Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Film

Sebuah Tragedi tentang Hasrat Hati

Komedi tragedi tentang hasrat dan kesetiaan yang merebut Oscar tahun ini untuk skenario asli. Toko buku QB, Jakarta, akan memutarnya 25 Mei nanti dalam "festival" film Pedro Almodóvar.

Talk to Her (Hable Con Ella)
Pemain : Rosario Flores, Javier Cámara, Dario Grandinetti, Leonor Watling, Roberto Alvarez
Sutradara : Pedro Almodóvar
Penulis Skenario : Pedro Almodóvar

Dalam sebuah pertunjukan tari modern, seorang laki-laki tampak tersedu-sedan di bangku penonton. Namanya Marco (Dario Grandinetti), penulis panduan wisata asal Argentina. Ia tampak begitu tergugah melihat komposisi Pina Bausch di panggung. Di sampingnya, seorang lelaki muda berwajah polos bernama Benigno (Javier Cámara), yang bekerja sebagai perawat. Keduanya tak saling mengenal. Tetapi beberapa bulan kemudian jalan mereka bersilang lagi dalam suatu kebetulan yang ganjil di klinik perawatan. Benigno membaktikan dirinya untuk merawat gadis siswa balet Alicia (Leonor Watling), sementara Marco membesuk teman wanitanya, seorang matador bernama Lydia (Rosario Flores). Dua wanita tersebut berada dalam keadaan koma. Hubungan yang tak terduga mulai muncul ketika Benigno menyarankan sesuatu kepada Marco: "Bicaralah kepadanya."

Talk to Her (Hable Con Ella), karya terbaru sutradara Spanyol Pedro Almodóvar, adalah dongeng keharuan yang menyala-nyala. Ada rasa nyeri karena kesepian dan kehilangan, kesulitan hubungan emosial antara laki-laki dan perempuan, namun juga sekaligus merupakan perayaan akan persahabatan, hidup, dan seni. Pengisahan film ini dibagi dalam tiga lapis, dengan waktu bergulir dari hulu ke hilir pulang-pergi, dan dibalur lagu-lagu penyanyi Brasil Caetono Veloso. Ada pula selingan film bisu Kekasih yang Menyusut, yang bercerita tentang laki-laki yang meminum ramuan ajaib sehingga tubuhnya mengecil dan akhirnya memilih tinggal di dalam tubuh wanitanya.

Seperti film-film Almodóvar sebelumnya, Talk to Her juga menawarkan sengatan erotisme yang tak lumrah. Lihatlah tubuh elok Alicia saat ia dimandikan, dibersihkan haidnya, dipupuri, dan disirami dongeng Benigno dengan suara lemah lembut, sementara sang gadis lunglai membisu. Betapa hati penonton teriris namun sekaligus hanyut akan adegan ini. Rasanya, tak ada sutradara lain yang bisa memotret tubuh seindah Almodóvar. Resep baku Almodóvar tentang dua sisi wanita, keindahan, dan keperkasaan, ditampilkan dengan lebih ekstrem lewat tokoh Lydia. Penata fotografi Javier Aguirresarobe layak diacungi jempol lewat gambar-gambar Lydia saat bertarung melawan banteng.

Yang paling menarik dalam film ini adalah iramanya. Awalnya, penonton diberi sajian kepolosan Benigno sehingga film ini terkesan sebagai kisah loyalitas tanpa pamrih. Hubungan Benigno dengan Marco juga menumbuhkan simpati. Tak banyak film yang menyajikan percakapan antara dua laki-laki yang bisa mengelus-elus hati. Namun pelan-pelan film ini mulai bergerak ke kegelapan. Rahasia hati Benigno yang terdalam mulai tersingkap. Ia menyimpan cinta pada gadis yang terbaring koma karena kecelakaan tersebut. Tingkahnya pun kian obsesif. Bagian ini menjadi ciri khas film Almodóvar. Semulia apa pun itikad seseorang pada orang lain, peluang hubungan seksual yang ganjil selalu terbuka. Pada titik ini, film ini sudah menjadi kisah tentang keterpenjaraan batin, raga, dan akhirnya dalam arti sesungguhnya.

Talk to Her, yang merupakan karya ke-14 Almodóvar, adalah film yang matang. Sang sutradara bukan saja mampu mengubah suasana, tapi juga mengawinkan beberapa suasana dalam satu adegan: komedi, tragedi, dan suspens. Bila sebuah pertanyaan terjawab, pada waktu yang berbarengan misteri lain justru kian dalam. Dengan kata lain, kemampuan Almodóvar untuk mengejutkan penonton tidak berkurang, tapi ia bisa lebih mengemasnya dengan lebih halus. Semangat berlebih-lebihan untuk menghibur seperti yang ditunjukkannya dalam All About My Mother (1997)—dalam kasus serupa adalah Baz Luhrman saat menggarap Moulin Rouge—sekarang bisa direm. Hasilnya adalah sebuah film yang membuat Anda pulang tersenyum sembari menitikkan air mata.

Yusi Avianto Pareanom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data