Dalam Fotografi, Napas Kita |
Lima tahun setelah gerakan reformasi yang menjatuhkan rezim Soeharto, momen-momen penting dari periode itu terus bernapas dalam rekaman gambar para pewarta foto. Inilah kekuatan fotografi: berbeda dengan sinema dan video yang riuh dengan gerak dan suara, dalam kebekuan dan kebisuannya fotografi justru memberi ruang bagi manusia untuk menggali lapisan-lapisan makna dari balik gambar dan dari balik dirinya sendiri.
Guntingan foto itu masih saja dibawa-bawa orang. Bahkan, setiap kali memperingati gerakan reformasi, sebuah stasiun televisi selalu menayangkan ulang gambar tersebut: sebuah foto yang memperlihatkan seorang mahasiswi terkapar dengan mata terbelalak, sementara di sekitarnya para mahasiswa, wartawan, dan penjaja minuman kocar-kacir dikejar aparat bersenjatakan pentungan dengan wajah beringas.
Foto yang direkam oleh fotografer Julian Sihombing di sebuah sudut Jalan Gatot Subroto, di depan gerbang barat Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, itu masih saja melekat kuat dalam benak orang. Malah, barangkali banyak di antara kita yang bukan cuma mengenang imaji itu, tapi juga masih ingat apa yang sedang kita lakukan saat pertama kali melihatnya di halaman 11 harian Kompas, tanggal 13 Mei, lima tahun silam. Barangkali ada yang melihatnya dengan mata setengah mengantuk sehabis tidur atau bercinta semalaman, atau sembari buru-buru menyeruput kopi dan menyabet setangkup roti sebelum berangkat ke kantor, atau di sela-sela deringan telepon dan jeritan anak yang terlambat sekolah, atau di atas kendaraan yang terjebak kemacetan lalu-lintas.
Dan barangkali banyak pula di antara kita yang pada saat itu lantas bertanya dalam hati, pada diri sendiri, dengan perasaan cemas campur harap: inikah awal dari keruntuhan itu?
Konon, momen-momen paling penting dalam hidup manusia seperti terus hidup dalam lembaran foto. Satu setengah abad lebih setelah ditemukannya proses fotografi, bisa dikatakan bahwa mungkin tak ada lagi peristiwa—mulai dari yang paling sepele hingga yang menyentuh orang banyak—yang tak diabadikan oleh seseorang dengan kamera fotonya. Sejak itu, pengalaman kita melihat kehidupan dan kematian, perdamaian, dan peperangan adalah lewat mata seorang fotografer.
Revolusi kemerdekaan bangsa ini, misalnya, hanya bisa kita pahami dan rasakan kembali terutama melalui karya-karya fotografer IPPHOS, Antara, dan Berita Film Indonesia. Demikian pula peperangan yang paling awal dan paling dahsyat dalam zaman modern, dari perang saudara di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19 hingga Perang Teluk di akhir abad ke-20, secara khusus ditandai oleh kehadiran fotografer di medan pertempuran. Perang Vietnam di tahun 1960-an malah disebut-sebut sebagai sebuah peristiwa yang berlangsung di depan kamera para juru foto, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa kekalahan AS di sana antara lain adalah sebagai akibat ulah para wartawan yang membombardir pembacanya dengan gambar-gambar keganasan dan kebiadaban yang seperti tiada akhirnya.
Memang, ada suatu waktu ketika para wartawan film dan televisi nyaris mengancam para pewarta foto dari posisinya yang unik ini. Tapi, seperti yang dibuktikan oleh Julian Sihombing dan para fotografer lainnya dalam lembaran khusus berikut ini, kelebihan fotografi adalah karena medium ini masih merupakan alat penggugah yang barangkali belum ada tandingannya sejauh ini.
Berbeda dengan karakter media sinema dan video, yang selalu berupaya menghadirkan kembali realitas yang direkamnya secara lebih komplet (melalui gerak dan suara), fotografi yang cuma sepotong-sepotong itu hanya bisa menjadi lengkap melalui keterlibatan yang membacanya. Namun, dalam "kekurangan"-nya ini, fotografi malah sering kali berhasil memancing imajinasi dan kenangan kita yang paling dalam, dan di situlah letak kekuatannya yang sesungguhnya.
Demikianlah, rekaman foto almarhum Alex Lumi di kediaman Presiden (saat itu) Soeharto, pada 15 Januari 1998, menjadi lebih dari sebuah liputan seremonial belaka yang di zaman Orde Baru dulu banyak menghiasi halaman koran kita. Dalam sebuah bidikan yang seolah-olah sederhana itu, fotografer senior The Jakarta Post tersebut memperlihatkan Soeharto sedang membungkuk untuk menandatangani kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Dana Moneter Internasional. Di sampingnya tampak Michel Camdessus, direktur pelaksana lembaga tersebut, berdiri tegap dengan wajah kaku, tanpa senyum, dan tangan yang terlipat di dada seolah-olah ingin memastikan bahwa Soeharto benar-benar akan mematuhi perjanjian itu. (Walau belakangan Camdessus menjelaskan bahwa, di negaranya, sikap semacam itu justru dianggap sebagai perilaku yang menghormati rekan bicara.)
Dalam rekaman video, seluruh peristiwa ini barangkali takkan lebih dari sebuah sekuens beberapa detik yang melintas di depan mata pemirsa dengan begitu saja. Dalam fotografi Alex Lumi, ia justru menjadi sebuah "momen" yang menghentikan kita. Melalui gambar yang dibisukan dan dibekukan itu, kita tiba-tiba dipaksa berhadapan dengan perbedaan yang begitu mencolok antara Soeharto yang kita saksikan dalam foto dan apa yang telah telanjur terbangun dalam benak kita selama 30 tahun kekuasaannya.
Untuk pertama kalinya kita melihat tiran yang sepertinya tak (akan) pernah kalah tersebut akhirnya tunduk pada sebuah kekuasaan lain. Pada saat itu yang hancur bukan hanya Soeharto pribadi, tapi juga Soeharto yang ada dalam bayangan kita sendiri.
Penghancuran-penghancuran semacam itu yang menjadikan berbagai karya foto dalam lembaran khusus ini istimewa. Gino Franki Hadi, misalnya, memotret serombongan mahasiswa yang tidur-tiduran di aspal jalanan, dengan wajah riang dan tangan yang melambai, persis di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Foto ini tak ubahnya sebuah rekaman khas dari suatu perjalanan tamasya. Yang membuat kita tersentak adalah kenyataan bahwa para mahasiswa yang berpose itu baru saja mengecoh para pengawal kepresidenan dan berhasil menembus penjagaan ketat sebuah ruang yang selama ini dianggap sakral dan menakutkan oleh ratusan juta rakyat Indonesia.
Tengok pula karya Bea Wiharta dan Hermanus Prihatna. Bea, yang saat itu masih bekerja untuk majalah Gatra, membuat sebuah esai foto tentang Awi dan Atju, suami-istri pedagang yang tokonya hangus dibakar massa dalam kerusuhan Mei 1998 di daerah Glodok, Jakarta. Sementara pewarta foto lain cuma asik mendokumentasikan penjarahan dan pembakaran yang terjadi, Bea justru berupaya menggugah pemahaman kita yang sudah telanjur terpatri tentang pedagang dan masyarakat keturunan Tionghoa. Melalui esai fotonya, Awi dan Atju digambarkan bukan sebagai sumber kerusuhan, apalagi sekadar sebagai korban, melainkan sebagai pejuang—sebagaimana setiap orang yang bertahan dengan cucuran peluh dan air mata kita sebut sebagai pejuang, apa pun profesi, warna kulit, dan asal-usulnya.
Karena itulah apa yang dipotret fotografer Antara, Hermanus Prihatna, pada Minggu siang di ujung bulan November 1998 menjadi begitu penting. Dalam peristiwa yang disulut oleh pertikaian antaretnis di kawasan Ketapang, Jakarta, ia mendokumentasikan seorang anggota Pasukan Khas Angkatan Udara RI membopong biarawati tua dari kobaran api yang hendak melahap sekolah Santa Ursula di bilangan Pasar Baru. Di tengah banjir gambar yang semakin memperkuat persepsi kita tentang tentara sebagai sosok tanpa wajah (dan karenanya tanpa nurani), foto ini mengajak kita supaya berpikir ulang tentang apa yang kita lihat, apa yang terkunci dalam kenangan kita, dan apa yang kita percayai dari semua itu.
Itulah yang menjadi keunggulan fotografi. Medium ini akan selalu membutuhkan kita, pembacanya, untuk menggali dan menembus lapisan-lapisan makna yang ada di balik gambar dan di balik diri kita sendiri. Dan itu pula yang menjadi benang merah dari karya para pewarta foto yang berasal dari tiga generasi yang berbeda tersebut. Melalui medium fotografi, mereka bukan sekadar mencoba mendeskripsikan ulang tentang berbagai peristiwa yang (pernah) terjadi, tapi terlebih lagi mereka memberi ruang bagi manusia untuk menemukan dan mendengarkan suaranya masing-masing.
Maka, tidaklah mengherankan jikalau, bertahun-tahun ke depan, napas dan semangat kita masih akan terus berembus dalam gambar-gambar ini.
Yudhi Soerjoatmodjo, Fotografer dan Kurator
|