Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXXII/12 - 18 Mei 2003
   
Obituari

Ateng Sowan Gusti Allah

Menutup mata pada Selasa pekan silam, pelawak Ateng meninggalkan jejaknya sebagai penghibur yang mahir melintasi zaman.

JIKA kita mempercayai rumusan almarhum Teguh Srimulat, bahwa kelucuan bermula dari sesuatu yang aneh, abnormal, atawa tak konvensional, maka tubuh yang tingginya "separuh orang" seperti pelawak Ateng merupakan aset penting seorang pelawak untuk memanen tawa. Bermula dari ketaksempurnaan fisik itulah Ateng menganyam pengabdian di dunia hiburan—panggung, televisi, dan film. Dan menjadi semacam mentor bagi sejumlah pelawak yang menggunakan tubuh semampai alias "semeter tak sampai" sebagai alat penghibur.

Dibandingkan dengan para cebol yang mengeksploitasi cekaknya tinggi badan di panggung penjual jamu—seperti dulu kerap kita saksikan di kap-kap mobil jamu keliling—tampilan Ateng Suripto atau Kho Tjeng Lie memang berbeda. Dia melengkapi amunisi guyonannya dengan spontanitas tutur kata yang tangkas, tak terduga, meleset dari kewarasan konvensi-konvensi, sehingga terasa aneh untuk ukuran normal. Dan dari situlah gerrr mengalir.

Ada kalanya dia menjadi subyek yang memparodikan peran-peran yang bercitra serba besar. Raja. Jenderal. Direktur. Kejenakaan muncul karena asosiasi yang menyimpang atau disimpangkan. Bayangkan saja, betapa konyolnya jika seorang jenderal yang selalu diimajinasikan tinggi-gagah-perkasa-ganteng, diperankan oleh seseorang yang tingginya seketiak manusia normal dan berwajah bagai bayi.

Di kesempatan lain, lelaki kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1942 ini mengikhlaskan kecebolan dirinya menjadi obyek ledekan. Sehingga pertunjukan lawak saat itu selaksa meneruskan tradisi film bisu ala Charlie Chaplin: menggunakan fisik sebagai alat utama untuk memaksa datangnya tawa. Ajaibnya, yang begini justru didoyani masyarakat.

Ateng menapaki perjalanannya dalam latar sejarah itu. Dan lawakan yang mengolok-olok kekurangan fisik itu masih kerap mewarnai sejumlah dagelan sampai sekarang. Tayangan televisi belum bosan menyajikan kelakar dengan main semprot ludah, memperkarakan konstruksi gigi yang kelewat agresif, menjitak kepala botak. Apa boleh buat, ini soal selera masyarakat. Kita tak mungkin menakarnya dengan ukuran lain, kecuali melihat semua itu sebagai ekspresi dan ikhtiar penghiburan yang menghalalkan segala cara.

Betapapun, Ateng (juga Kwartet Jaya, lengkap dengan Bing Slamet, Iskak, dan Edy Sud) telah memahatkan prestasinya di jagat hiburan kita, khususnya lawak. Melalui serial film produksi Safari Film pasca-Bing Slamet pada tahun 1970-an, nama Ateng menjadi merek dagang. Ini tecermin dalam judul: Ateng Minta Kawin, Ateng Mata Keranjang, Ateng Bikin Pusing, Ateng Sok Aksi, Ateng Pendekar Aneh, Ateng the Godfather, dan Ateng Sok Tahu.

Dari model penjudulan itu, nama Ateng menjadi bagian integral wilayah publik. Ia amat populer. Di era Orde Baru, dia muncul saban Minggu memerankan Bagong dalam acara Ria Jenaka TVRI yang notabene menjadi corong propaganda rezim yang berkuasa. Popularitas Ateng mendorong orang "mencatut" namanya—yang tercantum di selebor becak, gerobak bakso, hingga di bodi angkutan pedesaan.

Dalam sebuah komunitas kesenian Yogyakarta, nama Ateng sampai-sampai menjadi kata sifat. Andaikan suatu kali Anda bertemu seseorang yang sepertinya pernah Anda kenal. Lalu orang ini Anda ajak berbasa-basi seakan dia kenalan lama. Maka Anda akan diledek, "Ah, Ateng banget kamu." Ia menjadi kata sandi untuk menandai perilaku sok akrab atau sok tahu, sebagaimana salah satu judul serial filmnya: Ateng Sok Tahu.

Kuatnya identifikasi itu—antara nama Ateng dan tabiat sok tahu—barangkali menjadi salah satu bukti, betapa pelawak itu amat lekat di hati masyarakat. Kini, pelawak lintas zaman ini sowan Gusti Allah karena radang tenggorokan. Berbeda dengan kabar kematian pelawak kita yang kerap menyajikan ironi kehidupan yang pahit, ekonomi yang terpuruk, sakit-sakitan, Ateng pergi dengan menyisakan gambaran yang indah.

Keindahan itu, bagi saya, tidak semata-mata tecermin pada prestasinya sebagai komedian. Melainkan pada keteguhannya sebagai manusia biasa yang tak pernah tertaklukkan oleh citra glamor selebriti. Ateng tetap seorang suami dari satu istri dan ayah dua anak, yang mewarnai hari akhirnya sebagai aktivis gereja. Tak ada yang lucu dalam kepergiannya, kecuali kelucuan sebuah negeri yang semakin hari tambah jenaka karena banyak melahirkan perilaku para tokoh yang ganjil serta kebijakan yang aneh. Bukankah aneh itu—menurut Pak Teguh Srimulat—sumber kelucuan?

Selamat jalan, Om Ateng.

Butet Kartaredjasa
Aktor dan pekerja seni, berdomisili di Yogyakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data