|
SELAMA sepekan ruangan kelas 6 SDN Sumber Anyar I, Maesan, Bondowoso, Jawa Timur, sempat kosong melompong. Tak terdengar teriakan siswa menyapa gurunya yang baru datang atau suara riuh mereka saat lonceng tanda pulang berdentang. Pada awal Mei lalu itu, semua muridnya, sebanyak 12 orang, nekat tidak masuk sekolah. Ini tentu mengejutkan karena pihak sekolah sama sekali tak meliburkan mereka.
Semula sang kepala sekolah, Jupriyadi, menduga siswanya terjangkit penyakit malas. Kemungkinan lain, mereka ramai-ramai menengok seorang kawannya yang mungkin sedang sakit. Tapi kok sampai enam hari absen? Setelah diusut-usut, ternyata hal ini merupakan aksi bersama untuk menentang kebijakan dipindahkannya Didin Erwiyono, wali kelas mereka, ke sekolah lain di Maesan. "Kami tak mengira mereka bereaksi seperti itu. Ini sungguh di luar dugaan," kata Jupriyadi.
Entah siapa yang jadi penggagas, mereka betul-betul kompak meskipun ujian akhir sudah di depan mata. Bagi mereka, sosok Didin, 39 tahun, merupakan guru yang baik dan layak digugu (dipatuhi) sekaligus ditiru. "Pak Didin enak kalau mengajar, tidak kereng (galak), dan pintar. Jadi jangan dipindah," kata Siti Mariyam, 11 tahun, salah satu murid yang mogok.
Di mata rekannya, Didin juga dinilai mampu meningkatkan prestasi siswanya. Sang wakil kelas amat rajin dan bisa memberikan motivasi belajar bagi anak-anak didiknya. "Dia sering memberikan hadiah pakaian muslim bagi murid yang nilainya bagus," kata seorang rekannya.
Bujuk rayu sempat dilakukan kepala sekolah dan dewan guru untuk menghentikan pemogokan. Tapi para murid tak luluh juga dan mereka tetap membolos. Akhirnya, setelah aksi mogok belajar itu berlangsung tiga hari, pihak sekolah bersama wakil orang tua murid plus badan perwakilan desa mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Nasional di Bondowoso. Tujuannya satu, mereka meminta agar pemindahan Didin ditangguhkan. Alasannya, waktunya tak tepat, mepet dengan persiapan murid menempuh ujian akhir.
Berhasil? Gagal total. Kepala Dinas Pendidikan Nasional di Bondowoso, Soeroso, bersikeras keputusan itu tak bisa digugat.
Untunglah hati para siswa melunak setelah enam hari membolos. Mereka bisa menerima penjelasan kepala sekolah bahwa pemindahan itu merupakan keputusan dari pejabat yang di atas. Cuma, ada syaratnya. Para siswa meminta agar diizinkan membuat acara perpisahan buat Didin. Mereka juga memohon agar guru yang disayangi ini mau menyambangi mereka setiap minggu ke sekolah. Demi murid yang dikasihinya, Didin pun tak menampik.
Irfan Budiman, Mahbub Djunaidy (Bondowoso), Sunudyantoro (Mojokerto)
|