Dolorosa Via Dolorosa Di Galeri Nadi, pematung Dolorosa Sinaga menangkap gerak kegetiran ibu-ibu pengungsian. |
Dolorosa Sinaga kembali menyelami derita. Ia menampilkan patung-patung mungil berwatak. Sosok jelata seorang ibu, berkebaya. Wanita yang lelah, tirus, terbuang dengan penderitaan yang tertahan, tapi tetap bersemangat. Bukan figur dengan rasa sakit yang diumbar dalam bentuk nyalang.
Kurator Hendro Wiyanto memberi judul pamerannya: Via Dolorosa. Sebuah kosakata Kristiani simbol perjalanan yang penuh onak tapi juga ketegaran dan harapan. Yang menjadi obyek permenungan Dolorosa adalah kegetiran pengungsian. Patung ibu-ibu itu dipiuhkan, sehingga tak realis betul, tapi pada kita masih jelas sosok manusianya. Teknik pengolahan perunggu yang ditekuni Dolorosa—yang mampu membuat tekstur tubuh wanita itu seperti melepuh, penuh guratan, atau kainnya berkerut-merut kucal—menunjukkan tingkat kematangannya.
Adalah menarik mencermati bagaimana Dolorosa menangkap dan mewujudkan berbagai variasi suasana emosi ibu-ibu di "pengungsian" itu. Patung-patungnya menangkap momen wanita bergelung yang bergegas, menatap kosong, duduk, cemas, membawa koper, memeluk anak, mengisapkan susunya, merenung, geram, sampai yang sesekali mengepal.
Patung-patung itu terasa menampilkan ketegangan antara tablo—suatu sikap diam—dan gestur. Sering dalam citraan seni dibedakan antara ekspresi tindakan dan gestur. Tindakan (aksi) lebih menampilkan sesuatu yang fisikal lahiriah. Seorang pejuang dengan bambu runcing di tangan dengan ekspresi memekik, yang sering kita lihat di diorama museum, misalnya, tergolong itu. Sementara gestur tidak hanya berhubungan dengan gerak, tapi cuatan identitas terdalam. Gestur menampilkan sesuatu yang lebih personal.
Ibarat jepretan fotografi, gestur mungkin menampilkan decisive moment—detik yang paling mengekspresikan batin seorang manusia. Tentu saja, pada patung, perwujudan gerak demikian menjadi kesukaran tersendiri karena patung bermain dengan materi yang menggumpal. Keakraban sang pematung dengan materinya, apakah itu tanah liat atau perunggu, diuji. Beberapa karya Dolorosa lolos dari ujian itu. Lihatlah Crossing the Line, Leaving Home, Walking Alone, Will Find My Way. Kita tak melihat sosok ibu dengan ayunan langkah kaki, menuju arah tertentu, tapi sosok problematik yang memaknakan pulang dan pergi.
Atau para ibu-ibu dengan tas yang kumal berderet-deret. Kita segera melihat bahwa ibu ini bukan sedang berpose. Bentuk mulut membentuk huruf o yang menandai banyak patung Dolorosa memang makin membuat patung-patungnya seolah menghindar dari tatapan. Adapun karya seperti Avante, I the Witness, Fear No Power, yang terasa protes sosialnya dengan mengepalkan tangan, yang berdiri di balik meja, oleh Dolorosa bisa diatasi tidak terjebak dalam sebuah jargon.
Dolorosa banyak mengail ilham dari pieta, patung Maria yang memangku Yesus saat sekarat. Karyanya ada yang berjudul Pieta, menampilkan ibu memangku bocah. Lainnya banyak membayangkan model ini. Yang menyentuh adalah Soul Sister. Kita melihat tiga sosok ibu saling merangkul, berpelukan. Segera tertangkap ada nuansa kehilangan. Wujudnya yang melengket, dan oleh Dolorosa ditampilkan hingga tubuh ketiganya mewujudkan rongga, menguatkan kesan itu. Akan halnya Embracing, dua wanita, berdekap, bersentuhan pipi, seolah menampilkan sebuah keharuan bersama atas keselamatan.
Yang menarik, dalam pamerannya kali ini Dolorosa kembali menampilkan patung-patung penari. Tahun 90-an pengajar Institut Kesenian Jakarta ini mengundang pujian banyak kritikus karena mampu menampilkan geliat gemulai tubuh, tangan, dan selendang.
Kini ia mengulangi. Lihatlah Dance of Solitude, Dancer. Di tengah nasibnya yang tak jelas, ibu-ibu itu menari sendiri dalam kesunyian. Tak ada selendang. Kain baju sendiri menjadi sampur. Lihat juga Penari Rebana. Dua orang wanita memukul rebana berhadapan. Posisi diagonal satu berjinjit satu tidak terasa pas. Melihatnya terasa memang ada irama. Sebuah kelebat keriangan yang bisa dibekukan.
Seno Joko Suyono
|