga bahan bakar minyak melonjak, inflasi menggila, nilai rupiah melorot seperti tali kolor yang putus mendadak. Mahasiswa berdemo di jalanan Ibu Kota dalam amarah yang membakar udara Januari yang lembap. Tapi siapa, pada masa itu, yang berani menyibakkan selubung penguasa Orde Baru yang begitu berkuasa?

Alex Lumi—sadar atau tidak—melakukannya. Dia melakukannya melalui bahasa setiap juru foto: lensa kamera. Dengan ketajaman intuisi serta kepekaan mata dan hati, Alex Lumi dan kamera tuanya bercerita kepada dunia bahwa kedigdayaan Soeharto bukanlah sebuah keniscayaan. Pada 15 Januari 1998, empat bulan sebelum kejatuhannya, Soeharto meneken surat persetujuan berutang (letter of intent) kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Peristiwa itu berlangsung di ruang belakang kediaman pribadi Soeharto, di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.

Entah berapa jarak antara sang fotografer dan obyek saat gambar itu diambil. Berjudul Indebted, Alex tampaknya merekam peristiwa bersejarah itu dengan kepekaan yang saksama: Soeharto menunduk di atas surat yang akan ditekennya. Di samping kanannya tegaklah Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus yang jangkung—dengan tangan bersedekap, wajah tanpa emosi, sembari menatap lekat ke arah sang Presiden. Sekitar lima puluh wartawan hadir di Istana Cendana hari itu. Tapi Alex yang menghasilkan Indebted—sebuah karya yang, mengutip kata-kata fotografer Yudhi Soerjoatmodjo, menjadi foto pertama dalam sejarah Orde Baru yang memperlihatkan Soeharto dalam posisi kalah dan menurut.

Siapakah Alex Lumi? Bagaimana pergaulannya dengan kamera? Pria ini lahir pada 15 Desember 1934 di Tondano, sebuah kota di tepi Danau Tondano yang permai di Sulawesi Utara. Dia bergabung dengan harian The Jakarta Post pada Maret 1983 hingga pensiun pada 1990. Tapi, The Jakarta Post masih menggunakan jasanya hingga 2001. Sebelum itu, Alex Lumi adalah pewarta foto di kantor berita AP serta IPPHOS. Ayah lima anak ini meninggal pada 27 April 2002 ketika tubuhnya tak lagi kuat menahan serangan kanker paru yang sudah mencapai stadium III.

Dalam pengantar fotografi di TEMPO ini, Yudhi Soerjoatmodjo memberi catatan betapa Alex berhasil "membekukan" sebuah momen yang membuat kita melihat sesuatu yang amat berbeda dengan citra Soeharto yang telah dibangun selama 30 tahun: "Untuk pertama kalinya kita melihat tiran yang sepertinya tak (akan) pernah kalah tersebut akhirnya tunduk pada sebuah kekuasaan lain. Pada saat itu yang hancur bukan hanya Soeharto pribadi, tapi juga Soeharto yang ada dalam bayangan kita sendiri." (Lihat, Dalam Fotografi, Napas Kita)

Hasil kerja ini tentu tak lepas dari ketekunan Alex yang mencengangkan serta stok kesabarannya yang "tak terbatas". "Untuk memotret cucunya saja, dia perlu waktu paling sedikit 30 menit untuk observasi sebelum memulai," tutur istrinya, Tilly Lumi. Kecintaan Alex pada fotografi dan kamera disaksikan dari dekat oleh sang istri selama 36 tahun percampuran mereka. "Kamera adalah istri kedua suami saya," ujar Tilly kepada TEMPO. Alex menolak bujukan Tilly agar mencari pekerjaan lain yang "lebih menjanjikan" uangnya. Fotografi dan Alex adalah sebuah "percintaan sampai mati". Beginilah pesannya kepada Tilly: "Kalau saya sudah berlalu, saya ingin jerih payah saya akan dikenang banyak orang dan tidak berlalu begitu saja."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data