Terjepit Gerendel Italia Real Madrid dikeroyok tim-tim Italia, yang cenderung menerapkan sepak bola bertahan. Siapa yang bakal unggul? |
KEMENANGAN dan permainan yang cantik saja tidak cukup. Ini dialami oleh Manchester United tiga pekan silam di kandangnya, Stadion Old Trafford. Kemenangan mereka atas juara bertahan Real Madrid beberapa waktu silam tak mampu mengubah keadaan. Mereka tetap tak bisa lolos ke babak semifinal Liga Champions karena kalah dalam selisih gol. Perasaan Sir Alex Ferguson, sang manajer, bercampur-aduk. Dia bangga karena timnya bermain tak kenal menyerah, tapi juga hancur karena mereka hilang kesempatan bermain di final di hadapan publiknya sendiri.
Penjegal langkah Manchester United tak lain adalah Ronaldo, penyerang andalan Real Madrid. Malam itu bintang asal Brasil ini memang tampil bagai setan. Tiga buah gol dibuatnya ke gawang yang dijaga Fabian Barthez. Inilah penampilan terdahsyat Ronaldo setelah Piala Dunia 2002 lalu. Tak hanya publik Spanyol yang bersorak, seluruh jagat raya ini pun kegirangan. Menurut mereka, inilah pertandingan final sejati. "Beginilah pertandingan sepak bola yang sesungguhnya," demikian ditulis sebuah harian di Madrid.
Hanya, di balik pujian itu, terkandung makna lain. Perhelatan Liga Champions seolah sudah usai. Dengan kata lain, pertandingan semifinal bakal berjalan membosankan. Kekhawatiran ini tidak dibuat-buat. Kini tinggal Real Madrid, tim yang mempunyai naluri bermain terbuka, yang tersisa di babak empat besar yang mulai digelar pekan ini. Sisanya? Diisi oleh Juventus, AC Milan, dan Inter Milan—semuanya berasal dari Italia, gudang sepak bola yang menekankan pertahanan.
Selama ini tim-tim Italia memang kerap memainkan pola permainan yang defensif. Prinsip mereka, yang terpenting adalah kemenangan, tak peduli bagaimana prosesnya. Caranya? Selain menggunakan sistem pertahanan catenaccio alias gerendel, mereka juga cenderung menerapkan man-to-man marking. Pemain lawan boleh menguasai bola terlalu lama. Dan begitu lolos dari hadangan pemain tengah, buru-buru tim Negeri Spaghetti ini akan menerapkan pertahanan berlapis yang susah ditembus, bahkan oleh seorang Ronaldo sekalipun.
Dengan gaya semacam itu, jangan heran jika permainan klub atau tim nasional Italia cenderung membosankan. Bukti yang paling nyata, ketika tim Italia mampu melaju ke babak final Euro 2000: bermain full defensif di babak semifinal melawan Belanda, dan akhirnya mereka lolos melalui babak penalti. Seperti mendapat berkah, di babak final hal itu diulang lagi. Sempat unggul 1-0. Tapi, karena menerapkan permainan bertahan dan merelakan digempur habis-habisan, mereka akhirnya menyerah 1-2. Itulah sejatinya ciri permainan sepak bola Italia.
Publik Italia sendiri tentu bangga karena tiga timnya lolos ke semifinal. Ini bagaikan embusan angin segar di tengah kondisi liga mereka yang nyaris bangkrut gara-gara kehabisan duit. Sebelumnya, tim-tim Italia juga kurang beruntung berlaga di Liga Champions. Tahun lalu, tak satu pun klub Seri A yang mampu menerobos ke semifinal. Dan selama tujuh tahun terakhir, tak satu pun klub Seri A yang menjuarai Liga Champions. Itu sebabnya kali ini harian terkemuka Italia, Gazzetta dello Sport, memuji setinggi langit tiga klub dari negerinya yang akan berlaga di semifinal Liga Champions. "Ini sebuah hasil yang mengesankan," demikian ditulis harian tersebut.
Toh, koran tersebut juga cukup kritis. Pola permainan berbagai tim Italia yang cenderung bertahan pun disinggungnya. Sebagai contoh, saat Inter dan Juventus menghadapi lawan-lawannya. Kedua tim ini memainkan sepak bola dengan pertahanan yang rapat dengan tujuan segera mematahkan serangan. Taktik inilah, menurut harian Gazzetta dello Sport, yang menjadi kunci keberhasilan tim Italia. "Kita memang berada di abad ke-21, tapi ternyata kita tak kunjung juga melupakan seni catenaccio."
Permainan yang membosankan juga terjadi di Nou Camp, Barcelona. Juventus, yang bermain dengan sepuluh orang, bisa mengalahkan Barcelona 2-1 dengan perpanjangan waktu. Tapi ingat, Juventus menerapkan pertahanan yang kukuh dan hanya mengandalkan serangan balik buat membobol gawang lawan. Karena itu, menurut harian Spanyol, Marca, sejatinya Barca dikalahkan bukan oleh lawannya, melainkan oleh sebuah gaya permainan Italia.
Lebih tak menyenangkan adalah yang dilakukan Inter. Meskipun kalah di Mestalla, Valencia, mereka unggul dalam selisih gol. Inter juga berutang pada keandalan penjaga gawangnya, Francesco Toldo, yang banyak melakukan penyelamatan. Itu sebabnya pelatih Valencia (Spanyol), Rafael Benitez, frustrasi menghadapi permainan Inter. "Kalau saja semua tim bermain seperti itu, sepak bola dapat segera ditinggalkan penonton. Inilah matinya sepak bola," ujarnya kesal.
AC Milan? Agak mendingan. Tim ini lumayan agresif, kendati mereka juga hanya akan mengandalkan serangan balik jika kepepet.
Karena itulah orang Spanyol umumnya resah karena jagoan mereka, Real Madrid, dikeroyok tim-tim yang lihai bertahan. Dan sudah bisa dipastikan, satu tiket partai final dipegang oleh tim dari Italia. Di semifinal, Inter akan berhadapan dengan AC Milan, dan Juventus menantang Real Madrid.
Luis Suarez, seorang Spanyol yang pernah bermain untuk Inter Milan pada 1960-an, melontarkan perbedaan yang tajam antara gaya permainan sepak bola Italia dan negerinya. Menurut dia, gaya catenaccio menomorduakan permainan dan mementingkan kemenangan. Gaya Spanyol? "Di negeri kami, penonton adalah raja. Mereka akan bersemangat ketika tim mereka menyerang habis-habisan," tuturnya.
Mimpi buruk publik Spanyol akan terjadi jika Real bisa diperdaya oleh Juventus. Ini berarti juara Liga Champions akan jatuh ke tim Italia. Itu sebabnya, Ronaldo, yang pernah malang-melintang di Liga Italia, mewanti-wanti agar teman-temannya mewaspadai permainan Juventus. Bukan sekadar karena gaya permainannya. "Juve adalah tim Italia yang terbaik," ujar Ronaldo seperti dilansir PlanetFootball.com. Kelebihan Tim Zebra itu terletak pada mental bermain yang bagus dalam setiap pertandingan. "Jadi, akan sangat sulit untuk bisa mengatasinya."
Meski begitu, Ronaldo menyerukan agar teman-temannya bermain biasa saja seperti yang mereka lakukan selama ini. Apalagi, Real Madrid diuntungkan karena posisinya di klasemen Liga Spanyol sudah aman. Jadi, si Pelontos yakin timnya bakal mampu melibas Juventus. "Kami mempunyai peluang besar untuk menjadi juara di dua kompetisi," ujarnya.
Jika tekad Ronaldo dan kawan-kawannya kandas, apa boleh buat, penonton bukan lagi raja. Mereka dipaksa mengagumi pertahanan gerendel ala Italia dan mesti menikmati final Liga Champions yang mungkin akan membosankan.
Irfan Budiman
|