Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Fotografi

Sebuah Titik dalam Perjalanan Kesenian Indonesia

Reformasi seni dimulai dari fotografi. Meski fotografi (apa pun alirannya, termasuk jurnalistik) selalu gamang meletakkan dirinya di dalam dunia kesenian, adalah fotografi yang kemudian memulai sejarah itu. Mungkin dengan sebuah "pembaruan" teknis, tetapi melalui sebuah pencerahan. Melalui foto, kita semua, mata warga Indonesia, kemudian menyaksikan momen-momen penting dan bersejarah melalui foto.

"Inilah kekuatan fotografi: berbeda dengan sinema dan video yang riuh dengan gerak dan suara, dalam kebekuan dan kebisuannya fotografi justru memberi ruang bagi manusia untuk menggali lapisan-lapisan makna dari balik gambar dan dari balik dirinya sendiri." (Dalam Fotografi, Napas Kita, Yudhi Soerjoatmodjo) Karena itu, belasan foto yang terpilih sebagai Ikon Foto Reformasi adalah wakil dari mata dan sejarah.

Bangkitnya kebudayaan Cina di Indonesia juga mengawali napas baru dalam kekayaan seni Indonesia. Selama 32 tahun sosok Cina—budaya ataupun peranakan—selalu terletak di antara dua alam di negeri ini: ada dan tiada. Percikannya terasa di mana-mana, tapi pengakuan terhadapnya nyaris hampa. Bakpao, bakso hadir di meja makan, tapi soal kesenjangan kelas ekonomi dan titik-titik perbedaan lain lebih mencolok mata.

Remy Silado, budayawan yang rajin membahas kultur Cina perantauan dalam fiksi ataupun semi-fiksi, menulis sebuah kolom tentang Cina di edisi reformasi ini. Di situ ia menarik satu kesimpulan: penjajahan dan penganiayaan kultural Orde Baru baru saja berlalu. Ia memang tak menyebut berakhir. Tapi, inilah yang terjadi dalam sebuah reformasi, suatu perubahan yang tidak begitu mulus. Ada jalan terjal dan berkelok-kelok, ada pula "perangkap" yang sekonyong-konyong bisa menggiring perubahan itu kembali ke titik nol.

Kaum reformis tengah menggapai sistem yang tak diskriminatif (sekalipun tak bisa dipastikan itu adil). Sekelompok sejarawan akan menulis sejarah yang tidak didominasi oleh semangat pembenaran para penguasa, sebagaimana buku Sejarah Nasional Indonesia jilid VI ditulis 28 tahun silam. Sejarah Nasional Indonesia jilid I-VI memang punya keberpihakan yang jelas dan—menurut sejarawan Taufik Abdullah—Jawasentris.

Roda reformasi memang telah berputar—kadang lambat, sangat lambat, bahkan berhenti sama sekali. Di dunia pertunjukan, ketentuan tentang surat izin pentas (SIP) belum dicabut. Tapi, sejak lengsernya Soeharto, tak ada lagi pemerintah yang melakukan "cekal" terhadap seni di panggung-panggung. Kebebasan berekspresi bukan lagi barang yang teramat mahal. Tapi, apa arti ini semua? Memang telah lama kita bergerak tanpa catatan sejarah, tanpa mengetahui sejauh mana kita telah berjalan dalam proses perubahan ini. Tapi, inilah saatnya untuk menahan napas, mengkritik diri—siapa tahu kita baru memilih jalan yang salah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data