|
SEBUAH tulisan di TEMPO Edisi 24-30 Maret 2003 lalu mengutip perkataan Kiai Haji Mustofa Bisri dalam diskusi ”Kebebasan Berekspresi dan Moralitas Agama” di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. Sang Kiai bilang: ”Inul itu ciptaan Allah. Demikian juga goyangannya.” Sebelumnya, Kiai Mustofa juga memamerkan karyanya, sebuah lukisan yang menggambarkan majelis zikir dengan para kiai berzikir secara melingkar, dan di tengah-tengahnya ada seorang wanita menari. Tentu wanita penari yang dimaksudkan adalah Inul.
Menurut saya, yang bukan seorang kiai, pernyataan dan karya Pak Kiai tidak layak disampaikan ke publik. Di samping esensinya bertentangan dengan kebenaran, kedua aktivitas tersebut kesannya mencari sensasi, melawan arus mainstream para kiai yang lain.
Meskipun TEMPO hanya mengutip sepenggal kalimat, kata-kata itu bisa berbahaya jika dianggap sebuah kebenaran. Dari kutipan sepotong tersebut terkesan Pak Kiai menganggap sah goyangan ”ngebor” Inul yang sekarang sedang ”in”. Sebagai seorang kiai, tentu sah yang dimaksud adalah berdasarkan hukum atau fikih Islam.
Kalau goyangan Inul dianggap sebuah ekspresi seni yang sah-sah saja menurut agama dan moral ketimuran kita, tentu itu sama sahnya dengan peraga busana wanita yang berjalan di catwalk, yang kadang cuma mengenakan baju renang dengan ditonton oleh lawan jenis. Tapi bukankah, dalam kacamata agama, hal itu mempertontonkan aurat dan merangsang nafsu berahi kaum lelaki?
BUDI HANDRIANTO
Pekayon, Bekasi, Jawa Barat
|