Perjuangan di Bawah Semanggi |
Semanggi, 11 November 1999. "Saya sedang siap-siap menyambut liputan peristiwa besar," kata Rully Kesuma, fotografer Majalah TEMPO, mencoba mengais-ngais kejadian lima tahun lalu di kedalaman memorinya.
Perencanaan sudah rapi. Ada kamera tersimpan di dalam tas. Ada dasi, kemeja, dan celana licin untuk memenuhi syarat protokoler. Itulah "amunisi" buat meliput pidato pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie, yang dimulai pukul 19.00 di Gedung MPR/DPR, Senayan. Tapi Rully, 38 tahun, gelisah.
Jakarta rusuh. Rully tahu, banyak fotografer sekantor yang ditugasi meliput. Tapi, pukul 14.00, ia meluncur ke lokasi yang menjadi titik api. Kelompok anti dan pro-Sidang Istimewa (SI) sama-sama bergerak ke kawasan Semanggi. Potensi bentrokan massa terbuka lebar. Kelompok Pam Swakarsa, yang berusaha mengamankan SI, saling ejek dengan massa dan mahasiswa yang menentangnya.
Bentrokan tak seimbang pecah. Kubu Pam Swakarsa akhirnya lari kocar-kacir, beberapa di antaranya luka parah dikeroyok massa yang lebih besar. Rully, sarjana pertanian jurusan hortikultura yang berkecimpung di fotografi, terus memotret. "Saat itu ketahanan fisik saya betul-betul diuji," tuturnya. Para fotografer bergerak di antara peluru-peluru karet dan hardikan petugas yang bersenjatakan tongkat.
Ketegangan kembali terjadi ketika mahasiswa mencoba mendekati Jembatan Semanggi. Tembakan gas air mata, peluru karet, meriam air ditujukan ke arah para mahasiswa. Kali ini, sosok yang mengenal kamera saat kuliah di Universitas Bandung Raya (Unbar) ini mencari posisi yang tepat. Ia ingin memotret mahasiswa dan aparat dalam satu bingkai. "Saya melihat beberapa mahasiswa berusaha mencabut rambu lalu-lintas sambil menantang tentara."
Provokasi dilancarkan, bom-bom molotov dilontarkan. Tentara membalas dengan tembakan gas air mata, tapi tidak beringsut dari posisi. Rully berusaha berdiri di tempat yang memungkinkannya melihat mahasiswa sekaligus aparat. Fotografer yang pernah bekerja di harian Mandala, Surya, lantas bergabung dengan TEMPO pada 1991 ini lalu memanjat jembatan penyeberangan.
Dari atas, ia melihat beberapa mahasiswa berlutut. Mereka mengangkat kedua tangan ke arah tentara yang sedang mengarahkan senapan gas air mata. Tapi tak jelas apakah mereka benar-benar menyerah. Mungkin ketidakberdayaan, mungkin juga sekadar cemooh terhadap tentara yang menghadapi mahasiswa dengan peralatan tempur.
Hari itu Rully bolak-balik Semanggi-Gedung MPR/DPR. Di antara empat bersaudara dalam keluarganya di Bandung, Rully-lah wartawan satu-satunya. Rully bercita-cita jadi petani, dan mencoba mewujudkan itu. Ia meneruskan kuliah ke fakultas pertanian. Dan setelah lulus, ia sempat menjadi petani bunga potong. Namun, di sela-sela waktunya bertani, ia tergiur pada fotografi—sebuah bidang yang mencoba mengabadikan sesuatu yang bergerak dan berubah: seperti patahnya pemerintahan B.J. Habibie di tengah jalan.
|