Dalam Belenggu Kemiskinan Jumlah kaum yang dimiskinkan krisis ekonomi masih banyak saja. Jurang kaya-miskin kian menganga? |
Kemiskinan itu menistakan martabat manusia, dan 30 tahun pembangunan Orde Baru tak membuat Indonesia terbebas dari cengkeramannya. Cengkeraman itu kini membelenggu Sinto, di usianya yang larut senja. Kondisinya sungguh memprihatinkan karena setelah terkena stroke tujuh bulan lalu, nenek sembilan cucu ini tak bisa beringsut dari rumahnya di bantaran Kali Ciliwung, Jakarta.
Rumah petak 3 x 6 meter yang dihuninya merupakan hasil jerih payah Sinto—kini 70 tahun— selama 40 tahun hidup di Jakarta. Di dalamnya nyaris tak ada apa-apa. Di depan cuma ada dipan tua—tempat Sinto mengistirahatkan tubuh rentanya—lemari reot, dan bufet tempat TV (tapi televisi tak kelihatan, karena yang ada cuma kardusnya). Dan jika banjir datang, gubuk lapuk ini tentulah tenggelam.
Berasal dari Bayat, Klaten, Ja-Teng, awal 1960-an Sinto berjualan sayur di Pasar Jatinegara. Suaminya menjadi buruh kasar di tempat yang sama. Setelah beranjak tua, Sinto berdagang nasi pecel di dekat pos polisi Bukit Duri.
Hasil kerja keras itu hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar mereka sehari-hari. "Pokoknya cuma cukup untuk makan," ujar Sinto terbata-bata. Tiga putrinya cuma bisa disekolahkan sampai tingkat sekolah dasar.
Malang bagi Sinto, sejak sakit ia tak bisa lagi berjualan. Hidupnya sehari-hari ditopang oleh seorang putri dan menantu yang tinggal bersebelahan dengannya. "Mereka kasih uang seribu dua ribu, ya dicukup-cukupkan," ujarnya getir. Kadang tetangga ikut menyumbang makanan. Sedangkan suaminya pulang ke kampung halaman.
Kaum marginal seperti Sinto berjumlah puluhan juta orang. Menurut data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, sebelum diterjang krisis ekonomi, jumlah orang miskin cuma 15 persen dari total penduduk. Di puncak krisis, pada 1999, jumlahnya langsung membengkak jadi 24 persen.
Kini berangsur-angsur jumlah orang miskin berkurang. Menurut ekonom Chatib Basri dari LPEM, tahun lalu jumlahnya telah menyusut tinggal 17 persen—hampir mendekati hitungan Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 18 persen orang.
Namun penurunan itu tidak dibarengi distribusi pendapatan yang merata. Orang melarat berkurang, tapi sebetulnya mereka yang terangkat dari kemiskinan jumlahnya pas-pasan. Pendapatan mereka relatif seperti Sinto: cuma cukup untuk bertahan hidup.
Di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang pendapatannya melonjak luar biasa. Anggota parlemen dan pejabat di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), contohnya. Dalam tempo singkat mereka berhasil mengumpulkan kekayaan dalam jumlah tak masuk akal.
Tak percaya? Tengok tempat parkir para wakil rakyat di Senayan yang laksana ruang pamer mobil mewah. Berbagai jenis sedan yang tak tampak di jalan, ada di sana. Mulai dari Mercedes, BMW, sampai Jaguar keluaran terbaru bernilai miliaran.
Duit sebanyak itu bisa dipakai membeli sarapan bubur ayam bagi setengah juta gembel di Jakarta. Ibaratnya, kalaupun Nenek Sinto reinkarnasi hingga tujuh kali rasanya dia tetap tak bakal mampu mengumpulkan duit sebanyak itu.
Jurang antara si kaya dan si miskin kian terasa bila melihat pengemis dan pengamen yang banyak beroperasi di bawah lampu-lampu lalu lintas. Perbedaan itu kian menusuk bila kita melihat orang-orang kaya datang ke pameran berlian di hotel-hotel bintang lima.
Secara akademis, memang belum ada penelitian kuantitatif yang bisa membuktikannya. "Kita tak punya data pendapatan secara makro untuk melakukan penelitian semacam itu," ujar Asep Suryahadi, ekonom yang biasa meneliti masalah kemiskinan. Namun Asep menyetujui, secara kualitatif, kesenjangan itu kian dalam dan makin terasa. Apa sebabnya? Ia menengarai itu ada hubungannya dengan perubahan rezim. Penguasa yang baru tiba-tiba memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi hingga mereka syok dan tak mampu berbuat banyak, kecuali memperkaya diri sendiri dan kelompoknya saja.
Nugroho Dewanto, Kurniawan (Tempo News Room)
|