|
WISMA Indocement adalah tempat roda nasib Sudono Salim berputar balik. Dari gedung perkantoran di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, sang taipan pernah digdaya memerintah kerajaan bisnis yang memiliki aset bernilai puluhan triliun rupiah. Tapi dari gedung tinggi itu juga kini satu per satu asetnya harus berpindah tangan.
Setelah oleng dihajar krisis, untuk melunasi utangnya senilai Rp 52,6 triliun kepada negara, Salim menyerahkan 107 perusahaannya ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dokumen aset pun berpindah dari kantor Anthoni Salim, putra Liem Sioe Liong, di lantai 19 Wisma Indocement, ke lantai 12, yang ditempati PT Holdiko Perkasa—perusahaan yang dibentuk untuk mengelola semua perusahaan eks Grup Salim.
Hingga saat ini, dari semua perusahaan yang diserahkan, 76 telah dijual BPPN dan Holdiko. Sedangkan sisanya mulai dilepas melalui Program Penjualan Aset Investasi Tahap II, yang telah dimulai sejak 24 April lalu hingga 12 Juni mendatang.
Sebagian besar saham keluarga Liem di berbagai perusahaan tercatat dibeli investor asing. Sebut saja Astra International oleh Cycle and Carriage (Singapura), Mosquito Coil Group diambil Reckitt Benckiser (Inggris), Indocement Tunggal Prakarsa ke Heilderberger Zement AG (Jerman), dan Salim Palm Plantation diboyong Kumpulan Guthrie Berhard (Malaysia).
Tapi banyak juga yang dibeli investor lokal. Yang menarik, banyak di antara mereka ternyata adalah kongsi lama Liem. Sebut saja bagaimana 100 persen saham Salim Oleochemicals Group berpindah tangan ke konsorsium Bhakti Investama dengan nilai transaksi US$ 127 juta. Santer ditengarai, Bhakti sebenarnya kendaraan PT Lautan Luas, Grup Wings, dan Grup Djarum.
Sebagaimana diketahui, tiga kelompok usaha itu memiliki hubungan dekat dengan Salim sejak puluhan tahun lalu. Ng Masrin, pemilik Lautan Luas, dan Kastuari, bos Wings, misalnya, tercatat pernah berkongsi dengan Salim ketika mengembangkan perusahaan kimia, PT Unggul Indah Cahaya Tbk., pada 1984. Saat ini dua putra Salim—Anthoni Salim dan Andre Halim—juga tercatat sebagai pemegang saham di PT Findeco Jaya, yang tak lain adalah anak perusahaan Lautan Luas.
Lautan Luas sendiri, melalui dua pemegang sahamnya, Jimmy Masrin dan Pranatha Hajadi, masuk menjadi salah satu pemilik Indosiar Visual Mandiri dan Indomobil Sukses Makmur. Mereka membeli Indosiar melalui PT TDM Aset Manajemen, sedangkan Indomobil via PT Cipta Sarana Duta Perkasa.
Begitu pula dengan Grup Djarum. Oei Wie Gwan, pendiri Djarum, pun merupakan salah satu hopeng (karib lama—Red.) keluarga Liem. Melalui perusahaannya, NV Mega, Salim pernah menjadi pemasok utama cengkeh untuk pabrik rokok Djarum sekitar tahun 1960-an. Kini, melalui Farindo Investment Ltd., Djarum berhasil memboyong salah satu aset Salim yang paling mengkilap di BPPN, Bank Central Asia.
Wilson Nababan, Presiden Direktur Lembaga Riset Cisi Raya Utama sekaligus pengamat konglomerasi Indonesia, membenarkan tiga kelompok usaha itu memang telah lama punya hubungan kental dengan Salim. Hanya, menurut dia, hal itu tak melulu membuktikan Salim sendirilah yang berdiri di balik serangkaian pembelian yang mereka lakukan. Menurut Wilson, sebagai perusahaan yang andal dalam industri kimia, Lautan Luas tentu tergiur dengan Salim Oleochemicals, yang juga memiliki prospek bagus. "Jadi, selain karena merupakan hopeng Salim, mereka juga tertarik karena aset-aset itu dijual murah," kata Wilson.
Franciscus Welirang, menantu sekaligus eksekutif di Grup Salim, membantah suara-suara yang bercuriga pihaknya telah membeli kembali aset yang telah mereka limpahkan ke negara. Menurut dia, semua perusahaan Salim telah sepenuhnya diserahkan sebagai pemenuhan kewajiban terhadap pemerintah. "Saya tidak melihat ke arah itu," katanya memastikan. "Tapi, kalau memang terbukti kami berada di belakangnya, silakan aset-aset itu diambil lagi oleh BPPN."
Setri Yasra, Karana Wijaya (Palangkaraya)
|