Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Seni Rupa

Erawan Membaca Diri

Dua puluh tahun berkarier, Nyoman Erawan memboyong lebih dari 100 lukisannya dan juga instalasinya di Bentara Budaya, Jakarta. Ia ingin membaca dirinya sendiri.

Suatu sore pada tahun 1990-an, di pantai Karang Asem, Bali, perupa Nyoman Erawan melihat perahu-perahu cadik rusak. Sudah bolong-bolong, lapuk, keropos, terkena panas, tercampakkan. Ia merasa tergetar. "Perahu seperti juga manusia, punya perjalanan yang panjang," ia mengenang. Saat itu lalu ia menyewa truk untuk membeli dan mengangkut sampan-sampan itu.

Potongan-potongan perahu rusak itu kini telah melanglang buana ke berbagai galeri. Beberapa tahun lalu di Galeri Nasional Jakarta, perahu itu ia beliti dengan selang-selang infus, memetaforkan tubuh-tubuh kehabisan darah. Dan kini terpancang di halaman depan Bentara Budaya, Jakarta. Terbebat kain putih, seperti pokok pohon yang angker. "Perahu itu berubah-ubah makna setiap kali pameran," katanya.

Sebuah lagi di ruang pameran Bentara Budaya, lambung sebuah perahu dipermaknya secara menarik. Sebuah kerangkeng bambu menjulang tinggi dengan sosok manusia dengan rambut putih bersulur-sulur poleng di dalamnya. Lambung perahu itu dibentuk seperti sosok Calon Arang namun dengan tubuh tertusuk. Besi-besi tajam, taji-taji dengan cabang-cabang seperti tanduk rusa terhunjam tembus dari perut sampai punggung. Melayangkan imajinasi kita tentang rangda—simbol kegelapan yang dibunuh tapi tak mati-mati.

Perupa ini terpincut gagasan tentang kehancuran, sebagai bagian dari siklus rangkaian utpeti (kelahiran), stiti (pertumbuhan), pralina (peleburan)—sebuah kepercayaan tradisi Bali. Di Bali kekerasan, kehancuran, dan kematian bisa berarti keindahan. Erawan mula-mula terpukau pada proses penghancuran dalam ngaben. Iring-iringan bade mewah berhias boma (topeng raksasa), petulangan berwujud patung lembu hijau, naga Banda, patung naga nan perkasa yang panjangnya beratus-ratus depa itu, bleganjur (perkusi Bali) yang ditabuh bertalu-talu, kidung pengiring arwah. "Persiapan begitu lama, dengan biaya selangit, kegairahan massal, penuh pemuasan artistik kasat mata, tapi kemudian semua dibakar," katanya. Semuanya berakhir menjadi abu, arang, dan asap.

Karya-karya pertama Erawan seri Puing-puing Ngaben (1983) dan Bidang Rusak (1986) banyak menggunakan kayu gosong bekas ngaben untuk materi kolase. Ia menjadi peka terhadap segala materi yang rusak. Bekas pintu, jendela, papan, termasuk kayu-kayu perahu yang sudah siap menjadi kayu bakar itu ia beri pemaknaan pralina. Apabila papan "bersih", lalu ia gurat-gurat hingga tercabik-cabik. Erawan bertolak dari proses pembusukan, retak dan ruyak. Judul-judul lukisannya dalam bahasa Bali selalu mengandaikan kosmologi kenisbian itu.

Proses cara melukisnya juga mencerminkan sikap itu. Mula-mula secara spontan ia memuncratkan cat secara "membabi buta" (biasanya warna-warna dasar), dan ia biarkan catnya terorak-arik di kanvas. Saat dripping, tetesan-tetesan cat itu mengalir bebas, ia menyeleksi bagian mana dari cipratan cat itu yang dapat menjadi citraan-citraan. Biasanya citraan yang ia bentuk berbau ikonografi Bali. Erawan berprinsip segala sesuatu harus berangkat dari napas kayu sendiri, atau berangkat dari napas di kanvas. Kanvasnya kemudian menjadi permainan komposisi abstrak antara ruang kosong, lelehan, retakan, bongkahan warna perak, emas, monokrom, dan kerukan.

Dengan proses demikian, masuk akal betapa Erawan bisa demikian produktif (Pralaya Matra, seri komposisi abstraknya, misalnya, sampai berpuluh-puluh). Erawan mengaku pameran di Bentara Budaya ini berasal dari tumpukan lukisan di rumahnya yang tidak lagi tertampung. Tapi di situ juga kekuatan sekaligus kelemahan Erawan. Meskipun karya-karyanya dalam pameran ini tak ditata secara kronologis, pengunjung dapat membaca di balik kekuatan karya-karyanya itu sesungguhnya tak banyak perubahan imajinasi atau fantasi selama 20 tahun proses kreativitasnya.

Seorang intelektual Bali pernah mengkritik bagaimana agama di Bali terlalu terbenam dalam lautan adat. Menyitir Gandhi, ia mengatakan berenang dalam tradisi amatlah indah. Tapi menyelam dalam tradisi membuat seseorang tidak bisa melihat perbandingan dengan yang lain. Adakah Erawan terlalu menyelam dalam tradisi? Sehingga, bila dibaca secara retrospektif, karyanya penuh perulangan?

Lelaki kelahiran Banjar Dlodtangkuk, Sukawati, 1958 ini hanya tertawa, dan ia mengaku salah satu tujuan pameran kolosal ini adalah juga melihat seberapa jauh pencapaian yang telah dilakukan. "Jujur saja, karya-karya di kanvas kadang memang terpengaruh pasar," kata perupa itu. Melalui pameran ini ia, misalnya, mampu merenungkan diri mengapa selama ini enggan melukis figuratif. Ada satu dua lukisannya yang menampilkan sosok figur tapi itu kurang srek di hatinya.

Ia mengakui, dibandingkan dengan lukisannya, memang karya instalasi dan performance-nya lebih menyuarakan gagasan yang meledak-ledak dan bernas. Respons sosialnya atas berbagai tragedi cepat diungkapkan dalam instalasi. Calon Arang itu, misalnya, terasa kena. Sebuah bantal—bercawan air merah dengan tekstur dihunjam ranting-ranting runcing—yang memetaforkan tubuh Bisma yang disangga anak panah di padang Kuruksetra juga terasa memikat. Yang dilakukan Erawan adalah mencari simbol-simbol baru khazanah tradisi.

Pada malam pembukaan, anak seorang penggubah sloka tradisional Bali itu ia menabuh performance berjudul Gong Gang. Di tengah 15 kerangkeng bambu dengan bambu-bambu runcing yang ujung lancipnya menusuk topeng wajahnya sendiri, ia menabuh gong yang ditaburi beras dan jagung. Dengan bantuan amplifier, suara gong itu menimbulkan pecahan gaung yang melabrak harmoni. Dalam bahasa Bali, megonggang adalah kata lain berkonflik atau berseteru secara anarkis. Tapi satu hal: seanarkis-anarkisnya Erawan, ia tak akan melakukan tafsir yang berbenturan dengan tradisi. Ia penjaga tradisi.

Seno Joko Suyono, Jalil Hakim (Denpasar)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data