Dicari, Pengganti Miranda |
PEKAN lalu adalah pekan terakhir Miranda Swaray Goeltom berkantor di Kebon Sirih, markas Bank Indonesia. Terhitung sejak 17 Mei, ia harus lengser dari kursi Deputi Gubernur BI, seiring dengan periode jabatan dia yang memasuki masa kedaluwarsa. Pada tanggal itu, gubernur sebelumnya, Syahril Sabirin, juga usai masa baktinya di bank sentral.
Guna mencari pengganti Miranda, Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan Max Moein memastikan, pada Senin ini parlemen akan kembali menggelar uji kelayakan dan kepantasan. Kontes ini tak kalah penting dibandingkan dengan penentuan Gubernur BI. Pos yang ditinggalkan Miranda sangatlah strategis: riset, kebijakan, dan statistik moneter. Orang sering bilang, di sinilah jantung bank sentral terletak.
Lalu siapa kandidatnya? Namanya sudah disorongkan Gubernur Syahril Sabirin sejak 17 Februari lalu. Melalui suratnya ke pimpinan Dewan, Syahril telah mengusulkan tiga nama: Siti Ch. Fadjrijah, Hartadi A. Sarwono, dan Bambang Sindu Wahyudi.
Ketiganya merupakan "orang dalam" Kebon Sirih. Siti saat ini masih menjabat Direktur Perizinan dan Informasi Perbankan BI, Hartadi masih menjadi Kepala Perwakilan BI di Tokyo, Jepang, adapun Bambang menduduki kursi Direktur Teknologi Informasi BI.
Melihat latar belakangnya, Direktur Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Iman Sugema, menilai mereka memiliki kemampuan dan pengalaman relatif yang sama. Jadi, menurut dia, yang harus partama-tama diprioritaskan para wakil rakyat dalam menilai adalah aspek moral dan akhlak. "Itu jelas terlihat dari track record ketiga calon," katanya.
Namun, di Senayan, sikap dua partai besar—PDIP dan Golkar—belum jelas terbaca. Dari "kandang Banteng Merah", Max Moein hanya memberi penjelasan mengambang. Kata dia, suara fraksinya akan disalurkan kepada kandidat yang dinilai paling mumpuni.
Golkar lebih memilih mengedepankan aspek moral, seperti halnya Iman Sugema. Wakil Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan dari "Fraksi Kuning", Paskah Suzetta, menyatakan pihaknya akan mengedepankan aspek moral dan integritas, baru disusul faktor kemampuan.
Namun Paskah menilai, dari ketiga calon, yang paling berpeluang adalah Siti Fadjrijah dan Hartadi. Alasannya, "Selain karena lebih berpengalaman, kedua orang itu juga sudah pernah dua kali mengikuti fit and proper test."
Setri Yasra
|