Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Harapan di Tengah Keputusasaan

Bak air bah, krisis ekonomi melanda Indonesia hampir enam tahun silam. Nyaris tak ada kehidupan perekonomian yang selamat. Rupiah melemah; inflasi membubung; dunia usaha digulung kredit macet ratusan triliun rupiah, dan hampir 70 bank ditutup pemerintah. Perekonomian bukannya tumbuh tapi malah mundur jauh. Beban utang membengkak luar biasa. Perekonomian Indonesia yang dibangun Soeharto selama puluhan tahun ambruk seperti rumah kartu.

Soeharto menyerah dan Dana Moneter Internasional (IMF) datang membantu. Direktur Pelaksana IMF, Michel Camdessus, dengan bersedekap seperti dewa, menyaksikan Soeharto terbungkuk-bungkuk meneken surat kesanggupan (letter of intent/LoI) menjalankan program pemulihan ekonomi yang dipandu IMF.

Setelah enam tahun, tak banyak perubahan yang terjadi. Presiden datang silih berganti sampai tiga kali, tapi perekonomian Indonesia tak banyak beranjak. Dunia usaha masih belum juga bangkit. Perbankan pun masih enggan mengucurkan pinjaman ke sektor riil. Investasi asing tetap menjauh, dan yang terjadi justru pelarian modal keluar gara-gara Indonesia tak bisa menjamin keamanan dan kepastian berusaha. Tak me- ngagetkan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma berkisar 4 persen. Ancaman ledakan pengangguran sudah di depan mata. Lebih dari 9,5 juta orang menganggur. Angka kemiskinan meningkat. Dan IMF sudah tak sabar melihat Indonesia yang berjalan bak siput.

Bagaimanapun, mungkin kita masih bisa berharap. Nilai tukar rupiah semakin stabil. Inflasi juga dapat dikendalikan. Beban utang sudah bisa dikurangi ke tingkat yang jauh lebih aman. Kepercayaan luar negeri perlahan-lahan mulai pulih meskipun belum seperti sebelum krisis.

Tapi, apakah semua itu cukup untuk membangkitkan harapan masyarakat? Benarkah jarak antara si kaya dan si miskin bisa dijembatani? Betulkah Indonesia masih mampu bertumbuh lebih cepat lagi?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data