Pagi Berdarah di Ketapang |
Tanggal 22 November 1998. Minggu pagi, suasana Ketapang, Jakarta Pusat, tengah direbus api yang bergolak. Panas. Ketegangan malam hari sebelumnya, saat terjadi perkelahian seru antargang—kelompok pemuda Ambon dan pemuda Ketapang—masih pekat tersisa.
Ahad pagi itu pula, sekitar 40 pemuda Ambon kembali mendatangi Ketapang, ingin melanjutkan amarah yang belum tuntas. Di tengah keributan, sebuah kaca jendela masjid pecah. Kabar simpang-siur segera berseliweran, ada yang mengatakan ada penyerbuan; ada pula yang mengatakan ada pembakaran masjid. Penduduk muslim pun bergegas berhamburan keluar. Corong-corong surau dan masjid digunakan untuk membangun solidaritas warga. Seruan terutama berisi imbauan untuk ikut serta melawan para preman dan menuntut ditutupnya sarang pelacuran dan perjudian yang ada di kawasan Ketapang.
James Nachtwey, fotografer terkenal asal New York, kala itu sedang menginap di Hotel Cemara, Jakarta Pusat. Dia mendengar informasi keributan Ketapang dari radio operator taksi yang sengaja dia beli. Hidung tajam fotografer andal ini langsung bekerja. Tanpa membuang waktu, Nachtwey—bersama tukang ojek sekaligus pemandunya, Dwi Abi Yantoro—meluncur ke Ketapang. Mereka berdua mengendarai sepeda motor dan keluar-masuk gang di kawasan yang padat penduduk ini. "Kami berputar-putar di situ sejak pukul 6 pagi," kata Abi kepada TEMPO.
Memasuki pukul 9 pagi, Nachtwey ada di Gang Pembangunan I. Saat itu, seorang pemuda Ambon, bernama Jimmy Siahae, berlari kencang ke arah Nachtwey berdiri. Dari kejauhan, tampak 20-an orang yang mengacungkan berbagai jenis senjata tajam seperti pisau, celurit, parang, keris, pedang, juga golok.
Nahas tak bisa ditolak, Jimmy jatuh. Kepalanya langsung disambar seorang lelaki bergolok. Nachtwey sempat berusaha meredakan kemarahan si lelaki ini. "Saya mengatakan," tutur Nachtwey dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, "Anda tak bisa membunuh hanya karena dia orang Ambon."
Sejenak, harapan muncul ketika beberapa lelaki yang marah tercenung mencerna kalimat Nachtwey. Tetapi mendadak jumlah massa membengkak dan kemarahan kian mengangkasa. Nachtwey mencoba menghentikan massa. Dua kali massa seakan-akan hendak menghentikan serangan. "Tapi mereka menunjukkan sikap tak bersahabat pada saya. Di sisi lain saya hanya seorang diri. Saya juga tak menguasai bahasa setempat," kata Nachtwey kepada majalah Pantau.
Lalu, terjadilah peristiwa sadistis itu. Leher Jimmy Siahae ditebas sampai putus. Usai membunuh, lelaki ini menangis merangkul kawannya.
Nachtwey memang tak berhasil menyelamatkan nyawa Jimmy. Tapi peristiwa yang berlangsung sekejap itu—tak lebih dari 10 detik— dia rekam dengan kamera. Matanya nyaris tak berkedip, tangannya stabil tak goyah. Padahal, sebagian kerumunan orang sudah melarang Nachtwey memotret. "No photo, no photo," teriak orang-orang yang sedang marah itu. Nachtwey sempat mundur sejenak tapi dia kemudian maju lagi membidikkan kamera.
Tragedi pembantaian Ketapang, yang kelak meraih penghargaan World Press Photo 1999 itu, berbuntut panjang. Pada hari yang sama 22 gereja dirusak, dijarah, dan dibakar; 6 sekolah dirusak dan dibakar, 1 musala dibakar, 2 ruko dirusak, 16 mobil dirusak. Nyawa melayang tercatat ada 14 orang.
Yang menyedihkan, hingga kini tak pernah ada proses pengusutan dan pengadilan guna menghukum para pelaku kerusuhan ini. Bahkan, seperti api yang disiram bensin, permusuhan yang mengusung sentimen SARA—yang sangat dijaga di masa Orde Baru—muncul di berbagai tempat.
Tepat satu pekan setelah insiden Ketapang, pecah kerusuhan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Beberapa masjid musnah dibakar dan sebagian permukiman penduduk muslim luluh-lantak.
Tiga bulan setelah insiden ini, di tengah suasana Idul Fitri, meletus konflik antarumat beragama di Batu Merah, Ambon, Maluku. Sampai berbulan-bulan kemudian, api konflik terus merambat ke seantero Maluku hingga menelan korban ribuan jiwa. Sebuah konflik etnis paling berdarah di negeri ini, yang baranya siap meledak bahkan sampai hari ini.
|