Yang Dicari dan yang Hilang Mugiyono Kasido menggelar Mencari Mata Candi. Sayang, musik dan video work tampak menyaingi elemen gerak.
|
Layar di tengah-tengah panggung itu tiba-tiba runtuh ke arah depan. Di hadapan kita seakan-akan tampak bentangan alam yang gulita, dan hanya setitik pijaran lampu yang tergantung menerangi alam semesta. Sesosok tubuh hampir-hampir mendekati kurus kering, dengan keheningan. Pelan-pelan sosok itu melangkah ke depan mengusung bejana gerabah, dan diletakkannya di tengah-tengah reruntuhan layar putih, seakan dia sedang menapakkan kakinya, memasuki suatu wilayah pensucian.
Perlahan, sosok itu merunduk, merenungi segala apa yang ada di sekelilingnya itu. Dipandanginya ruang kedalaman bejana gerabah itu seperti dia memandang dirinya dengan perenungan yang penuh, dengan keheningan. Tangannya bergerak, dicibuknya air dari dalam bejana gerabah dan membasuh wajahnya beberapa kali, lalu tampak wajah itu berubah menjadi topeng dengan kilatan cahaya yang memercik yang diiringi oleh gerakan tangan khusyuk, seakan tak kan hendak melepaskan yang telah didapatnya. Lalu dirangkapkan tangannya dengan sikap takzim, merunduk diiringi cahaya yang makin redup lalu gulita kembali.
Itulah bagian akhir dari rentang waktu pertunjukan Mugi Dance yang bertajuk Mencari Mata Candi selama 50 menit, yang digelar di Teater Kecil STSI Solo pada 4-5 Mei 2003. Suatu uji coba sebelum rombongan itu berangkat dan manggung di pentas "Kunsten Festival des Arts 2003", Chapelle des Brigittines, Belgia, pada 16-19 Mei 2003, salah satu titik dari perjalanan Mugiyono Kasido selaku penari dan koreografer, setelah dia melanglang buana ke berbagai wilayah seni pertunjukan di Indonesia maupun di sejumlah negeri.
Garapan kali ini bagian dari proses pencarian Mbah Mugi—panggilan akrabnya—ke dalam suatu wilayah artefak percandian di sejumlah daerah di Jawa. Konon telah bertahun-tahun ia melakukan riset bersama suatu tim arkeologi dan sejarah tari di Candi Baka, Prambanan, Cetha, Sukuh, dan Singosari. Proses kerja yang tampak ideal itu mengantarkan Mbah Mugi pada pelacakan beraneka bentuk tari di dalam panil-panil candi di Jawa.
Seperti juga orang Jawa lainnya yang memiliki berbagai sumber kebudayaan di dalam dirinya, pencarian Mbah Mugi meliputi wayang kulit dan topeng, dua dunia yang amat dikenalnya.
Mix media seni tradisi sesungguhnya bukan hal yang baru jika kita mau melihat dan melacak seni pertunjukan di Solo sejak tahun 1970-80-an. Wayang Budha Suprapto Suryodarmo bersama kalangan karawitan, tari, dan perupa modern, secara pribadi saya anggap salah satu masterpiece zaman Pendapa Sasanamulya. Demikian juga tentang pelacakan ke wilayah artefak candi di Jawa, yang sejak 20-an tahun lalu dilakukan oleh shaman dancer Prapto, yang telah ikut memberikan ilham bagi Mbah Mugi. Sama seperti Sardono W. Kusumo yang pernah memanggungkan Maha Bhuta pada tahun 1980-an sebagai hasil dari pelacakan ke beberapa candi di sekitar Prambanan dan Kalasan.
Namun, berbeda dengan Prapto dan Sardono, tampaknya Mbah Mugi ingin melangkah lebih jauh dengan "menempelkan" unsur teknologi dan seni mutakhir video work garapan Edi Priambudi. Sayang, elemen ini terasa sebagai "tempelan" sehingga muncul kesan nyinyir, cerewet—bahkan publik seolah dianggap bebal!
Akibatnya, kesan sosiodrama yang juga ditunjang iringan musik garapan Dedek Wahyudi tak memberi kesempatan untuk mencipta bebunyian di dalam ruang imajinasi kita. Semua gerak, semua peristiwa yang terjadi di panggung, dikejar dan diisi oleh musik yang berusaha menyaingi kehadiran gerak. Di manakah keheningan ruang candi, ruang diri kita, di antara gemuruh kendaraan di jalanan, ruang tamu, dan publik yang dijejali acara tv, iklan, dan slogan serta celoteh tetangga yang tak membiarkan diri kita bersendiri?
Sesungguhnyalah tanpa video work itu pun Mencari Mata Candi bisa hadir, dan bahkan bisa mengungkapkan lebih banyak sisi lain yang selama ini mungkin belum pernah disentuh oleh kalangan koreografer muda. Atau jika proses itu akan dilanjutkan, dan ini harapan saya, mungkin masih dibutuhkan proses panjang lainnya yang bisa saling memahami dan mengisi, seperti ketika Mbah Mugi bersama Slamet Gundono dan Dedek Wahyudi menggarap Kosong pada tahun 1994-95, sebagai suatu bentuk yang didapat dari proses pencarian dan berbagi selama bertahun-tahun. Dan yang kini hilang di dalam Mbah Mugi adalah kebersamaan dalam proses kerja, seperti yang saya dengar dari kalangan yang terlibat.
Halim H.D., Networker kebudayaan di Solo
|