Awas, Tagihan Partai Burhanuddin Abdullah terpilih menjadi gubernur bank sentral. Ada tagihan balas jasa dari partai politik? |
LUAPAN kegembiraan meledak di sejumlah ruang di gedung Bank Indonesia (BI). Senin malam pekan lalu, para pegawai bank sentral yang bersorak-sorai itu bukan sedang menonton pertandingan sepak bola di layar kaca. Mereka sedang merayakan kabar dari Senayan, bahwa Burhanuddin Abdullah akhirnya terpilih menjadi atasan mereka yang baru, menggantikan Syahril Sabirin.
Burhan rupanya figur yang cukup dihormati di kalangan karyawan BI. Ia dikenal mau mendengar pendapat orang lain dan sangat memperhatikan kondisi staf. Integritasnya pun dinilai tak merah. "Dia mungkin tak terlalu pandai, tapi relatif bersih," kata seorang pejabat BI yang puluhan tahun mengenalnya.
Pencalonan Burhanuddin menjadi Gubernur BI sebetulnya sudah lama dilakukan. Pada awal pemerintahan Megawati, namanya sempat melambung. Para wakil rakyat yang tergabung dalam kaukus DPR sudah menggadang-gadangnya. Tapi usul itu mental karena Presiden Megawati ingin menyelesaikan masalah penggantian sesuai dengan undang-undang.
Ironisnya, ketika tiga bulan lalu nama Burhan kembali diajukan, posisinya sudah berubah menjadi underdog. Ia tak cukup punya basis dukungan. Sebaliknya, kandidat lain, Miranda Goeltom, sudah sedari awal mengantongi dukungan dari Fraksi PDIP, yang memiliki 14 anggota di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR.
Untung, Burhan didukung sebuah tim sukses yang ulet dan tak mudah patah semangat. Sadar nasib jagonya berada di tangan para politikus, mereka giat melobi sejumlah petinggi partai politik. Kerja lumayan lancar karena beberapa anggotanya bekas aktivis mahasiswa dari spektrum Islam maupun nasionalis. Merekalah yang meyakinkan beberapa teman lama yang kini aktif di partai politik atau menjadi anggota Dewan, supaya mendukung Burhan.
Perlahan tapi pasti sokongan mengalir. "Orang pertama yang jelas-jelas mendukung kami adalah Kwik Kian Gie," ujar seorang anggota tim yang tak mau disebut namanya. Kwik sendiri memang tak menyembunyikan kegembiraannya setelah Burhan terpilih. "Dia memang orang yang cocok untuk memimpin BI," ujarnya.
Setelah jalur mulai terbuka, tim mengatur pertemuan antara Burhanuddin dan para ketua partai. "Semua sudah kami temui, kecuali Ketua Umum PDIP yang diwakili sekjennya," ujar sumber tadi.
Namun, dalam periode pendekatan itu, Burhanuddin sempat hampir "terpeleset". Suatu ketika ia didekati seorang anggota Dewan dan bekas direktur sebuah bank pemerintah. Mereka menjanjikan akan mengatur pertemuan dengan Amien Rais. Alasannya, penting untuk menggalang dukungan Fraksi Reformasi. Burhan menurut saja. Tapi, sehabis pertemuan usai, ia marah bukan buatan. Soalnya, ternyata yang muncul bukan sang Ketua Umum PAN, tapi seorang kawan Amien bekas pejabat Orde Baru yang integritasnya kencang disoal. "Dia (kawan Amien itu—Red.) bolak-balik menawarkan bantuan. Tapi selalu kami tolak," kata seorang dekat Burhan, mangkel.
Batu sandungan lain ditemui tatkala mereka berusaha meyakinkan Fraksi PDIP. Sedari awal, suara Banteng Bulat jelas mengarah ke Miranda. Setelah berdebat lama, kebanyakan wakil rakyat dari PDIP bergeming. Mengapa? Mereka bilang sang Ketua Umum, Megawati, dalam perkara penting selalu memberi petunjuk tersirat. Dari yang mereka tangkap, dalam urusan Gubernur BI, isyarat telah jelas ditunjukkan dalam urutan nama kandidat yang diserahkan Presiden ke DPR. Dalam daftar, Miranda tertera di urutan pertama, baru diikuti Burhan dan Harinowo. "Repot," kata sumber TEMPO, sambil geleng-geleng kepala.
Tak terlalu berhasil dengan PDIP, Burhan menuai dukungan luas dari PPP, PKB, dan PAN. Bahkan Golkar, yang semula ragu, pada saat terakhir juga mengalirkan suara ke dirinya.
Namun seorang anggota parlemen dari Partai Beringin mengatakan, suara banyak fraksi sesungguhnya terpecah. PDIP, misalnya. Dari 14 suara yang ada, yang memilih Miranda diperkirakan cuma 9 orang. "Sisanya menclok ke Burhan," katanya.
Anggota PDIP yang memilih Burhan diperkirakan mereka yang dekat dengan Menteri Kwik. Sumber tersebut bercerita, pagi-pagi sebelum fit and proper test digelar, Kwik, yang sedang rapat dengan Panitia Anggaran, sempat mampir ke Komisi Keuangan. Saat itu ia berkampanye untuk tak memilih salah satu kandidat.
Akhirnya Burhan terpilih dengan sokongan 34 anggota Komisi Keuangan. Miranda, yang semula diunggulkan, tersungkur karena hanya mampu meraih 18 suara. Adapun Harinowo, seperti telah diperkirakan, gagal meraih satu dukungan pun.
Masalahnya kini, orang waswas, pemilihan yang "sarat lobi politik" itu akan berbuntut pada pemberian konsesi terhadap partai pendukung. Benarkah?
Mengakui adanya lobi-lobi di atas, Paskah Suzetta dari Golkar menampik penyaluran suara partainya ke Burhan dilatarbelakangi negosiasi "tertentu". Fraksinya, kata dia, memutuskan menyokong Burhan setelah mendengar presentasi ketiga kandidat. "Ini murni karena kemampuan dan pengalaman Burhanuddin mengalahkan Miranda," ujarnya.
Bantahan juga datang politikus kawakan PPP, Faisal Baasir. "Tak ada deal apa-apa," ujarnya. PPP, kata Faisal, memilih Burhan semata karena ia kompeten dan bersih dari "dosa" BLBI.
Burhan sendiri tak menyangkal telah bertemu dengan sejumlah wakil rakyat dan pemimpin partai. Tapi ia mengaku tak menjanjikan apa-apa. "Tak ada kompensasi yang saya janjikan, kecuali komitmen untuk bekerja demi kepentingan negara ini," ia menegaskan.
Semoga saja benar. Sebagai nakhoda BI, tugasnya sudah sangat berat. Dia harus memperbaiki kondisi moneter agar bank-bank bisa segera menyalurkan kredit untuk menggerakkan roda perekonomian. Dan pada saat bersamaan, ia juga mesti membenahi pengawasan bank yang terbukti masih kedodoran. Jadi, bila masih direpoti dengan berbagai "tagihan" partai, tugas utama Burhan sebagai gubernur bank sentral niscaya akan terbengkalai.
Nugroho Dewanto, Febrina Siahaan, Setri Yasra, Ali Nur Yasin
|