'Meraih Tangan untuk Bidadari' |
Hari itu seperti hari Minggu biasa di bulan November 1998. "Saya mengajar seperti biasa di Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pagi itu kerusuhan baru saja terjadi di Jalan Ketapang, tak jauh dari tempat saya di daerah Pasar Baru, Jakarta."
Ketika bertutur, suara fotografer Hermanus Priatna, 38 tahun—sosok yang sudah menyaksikan berbagai peristiwa menegangkan di era itu—datar. Tapi sekonyong-konyong ia menangkap sesuatu yang tak biasa. Seorang siswa nyelonong masuk. Napasnya tersengal, tapi sempat dikisahkannya massa bergerak dari Ketapang ke sekolah Santa Ursula.
Hermanus menghambur keluar. Disambarnya kamera Nikon F3, disambutnya iring-ringan massa yang beringas tak jauh dari Antara. "Saya lupa mereka membawa senjata tajam atau tidak. Tapi saya lihat sebagian orang membawa tongkat kayu," katanya. Puluhan orang, entah dari mana datangnya, mencoba untuk masuk ke gedung sekolah dengan membongkar pintu gerbang secara paksa.
Tak ada orang yang berani mendekat, tapi Hermanus nekat. Ia memotret, dan orang-orang yang mengamuk itu diam saja. "Mungkin mereka tahu saya wartawan," katanya. Mereka merusak bermacam benda, tapi tak menyentuh para siswi dan suster yang ada di sekolah dan asrama. "Mungkin tujuan para perusuh itu sebatas merusak dan menghancurkan bangunan," Hermanus mengenang.
Ia melihat para pelajar putri dan suster panik dan menjerit-jerit. Sebagian bangunan sudah terbakar. Hermanus memang sempat bingung melihat Paskhas (Pasukan Khusus TNI Angkatan Udara) yang tengah berjaga di sekitar Masjid Istiqlal tak bergerak. Massa baru angkat kaki setelah sejumlah personel Kostrad datang mendekat. Tapi bukan itu yang jadi perhatian utamanya.
Tiba-tiba matanya hinggap pada sepotong adegan: seorang anggota Paskhas berlari sambil menggendong seorang suster Santa Ursula yang renta. Hermanus tak ingat siapa sang suster yang ia taksir usianya di atas 70 tahun itu. Tapi tangannya bergerak cepat, merekam peristiwa itu dengan lensa 2450.
"Fotonya kurang tajam," Hermanus mengaku. Tapi itulah foto yang istimewa. Hermanus memang tidak pernah belajar fotografi secara resmi. Ia kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dan setelah lulus, selama 6 bulan sempat pula ia bergabung dengan Badan tenaga Atom Nasional (Batan). Tapi itu ternyata kalah menarik dibanding fotografi. Ia sudah mengenal kamera sejak usia belasan tahun, dan mulai menenteng tustel saat SMA dulu. "Namun, saat itu saya pakai kamera saku untuk memfoto," tuturnya.
Hermanus kini bersyukur. Dialah satu-satunya wartawan yang menyaksikan kejadian tersebut. Ia merasa dirinya beruntung. Biasanya ia diam di kantornya di Wisma Antara, bukan di Pasar Baru. Kini ia tahu foto itu dipasang di beberapa media massa: Associated Pers (AP), Suara Pembaruan, Jakarta Post, dan Asiaweek. "Kabarnya, gambar itu juga sempat dilihat oleh Paus Yohanes Paulus II," katanya. Dari seorang suster di Santa Ursula, ia mendengar Paus mengirimkan ucapan keprihatinan.
|