Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Opini

Biarkan Inul Bergoyang

Si goyang 'ngebor' Inul Daratista mendapat dukungan banyak orang. Kini ia jadi simbol orang tertindas.

Jika di bulan ini ada pemilihan presiden secara langsung dan Inul Daratista salah satu calonnya, jangan kaget jika Presiden Republik Indonesia yang keenam adalah Ainur Rokhimah—nama Inul yang sebenarnya. Wajah perempuan desa dari Pasuruan ini nyaris muncul di semua koran, tabloid, majalah, juga poster para pengunjuk rasa yang ada di Bundaran HI Jakarta, Semarang, Surabaya, dan entah di mana lagi. Tampang Inul setiap hari muncul di televisi, channel mana pun yang dituju. Ia jadi topik diskusi di radio secara interaktif, menghias editorial koran-koran, jadi bahan tulisan para kolumnis. Semua akronim populer yang ada huruf "I" sudah dipelesetkan para penggemar Inul. Misalnya, FBI (Fans Berat Inul), FPI (Front Pembela Inul), PDI (Partai Dangdutnya Inul), PPIB (Paguyuban Penggemar Inul Bergoyang). Para demonstran yang membela Inul pun mengusung kertas yang bertuliskan "Inul for president".

Kenapa fenomena Inul luar biasa begini? Karena ia sekarang jadi simbol "anak desa yang tertindas" dan menjadi sebuah ikon perjuangan. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi "politikus tertindas" di masa rezim Orde Baru, ia menjadi simbol perjuangan. Bahkan partai "bawah tanah" yang dipimpinnya disebut PDI Perjuangan. Masa kelas bawah kemudian memberikan dukungan ketika PDI Perjuangan ikut dalam pemilu, yang membuat PDI "tanpa perjuangan" mati kutu.

Kini, dalam skala yang lebih kecil tapi dalam gemuruh yang sama, Inul dielu-elukan banyak orang. Siapa yang menindas Inul yang membuat ia jadi pahlawan? Alkisah, tersebutlah Rhoma Irama yang dijuluki si raja dangdut, yang berang melihat goyang ngebor Inul yang dikatakan sangat cabul, merusak akhlak dan moral, yang menyebabkan maraknya pemerkosaan, dan seterusnya. Rhoma melarang Inul menyanyikan lagu ciptaannya dan bahkan mengancam mencekal tampilnya Inul di televisi. Dengan kepolosannya (dari sini penekanan "anak desa" itu dimunculkan, seolah-olah semua anak polos dari desa), Inul mendatangi sang Raja Dangdut dan meminta maaf. Dalam pertemuan ini sang Raja "memarahi rakyatnya" dengan caranya sendiri. Inul menangis tersedu-sedu keluar dari pertemuan itu. Tapi Inul tidak sendirian. Ada yang menyaksikan pertemuan itu. Dan mereka yang menjadi saksi itulah yang "berontak" tak tega melihat Inul diperlakukan seperti itu dan "membocorkan" keluar. Dari sini berawal gegernya sebuah negeri gara-gara goyangan seorang pedangdut. Banyak orang yang tadinya tak peduli dengan dangdut, yang tak suka menonton Inul, bahkan tak kenal siapa itu Inul, ikut-ikutan geger. Dari mantan presiden Abdurrahman Wahid sampai ibu-ibu pejuang HAM perempuan membela Inul. "Inulitas" mewabah begitu cepat melebihi virus SARS.

Sebuah pelajaran berharga untuk Rhoma, dan siapa pun orang di negeri ini yang suka berbicara moral, agar bertanya kepada diri sendiri sebelum memvonis seseorang itu rusak moralnya. Lebih-lebih moral yang didasarkan pada goyangan pinggul ala Inul, yang sampai sekarang menjadi pro dan kontra apakah goyangan itu artistik, erotis, sensual, cabul, ngeres, dan sebagainya. Perlu banyak seminar dan lokakarya—juga penelitian dan kajian—untuk mengetahui apakah goyang Inul ini memang lebih sensual dibanding goyang joget bumbung Bali, atau jaipongan Indramayu, atau ronggeng Banyumas.

Mari kita relakan Inul terus bergoyang dengan kekhasannya. Apalagi ia akan berkeliling ke negara-negara Barat—setelah sukses di Jepang dan negara-negara Asia dan menjadi satu-satunya artis dangdut yang diberitakan oleh majalah Time. Juga kita syukuri, anak negeri ini masih bisa bergoyang bersama Inul ataupun tanpa Inul. Dangdut hiburan murah untuk bersuka-ria, lupa bahwa harga gula belum juga turun. Goro-goro ratu ngebor ini anggaplah selingan untuk berita-berita buruk tentang pejabat kita yang korup, partai yang sibuk cari calon presiden, atau perkembangan tak menentu di Aceh. Bergoyanglah, Inul, jangan dulu pulang ke desa.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data