|
Dili, 25 Agustus 1999. "Saya melihat beberapa orang berpakaian hitam-hitam, lengan panjang bertuliskan Aitarak. Mereka menyelipkan senjata rakitan di pinggang, dan tergopoh-gopoh naik sepeda motor." Eddy Hasby, fotografer harian Kompas itu, mengisahkan satu episode dalam kariernya, lima tahun silam.
Ia mencium "sesuatu", tapi tak tahu yang tersembunyi di balik ketergesa-gesaan mereka. Empat hari lagi jajak pendapat, dan semua tahu itulah jatah terakhir kampanye bagi kubu pro-otonomi. Tak lama Hasby menebak-nebak. Dari seorang kawan, ia memperoleh kabar: bentrokan di perempatan Jalan 15 Oktober, Becora—basis wilayah pro-kemerdekaan. Tapi, di sekitar lokasi, aparat keamanan memblokade jalan, dan melarang dia masuk.
Sosok yang pertama kali bersentuhan dengan dunia jurnalistik di harian Bernas pada 1989 ini berhasil menyelusup ke perempatan Jalan 15 Oktober—satu daerah yang punya banyak sejarah bentrok. "Hari itu saya membawa tiga kamera, isi film hitam putih, berwarna, dan kamera digital," tutur fotografer 37 tahun yang lantas bergabung ke Kompas pada 1994 itu.
Ada dua hal yang susah dilupakan. Di sanalah, "Sebutir peluru berdesing menyerempet ke pohon tempat saya berlindung, beberapa sentimeter di atas kepala. Untunglah, saya berhasil lari menyelamatkan diri. Tuhan masih melindungi saya," ucap fotografer yang pada 1998 profilnya sempat muncul dalam acara Who's Who televisi NHK Jepang itu. Ia bercerita tentang hujan peluru dari senjata rakitan—ada juga dari senjata otomatis organik laras panjang yang dibawa kubu pro-otonomi.
Hal kedua, seorang pemuda bernama Bernardino Guterres, 25 tahun. Alkisah, dalam pertempuran itu terdesaklah Bernardino dan beberapa rekannya. Mereka berlari cepat, tapi—entah mengapa—ke arah yang salah: ke Jalan Audan yang dijaga 20-an petugas Brimob. Sambil berlari, Bernardino sesekali melempar batu ke arah lawannya. Tapi ia berhadapan dengan barisan Brimob dan tak melihat jalan keluar lain kecuali menerobosnya. Ia bersitegang dengan aparat. Saat itu, Hasby berada di antara petugas dan kupingnya menangkap teriakan provokator yang dialamatkan ke Bernardino.
Mula-mula petugas menembakkan senjata laras panjangnya ke udara. "Dari rentetan bunyi senjata itu, saya mendengar ada bunyi dua letusan yang terlambat: dor, dor! Ketika saya menoleh ke belakang, terlihat Bernardino terkapar dan berlumuran darah. Batu di genggaman tangannya terlepas, begitu juga dengan sandal jepit di kakinya. Saya sangat terperanjat menyaksikan hal itu. Tapi saya terus merekam semuanya."
Bentrokan itu usai, tapi setengah jam setelah itu Hasby terdiam, tercenung di tempat itu. "Seharusnya Bernardino bisa dihalau tanpa letusan senjata. Apalagi ia sudah menjauh dan lari ke belakang aparat." Perceraian tak terjadi dengan hati enteng, tapi tentu tak perlu dengan darah. Ia ingat tubuhnya makin lunglai setelah mengetahui bahwa sang korban adalah anggota keluarga sahabatnya di Dili.
|