Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Selingan

Mencari Bagong di Sriwedari

Punakawan tanpa Bagong. Ini terjadi di pertunjukan Wayang Orang Sriwedari, Solo. Kesenian tradisional itu kini tengah mati suri.

SUARA tokek tiba-tiba terdengar keras di satu sudut gedung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Suaranya melengking memecah kelengangan. Serentak 19 penonton (tak lebih, sungguh) malam itu mendongak, mencari suara si buruk rupa. Berisik sebentar, mata bosan mereka kembali terpusat ke tengah panggung, mengharap pertunjukan telah dimulai.

Tapi yang ada hanya sepi. Hamparan kursi kosong pun menjadi pemandangan dominan dalam gedung berkapasitas 800 tempat duduk itu.

Merasa jemu menunggu, beberapa orang kemudian meninggalkan tempat duduk. Yang bertahan pun memilih mengobrol dengan teman sebelahnya untuk mengusir kantuk. Mereka mengaku tidak memahami jalan cerita pertunjukan malam itu, yang menampilkan lakon Gandarwono Lahir. Bahkan, ketika Punakawan muncul—malam itu tanpa Bagong—pertunjukan itu tetap tak mampu menarik perhatian mereka. Dagelannya terasa garing.

Malam itu sama seperti malam-malam biasanya di gedung tersebut: drama tari tradisional itu disaksikan sedikit orang. Padahal harga tiketnya cuma Rp 3.000. Kesejukan pendingin udara dan empuknya kursi pun tak mampu menarik minat penonton. Malam Minggu masih lumayan. Penonton bisa mencapai 40 orang. "Kalau ada penonton, hampir bisa dipastikan mereka dari luar kota Solo, seperti Boyolali, Klaten, atau Wonogiri. Wong Solo sendiri sudah jarang," kata Atmo, 70 tahun, pedagang minuman di samping gedung.

Aminah contohnya. Penonton dari Medan ini sama sekali tak bisa berbahasa Jawa. Ia menonton karena mumpung sedang berada di Solo. "Suami saya orang Jawa yang suka nonton wayang. Saya penasaran saja dan ingin berfoto dengan pemain," katanya.

Pamor Wayang Orang (WO) Sriwedari memang sudah menurun. Kini hanya tinggal kenangan. Dulu, cerita Atmo, yang sudah berjualan sebelum peristiwa G30S, "Saat WO Sriwedari masih jaya-jayanya dan menjadi satu-satunya tempat hiburan di Taman Sriwedari, belum talu saja sudah penuh." Talu adalah iringan gamelan pembuka pertunjukan.

Perjalanan wayang orang atau wayang wong di Solo setua sejarah kota itu. Wayang wong sebagai format seni panggung telah ada sejak awal pemecahan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan sebagian wilayah klan Mangkunegaran. Sejak saat itu, wayang wong berkembang dan dijadikan identitas Kasultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran.

Namun, pada masa pemerintahan Mangkunegara VI (1896-1916), terjadi krisis ekonomi yang mengakibatkan mandeknya perkembangan kesenian. Wayang wong terkena imbas dan kegiatannya dikurangi. Akibatnya, wayang wong keluar dari lingkungan istana dan tampil di depan publik.

Peluang itu disambar oleh juragan keturunan Cina. Babah Gan Kam, seorang juragan batik, mementaskan wayang wong di luar istana dengan mendirikan grup wayang orang keliling pada 1895. Pertunjukan yang digelar di gedung bekas pabrik batik di Singosaren itu menyedot banyak penonton, yang umumnya keturunan Cina kaya.

Setelah itu, muncul WO Sedya Wandana pimpinan Lie Sien Kwan, yang berpentas di sebelah timur Istana Mangkunegara. Ada pula kelompok yang dikelola orang Belanda bernama Reunecker. Grup ini kemudian dijual kepada Lie Wat Djien, yang berkongsi dengan badan pemerintah Mangkunegaran, dan pertunjukannya digelar di Gedung Sono Harsono, yang terletak di perempatan Pasar Pon.

Sejarah WO Sriwedari sendiri dimulai ketika Kebon Raja atau Taman Sriwedari diresmikan pada 1901. Kelompok yang pertama kali manggung adalah grup milik Babah Wang Gien, yang bergantian main dengan kelompok milik R.M. Sastratenaya. Baru sekitar tahun 1910, WO Sriwedari terbentuk.

Pergelaran wayang orang saat itu selalu dipadati penonton. Mereka duduk beralaskan gedek—tikar dari anyaman bambu—dalam ruang terbuka. Untuk gedek paling depan atau kelas utama dan disebut kelas lose, harga karcisnya 50 sen, kelas I 30 sen, kelas II 20 sen, dan kelas III 15 sen. Tempat duduk paling belakang disebut kelas kambing dengan harga karcis 10 sen. Disebut kelas kambing karena tempat itu memang kandang kambing milik pemain wayang. Sudah menjadi kebiasaan pemain wayang wong keliling saat itu, mereka memelihara kambing di tobong. Siang mereka menggembala dan malam berpentas.

Pengelola Sriwedari berpindah tangan di awal kemerdekaan. Akibat kondisi politik saat itu, aset milik Kasunanan Surakarta di luar tempok istana dialihkan kepada pemerintah daerah. Termasuk Taman Sriwedari, yang di dalamnya terdapat WO Sriwedari.

Ketika terjadi inflasi pada awal 1960-an, minat penonton masih tetap tinggi. Kala itu harga beras melambung dari Rp 3 menjadi Rp 150. Akibatnya, tiket dinaikkan dari Rp 1,5 menjadi Rp 25. Namun, kata Darsi Pudyarini, pemeran Srikandi, "Penonton makin membeludak. Bahkan penonton harus memesan karcis lebih dulu untuk mendapatkan tempat duduk."

Masa kejayaan WO Sriwedari itu memunculkan selebritinya sendiri. Pasangan suami-istri Rusman Hardjawibaksa (pemeran Gatotkaca) dan Darsi serta Surana Ranawibaksa (Petruk) adalah bintang-bintangnya. Begitu tenarnya mereka sehingga sering diundang Bung Karno untuk menari di Istana Negara. Rusman bahkan pernah melawat ke mancanegara.

Selain ketiga tokoh itu, cerita Darsi, ada nama Wiryo Doel, yang selalu kedapuk peran Arjuna. Secara fisik, Wiryo kurang pas memerankan Arjuna karena berkulit hitam dan wajahnya dipenuhi bekas cacar. Tapi aksinya di atas panggung membuat getar penonton. Sampai akhirnya Wiryo luka parah dikeroyok pemuda suruhan seorang juragan karena istri si juragan jatuh cinta kepadanya. Sejak peristiwa itu, tokoh Arjuna diperankan perempuan. Selain mencuatkan nama-nama di atas, Sriwedari memunculkan bintang seperti Mangun Banjir, Hardjowugu, Patra Wibaksa, Suharta Purna Wibaksa, Wiryandimin, Resopawiro, Darmarini, Sitorini, dan Den Sri.

Ketenaran WO Sriwedari membuat banyak organisasi dan partai politik menggunakan pertunjukan mereka sebagai alat propaganda. Apalagi Wali Kota Surakarta saat itu, Ramelan, juga seorang tokoh komunis. Ketika Soeharto berkuasa, mereka dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Rusman dan Surana harus ke kantor militer. Sedangkan Ranto Edi Gudel, ayah pelawak Mamiek Prakosa dan penyanyi campur sari Didi Kempot, ditahan di kantor polisi militer selama satu tahun. Belakangan, mereka malah disuruh masuk Golkar. Kondisi politik itu juga membuat juragan wayang wong keturunan Cina menjauh. Akhirnya, mereka tidak bersentuhan lagi dengan bisnis ini.

Setelah mengalami perjalanan panjang, pamor WO Sriwedari mulai luntur pada 1970-an. Dan ketika Kebun Binatang Sriwedari dipindah ke Jurug, sekitar 10 kilometer ke arah selatan, penonton makin menjauh. Bilangan Taman Raja itu akhirnya diubah pemerintah setempat menjadi kawasan bisnis hiburan modern.

Berbagai upaya mengangkat pamor hiburan kesenian tradisional terus dilakukan. Pemda Surakarta pada 1986 merekrut beberapa pemain WO Sriwedari menjadi pegawai negeri. Akibatnya, keinginan tampil di Sriwedari bukan karena kecintaan kepada seni wayang, melainkan karena mereka berharap menjadi pegawai negeri. Bahkan status pegawai negeri membuat mereka berperilaku layaknya birokrat di kantor masing-masing. Mereka baru datang pukul 19.30, mengisi absensi, menunggu dapukan (peran yang akan diberikan sutradara), berdandan, naik panggung, kemudian pulang. Imbasnya, ujar Bambang Murtiyoso, pengamat wayang, "Permainannya asal-asalan dan tidak ada kreasi yang mereka buat."

Hubungan atasan dan bawahan dalam hierarki pegawai negeri juga memaksa mereka tampil tiap malam. Alasannya melestarikan budaya. Padahal, menurut dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia I Wayan Sadra, tampil tiap malam itu hanya demi memenuhi tuntutan ekonomi. "Kesenian itu kodratnya mencari wilayah, mengejar penonton, bukan sebaliknya," katanya. Akibatnya, penonton kian menjauh.

Regenerasi pun tidak berjalan. Rusman atau Surana hanyalah legenda masa lalu. Belum ada tokoh muda yang mampu menandingi kemampuan mereka. Bahkan, "Penghayatan karakter sudah hilang," ujar Rusini, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang juga anak pasangan bintang WO Sriwedari, Rusman dan Darsi.

Pementasan WO Sriwedari yang sudah berjalan lebih dari 100 tahun itu makin redup dan kalah moncer dengan hiburan modern. Bila pemain tak merasa risau atas hilangnya Bagong di panggung, apalagi penonton.

Agus S. Riyanto, Imron Rosyid (Solo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data