Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Teater

Celengan Bhisma di Panggung Gundono

Perjalanan hidup adalah tabungan. Lakon kegelisahan manusia yang rindu kebebasan.

SEPASANG ayam dari gerabah— jago Bhisma dan babon Amba— Rabu malam pekan lalu diangkat menjadi lakon. Bermula dari sebuah sayembara, ketika Resi Bhisma berhasil memboyong Dewi Amba lalu menikahinya. Namun, pada malam pertama, Bhisma menolak meneteskan sari kehidupan. Ia ingat janji tak akan menyetubuhi wanita. Bhisma meninggalkan Amba dan pergi mengembara.

Itulah sepenggal cerita karya terbaru dalang kontemporer Slamet Gundono yang dipentaskan di Studio Kua Etnika, Dusun Kersan, Bantul, Yogyakarta. Setelah pernah mementaskan wayang gremeng, wayang suket, dan wayang nglindur, Gundono yang penuh ide nakal itu kini menyuguhkan wayang "kandha".

Lakon Celengan Bhisma ini dipersiapkan dua bulan, melibatkan selusin pemain Teater Jejak, Surakarta. Dana produksi Rp 18 juta diperoleh dari hibah seni Yayasan Kelola, Surakarta. Lalu, tampillah berbagai bentuk celengan, tempayan, kendi—semua dari tanah—untuk memicu imajinasi penonton. Masih ada sepeda onthel butut, meja putar untuk membuat gerabah—pokoknya ramai.

Penata artistik Sugeng Yeah menyulap pendopo Studio Kua Etnika menjadi panggung. Di situlah Gundono memadukan cerita wayang dengan kehidupan masyarakat di sentra industri gerabah. Yang disebut wayang kandha itu pun jadi berubah: tak hanya mengandalkan teknik tutur, tapi juga "kemasukan" teknik barzanji. Keduanya kemudian dipadukan dengan permainan wayang suket, yang memang khas Gundono.

Di depan ratusan penonton, dalang berperawakan makmur itu tampil memukau, lengkap dengan logat "ngapak-ngapak"-nya, diselingi dagelan dan pelesetan. Pertunjukan semakin hidup ketika sang dalang berinteraksi dengan penonton. "Nok, rene Nok. Kulo niku nduwe putu wadon ayune nemen, jenenge Wardah…." Penonton terkekeh karena di antara mereka terselip aktivis LSM, Wardah Hafidz.

Dalang yang dibesarkan di lingkungan pondok pesantren ini juga sering menyisipkan petuah atawa sindiran. "Wong urip kiye kadang kudu ora dadi lakon…. Kayak simbah kiye, saben ndina mung dadi saksi thok peristiwa-peristiwa penderitaan…." (Orang hidup tak harus jadi tokoh. Seperti si mbah, setiap hari hanya menjadi saksi peristiwa penderitaan.)

Celengan Bhisma menggunakan alur cerita berlapis dan silang balik antara cerita wayang dan realitas kehidupan. Dua alur itu kadang dilakukan bersamaan, kadang bergantian. Eksplorasi seks yang dituturkan sang dalang, juga gerak tubuh penari yang ditampilkan "si Nok", mengandung makna pembebasan. "Si Nok", penari kontemporer itu, menggerakkan tangannya dengan dinamis. Simbol seksualitas ditampilkan cantik dan memukau ketika tubuhnya yang lentur mengolah gerakan kayang.

Cerita wayang memang penuh simbol. Dan simbol seksualitas dalam cerita itu, menurut Gundono, merupakan persoalan yang selalu dibawa oleh laki-laki pengembara. "Ini juga merupakan kegelisahan saya," kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 19 Juni 1966, itu. "Institusi perkawinan merupakan penjara yang membuat kebebasan itu terputus dan mati. Tapi saya sendiri tidak yakin penonton menangkap kegelisahan saya itu."

Improvisasi seni tradisi menjadi kekuatan tersendiri bagi karya-karya Gundono, dan menjadikan karya itu hidup di ruang tak terbatas. Yayat Suhiryatna, penata musik pertunjukan itu, mengusung berbagai instrumen musik tradisional Banyumasan, dipadu dengan musik cangkem (mulut). Di akhir cerita, sang Bhisma tetap hidup dalam keabadiannya.

Di antara hidup dan mati itu, orang mengingat peristiwa dan perbuatan. Dua kelompok yang berseteru, Kurawa dan Pandawa, akhirnya berlomba memberikan pelayanan terbaik untuk mengurangi beban penderitaan sang Bhisma. Perjalanan hidup Bhisma menjadi tabungan yang berguna bagi semua pihak. Dan sang dalang, dengan segala "kesaktian"-nya, juga menebarkan kegembiraan. Memberi hiburan segar bagi banyak orang—di tengah zaman susah ini.

L.N. Idayanie (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data