Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXXII/12 - 18 Mei 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Berlama-lama di Indonesia? IMF Oke Saja

Yang mengganjal Indonesia dalam mengakhiri kerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) sebenarnya bukan ketergantungan pada pinjaman lunaknya, tapi bagaimana negeri ini mendapat penjadwalan utang di Paris Club. Tanpa keterikatan dengan IMF, penjadwalan utang yang memang sangat diperlukan itu, kabarnya, bisa sulit. Karena itu, tim ekonomi kabinet sibuk mempersiapkan exit strategy, sehingga tanpa IMF kelak, penjadwalan utang tetap lancar. Masalah exit strategy inilah yang mendominasi wacana publik sepanjang pekan lalu, lengkap dengan suara pro dan kontra.

Di tengah kegalauan pro-kontra itu, Kepala Perwakilan IMF Kawasan Asia Pasifik, Daniele Citrin, tiba-tiba menawarkan tiga opsi kepada Indonesia. Sepintas terkesan betapa simpatik sikap bos IMF ini kepada Indonesia, yang kini masih terpuruk. Namun, bila sejenak direnungkan, tampaknya antara tim ekonomi yang mempersiapkan exit strategy dan Daniele Citrin yang menawarkan tiga opsi, seperti ada orkestrasi yang manis. Pendek kata, agar kabinet Mega terbebas dari kecaman keras—baik dari Rizal Ramli dengan Tim Indonesia Bangkit maupun dari Kwik Kian Gie yang notabene adalah orang pemerintah—pihak IMF tak keberatan menawarkan opsi. Menarik sekali, memang.

Yang juga tak kalah menarik adalah tawaran Citrin untuk memperpanjang kontrak kerja sama antara Indonesia dan IMF. Ini tawaran yang gagah berani, mengingat MPR sudah menggariskan bahwa kerja sama itu harus diakhiri menurut jadwal, yakni Desember 2003. Dua tawaran lain ialah: IMF menyediakan pinjaman siaga (standby loan) bagi Indonesia tanpa harus terikat kerja sama; atau IMF menyiapkan bantuan teknis (post-program monitoring) tanpa ada kucuran dana.

Tentu ada sesuatu di balik sikap manis IMF itu. Terhadap diplomasi berduri semacam ini, Menteri Kwik Kian Gie bersikukuh agar sekali Indonesia berniat keluar (dari IMF), ya, tetap keluar. Jangankan meneruskan kerja sama, menerima standby loan dari IMF pun ia tak sudi. Tapi tak sedikit pula yang setuju supaya IMF berlama-lama di sini, di antaranya M. Sadli. Ekonom gaek ini menilai kemampuan finansial kita belum terlalu kuat, sehingga bila IMF pergi, Indonesia akan kehilangan kepercayaan dari dunia internasional. Tentang opsi IMF ini, Menteri Keuangan Boediono hanya senyum-senyum dikulum sambil berkata, "Kita akan membuat sendiri skenario lepas dari IMF."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data