Harapan di Tengah Keputusasaan |
Bak air bah, krisis ekonomi melanda Indonesia hampir enam tahun silam. Nyaris tak ada kehidupan perekonomian yang selamat. Rupiah melemah; inflasi membubung; dunia usaha digulung kredit macet ratusan triliun rupiah, dan hampir 70 bank ditutup pemerintah. Perekonomian bukannya tumbuh tapi malah mundur jauh. Beban utang membengkak luar biasa. Perekonomian Indonesia yang dibangun Soeharto selama puluhan tahun ambruk seperti rumah kartu.
Soeharto menyerah dan Dana Moneter Internasional (IMF) datang membantu. Direktur Pelaksana IMF, Michel Camdessus, dengan bersedekap seperti dewa, menyaksikan Soeharto terbungkuk-bungkuk meneken surat kesanggupan (letter of intent/LoI) menjalankan program pemulihan ekonomi yang dipandu IMF.
Setelah enam tahun, tak banyak perubahan yang terjadi. Presiden datang silih berganti sampai tiga kali, tapi perekonomian Indonesia tak banyak beranjak. Dunia usaha masih belum juga bangkit. Perbankan pun masih enggan mengucurkan pinjaman ke sektor riil. Investasi asing tetap menjauh, dan yang terjadi justru pelarian modal keluar gara-gara Indonesia tak bisa menjamin keamanan dan kepastian berusaha. Tak me- ngagetkan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma berkisar 4 persen. Ancaman ledakan pengangguran sudah di depan mata. Lebih dari 9,5 juta orang menganggur. Angka kemiskinan meningkat. Dan IMF sudah tak sabar melihat Indonesia yang berjalan bak siput.
Bagaimanapun, mungkin kita masih bisa berharap. Nilai tukar rupiah semakin stabil. Inflasi juga dapat dikendalikan. Beban utang sudah bisa dikurangi ke tingkat yang jauh lebih aman. Kepercayaan luar negeri perlahan-lahan mulai pulih meskipun belum seperti sebelum krisis.
Tapi, apakah semua itu cukup untuk membangkitkan harapan masyarakat? Benarkah jarak antara si kaya dan si miskin bisa dijembatani? Betulkah Indonesia masih mampu bertumbuh lebih cepat lagi?
|