Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Dari Liem (Sementara) Turun ke Eka

Siapa pengusaha nomor satu di Indonesia? Sebelum krisis ekonomi menerpa negeri ini, orang segera menyebut nama Liem Sioe Liong dengan Grup Salimnya. Grup usaha yang menguasai sektor penting seperti industri makanan, semen, kimia, sampai perbankan ini—penjualannya mencapai Rp 50 triliun pada 1996—tak tertandingi oleh perusahaan Indonesia mana pun. Namun, setelah krisis, terjadilah perubahan besar dalam peta dunia usaha. Akibatnya, sulit memastikan siapa pengusaha yang kini menempati posisi puncak. Hampir semua berjatuhan. Sebut saja Modern, Dharmala, Putera Surya Perkasa. Hanya beberapa yang mampu bertahan, di antaranya Sinar Mas, Gudang Garam, dan Sampoerna.

Direktur Utama Cisi Raya, Wilson Nababan, mengungkapkan bahwa Grup Sinar Mas, yang sebelum krisis berada di posisi ketiga, kini menggantikan Salim di posisi pertama. Dengan dua lengan bisnisnya: Asia Pulp & Paper (APP) dan Asia Food & Property (AFP), Sinar Mas mampu mencatat penjualan terbesar. Penjualan empat anak perusahaannya di Indonesia yang sudah masuk bursa melebihi Rp 22 triliun—di perusahaan ini Sinar Mas menguasai sebagian saham. Tapi ada catatan tebal di bawahnya: APP memiliki utang US$ 13,8 mili-ar, US$ 1,2 miliar di antaranya ke BPPN.

Ekspansi APP sepanjang dekade 1990 merupakan biang penyebab utang raksasa itu. Dengan utang, sejumlah pabrik baru didirikan APP di India dan Cina. Pada 1999, penjualan APP sudah mencapai US$ 3 miliar. Ketika itu harga pulp memang lagi bagus dan diramalkan bisa mencapai US$ 700 per ton. Tapi harganya justru anjlok. Padahal setiap penurunan US$ 100, APP kehilangan pendapatan US$ 500 juta. Kejatuhan APP tak terelakkan lagi. Pada Maret 2001, APP mengumumkan penghentian pembayaran utang (debt standstill). Sampai kini, restrukturisasi utang APP belum beres. Jika selesai, hanya ada dua kemungkinan: Sinar Mas makin mengukuhkan dirinya sebagai nomor satu atau tergusur perusahaan yang ada di bawahnya.

Dan perusahaan yang siap menyundul Sinar Mas tak lain Gudang Garam, satu dari sedikit perusahaan Indonesia yang kebal krisis. Penjualan perusahaan rokok terbesar di Indonesia ini terus meningkat—tahun lalu mencapai Rp 21 triliun. Dan Rachman Halim, penerus Surya Wonowidjojo, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang namanya tertera dalam daftar orang terkaya sedunia versi majalah Forbes 2002. Rachman menduduki peringkat 234 dengan kekayaan US$ 1,8 miliar, naik dari posisi 292.

Dua pabrik rokok lain, Djarum dan Sampoerna, juga naik dari peringkat 20-an ke posisi 4 dan 5. Mengapa? Djarum rajin membeli aset eks Salim seperti Salim Oleochemical—bersama Lautan Luas dan Bhakti—dan BCA. Tahun lalu, laba bersih BCA mencapai Rp 2,5 triliun. Di BCA, Djarum, yang masuk melalui Farindo, menguasai 51 persen saham. Adapun Sampoerna sukses dengan diversifikasi ke bisnis eceran melalui jaringan retail Alfa, yang terentang mulai dari usaha grosir sampai minimart.

Nama lain yang mulai berkibar adalah Grup Rodamas. Sosok perusahaan yang didirikan Tan Siong Kie ini merupakan konglomerasi baru yang rentang usahanya sangat lebar, mulai dari bahan makanan (Sasa dan Ajinomoto), makanan jadi (Nabisco), toiletries (Kao), obat-obatan (Salonpas), sampai tekstil (Eratex) dan bahan bangunan (Asahimas). Bisnisnya mirip Grup Salim di masa jayanya. Tahun lalu, penjualan perusahaan yang akan masuk bursa ini mencapai hampir Rp 2 triliun. ”Ini sebetulnya pemain kawakan, tapi low profile, sehingga tak banyak dikenal,” kata Nababan.

Di luar nama-nama beken tadi, ada Bhakti Investama. Selain membeli Salim Oleochemical, Bhakti juga membeli 53 persen saham Bimantara Citra dari Bambang Trihatmodjo. Sepintas, memang belum ada pemain baru yang benar-benar melambung. Yang kini naik peringkat kebanyakan adalah pengusaha lama yang setia pada bisnis intinya, tidak banyak berutang, punya mesin pencetak laba yang tak pernah lelah, dan tidak merasa perlu memiliki bank.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data