Berjibaku Menghalau Pesan Sampah Setengah dari surat elektronik saat ini adalah spam. Aspek teknis tak cukup untuk menghalau e-mail sampah ini. |
BAYANGKAN jika Anda menerima 40 amplop surat sekaligus, bukan hanya pada suatu hari, tapi hampir setiap hari. Anda mungkin melihat sekilas alamat pengirim. Karena sama sekali tak kenal, Anda lalu membuangnya masuk tong sampah. Beberapa buah di antaranya sempat membuat Anda terkaget-kaget: amplopnya berhiaskan foto-foto porno berwarna-warni. Padahal Anda tak pernah memesannya, dan pastilah tak pernah membayar apa-apa sebelum-nya. Untunglah, Anda sendiri yang menerima surat-surat mengerikan itu, bukan putra-putri Anda.
Begitulah yang terjadi pada jutaan orang di dunia kini. Memang bukan setumpuk surat di kotak pos rumah seperti yang dibayangkan di atas, tapi di mailbox komputer. "Sesuatu hal yang sangat mengganggu hidup saya," ujar Kelly Carroll, ibu rumah tangga dan mantan guru.
Gelombang surat elektronik atau e-mail yang tak diharapkan itulah yang disebut e-mail sampah alias spam atau junk mail. "Dari 40 e-mail yang saya terima hari ini, 38 di antaranya spam," keluh Carroll. Menurut Brightmail, perusahaan penyedia teknologi anti-spam, setengah dari surat elektronik saat ini adalah spam.
Isi e-mail sampah tak melulu pornografi. Menurut lembaga pemantau CAUCE, pesan-pesan itu umumnya berupa surat berantai, surat berjenjang (termasuk pemasaran multilevel), skema jadi jutawan supercepat, telepon seks, situs porno, obat kuat, peranti lunak bajakan, tawaran saham, hingga promosi produk kesehatan dan kecantikan.
Bagaimana para pengirim spam mendapatkan alamat e-mail sasarannya? Secara manual, mereka mendapatkan alamat tersebut dari situs pribadi, mailing-list, dan forum diskusi. Selain itu, masih ada metode pengumpul alamat e-mail otomatis seperti Directory Harvest Attack, yang dapat menembus mail server dan memanen ratusan ribu alamat e-mail yang ngendon di dalamnya.
Brightmail memperkirakan para spammer mengirim sedikitnya 250 ribu surat elektronik sampah setiap hari ke satu layanan e-mail. Bayangkan, ada ratusan layanan serupa yang jadi korban. Hal itu mengakibatkan kian banyak orang merasa tak nyaman menggunakan e-mail. Padahal, sejak Internet muncul, e-mail adalah fasilitas paling populer. Surat elektronik sudah menjadi media komunikasi utama buat banyak kalangan. E-mail bahkan telah menggantikan posisi nomor telepon sebagai media komunikasi utama. Menurut International Data Corporation, sedikitnya ada 9,7 miliar pesan yang dikirim per tahun pada 2000, dan diperkirakan akan melambung menjadi 35 miliar pada tahun 2005.
Kenyataan itulah yang memikat para pengirim spam. Yang menjadi target mereka: bagaimana menghancurkan reputasi e-mail. Bagi pengguna e-mail, secara personal dampak spam memang tak terkait langsung dengan kerugian finansial. Tapi survei Gartner Group menemukan 42 persen responden mengeluh waktunya jadi tersia-siakan, dan 30 persen merasa privasinya terganggu.
Bagi dunia bisnis, sebaliknya, dampaknya tak main-main. Dari 11 juta pesan spam yang diteliti Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat, 44 persen ternyata datang dari alamat palsu. Para peretail dan pihak lain di bidang pemasaran langsung khawatir "martabat" e-mail sebagai alat penjualan yang sah akan ternoda. "Jika dalam jangka panjang industri tak mampu mengatasi hal ini, spam akan menghancurkan e-mail," ujar Joe Barret, seorang petinggi America Online (AOL).
Keluhan juga datang dari perusahaan penyedia jasa Internet (ISP), jasa aplikasi (ASP), dan layanan nirkabel (WSP). Server di Bluespring Software Inc. di Cincinnati, misalnya, akhir tahun lalu sempat tak berfungsi tiga jam dan mengakibatkan layanan surat elektroniknya terputus. Selain itu, sedikitnya 89 situs Web yang dijalankan US Moneywerx, Texas, akhir bulan lalu tiba-tiba terputus gara-gara "invasi" spam.
Ferris Research mengungkapkan, perlawanan terhadap gelombang e-mail sampah menelan biaya besar: sejumlah lembaga harus merogoh koceknya hingga US$ 10 miliar. "Cukup sudah, ujar Amerika," demikian Business Week menulis. Komunitas teknologi informasi akhirnya menabuh genderang perang melawan spam: mengembangkan perangkat anti-spam yang lebih andal, menyeret spammer ke meja hijau, dan melobi para pembuat undang-undang agar mempersempit ruang gerak mereka.
Tak kurang dari tiga raksasa Internet di dunia—AOL, Microsoft (MSN), dan Yahoo—sudah memproklamasikan peperangan melawan spam. Mereka sepakat saling berbagi sumber daya, teknologi, dan strategi menangkal spam. Mereka bertekad melindungi pelanggan dari kiriman spam dengan mencegah surat elektronik masuk dari sistem yang diduga rentan terhadap penggunaan tanpa otorisasi, seperti open relay, open routers, atau open proxies. Strategi lain adalah mencegah kemungkinan penggunaan layanan surat elektronik yang disediakan Yahoo, AOL, dan MSN untuk berkirim spam.
Perang itu memang tak gampang. Meski AOL dan MSN mengaku telah berhasil menghalau miliaran spam per hari, toh masih banyak juga yang berhasil menerobos masuk. Sejumlah peranti lunak anti-spam pun belum efektif mengatasinya. Selalu saja ada celah yang dimanfaatkan spammer, misalnya menggunakan aplikasi yang mampu meniru alamat e-mail dalam buku alamat di inbox seseorang, sehingga spam mereka akan melenggang melewati detektor peranti anti-spam.
Tindakan tak mengobral alamat e-mail adalah salah satu cara jitu (lihat, Ayo Melawan Spam) untuk menghindari spam, meski tak ada jaminan bakal bebas dari spam.
Aspek teknis semata memang tak bisa diandalkan untuk menang dalam pertarungan menghalau spam. Harus ada, "perangkat hukum yang memadai untuk menyeret pelakunya ke pengadilan," ujar Bruce Scheiner. Hal itu dibenarkan pakar Internet, Onno W. Purbo. Menurut dia, meski spam sudah lama menjadi musuh di Internet dan sudah banyak pihak yang berusaha mengatasinya, hasilnya tetap belum memuaskan karena belum ada perangkat hukum yang melarang orang melakukannya. "Bahkan ada perusahaan di Web yang khusus bergerak di bidang spammers, misalnya Cyber Promotion," ujarnya.
Karenanya, kalangan regulator AS, yang sehari-hari juga kecipratan spam, cepat tanggap. Baik pengirim maupun perusahaan penyedia jasa spam akan ditindak. Negara Bagian Virginia, misalnya, sudah memberlakukan undang-undang yang menuntut hukuman kurungan bagi pelaku spam yang menyembunyikan identitas atau mengirim satu pesan e-mail ke 10 ribu alamat.
AS memang yang paling belingsatan perkara surat elektronik "teror" itu. Sebab, tak hanya dunia bisnisnya dan kenyamanan publiknya terancam dalam jangka panjang, tapi citra negara adikuasa itu di luar negeri juga sedang dipertaruhkan. Motohiro Tsuchiya, profesor komunikasi di International University of Japan, mengatakan sekitar 80 persen spam yang menyerang Jepang datang dari luar. "Sekarang kami sedang mengimpor spam dari Amerika Serikat," ujarnya, bercanda, "dan mempelajari budaya Amerika melalui e-mail sampah itu."
Budi Putra
Ayo Melawan Spam
- Berikanlah alamat e-mail pribadi Anda hanya kepada rekan terdekat, mitra bisnis, atau lembaga yang dikenali.
- Anda juga bisa melindungi e-mail pribadi dengan cara menggunakan fasilitas remailer yang biasanya menawarkan alamat e-mail untuk seumur hidup meskipun berganti ISP.
- Buatlah alamat e-mail cadangan yang bisa dibuang sewaktu-waktu. Jika berurusan dengan hal baru, misalnya membeli barang atau ikut mailing list, pakai alamat yang ini. Jangan menggunakan e-mail pribadi.
- Manfaatkan fasilitas penyaring spam yang disediakan penyedia e-mail macam Yahoo dan Hotmail.
- Jika mengirim e-mail berantai, lindungi rekan Anda. Agar nama rekan-rekan Anda tak terbaca oleh pengirim spam, tulis nama mereka pada kotak Bcc, jangan pada To atau Cc. Minta rekan-rekan Anda melakukan hal yang sama.
- Jangan jawab e-mail tak dikenal— termasuk yang meminta konfirmasi "remove me" atau "unsubscribe". Sebab, boleh jadi itu sekadar modus mereka untuk memastikan apakah e-mail yang dituju aktif atau tidak.
- Jangan taruh alamat e-mail di buku tamu, daftar kontak, newsgroups, ruang chatting, dan lain-lain. Itu lahan subur bagi spammer.
- Jangan melakukan reply ataupun forward surat elektronik berantai yang Anda terima ke alamat lain. Bila Anda lakukan, secara tak sengaja Anda sudah menjadi seorang spammer.
- Baca kebijakan soal privasi jika menggunakan suatu layanan. Pastikan apakah situs itu akan (atau tidak) menggunakan alamat e-mail Anda untuk keperluan lain. Selamat berjuang melawan spam.
BP
|