Bom Bandara Siapa Punya Tiga kelompok dicurigai. Juru bicara GAM membantah keras. Tes DNA juga sulit. |
WAJAHNYA meringis menahan sakit. Tapi, lebih dari rasa sakit itu adalah pupusnya sebagian mimpi masa depan: kaki kirinya yang harus diamputasi karena hancur dari telapak hingga ke sendi. Apalagi sebelumnya, wanita bernama Yuli, 18 tahun, itu adalah tulang punggung ekonomi keluarganya yang tinggal di Desa Wirosari, Kecamatan Wirosobo, Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.
Yuli adalah satu dari sebelas korban bom yang meledak di lobi Terminal II F Bandara Soekarno-Hatta, Ahad dua pekan lalu. Pagi itu Yuli bangun lebih cepat dari biasanya. Maklum, majikannya yang tinggal di kawasan Penjernihan, Pejompongan, Jakarta Pusat, hendak mengantar seorang kerabat yang akan terbang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Sambil duduk-duduk di dekat restoran cepat saji di lobi Bandara, terjadilah bencana itu. Tas warna hitam yang berisi bom rakitan berdaya ledak rendah itu meletus pas di sebelah kaki kiri Yuli. Meski tak mengganggu jadwal penerbangan pesawat, polisi tak kurang sibuk menangani peledakan ini. Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar langsung menginstruksikan penambahan pengamanan untuk obyek-obyek vital di Indonesia, khususnya Jakarta. Direktur Pengamanan Obyek Vital Polda Metro Jaya, Kombes Ugro Seno, ditunjuk mengkoordinasi sistem keamanan di Bandara.
Sebelum kejadian Ahad pagi itu, pekerjaan rumah polisi untuk mengungkap aksi pengeboman sudah menumpuk. Tiga hari sebelumnya bom meledak di belakang kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tepatnya di bawah jembatan Kali Cideng, Jakarta Pusat. Untunglah tak ada korban. Tapi, siapa pelakunya? Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar menyatakan, ada tiga kelompok organisasi yang dicurigai. Nah!
"Kelompok tersebut dari Gerakan Aceh Merdeka, pelaku bom Bali, dan Jamaah Islamiyah," kata Da'i Bachtiar ketika menjenguk korban bom Bandara. Dugaan itu didasari kemiripan bahan peledak, barang bukti yang ditemukan di Bandara, dengan dua peristiwa peledakan lain, yaitu di belakang Gedung PBB dan di depan Kantor Wali Kota Medan, beberapa waktu lalu. Kesamaan itu terlihat dari konstruksi, desain, dan isi bahan peledak yang digunakan.
Kecurigaan terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tampaknya berawal dari tertangkapnya delapan anggota GAM dari 13 tersangka pelaku kasus bom Medan. Tapi juru bicara GAM, Sofyan Daud, membantah keras dugaan itu. Panglima GAM wilayah Pidie ini menyatakan, tudingan Kapolri hanya propaganda untuk menyudutkan GAM. "Alangkah naifnya seorang pejabat tinggi negara memberikan pernyataan sebelum melakukan penyelidikan dan verifikasi," kata Sofyan Daud kepada Zainal Bakri dari Tempo News Room.
Bom Bandara memang tak sama persis dengan dua bom lainnya. Yang membedakannya, menurut Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Erwin Mappaseng, adalah adanya unsur TNT (trinitrotoluene). Cuma, menurut dugaan polisi, unsur TNT ini sengaja digunakan untuk mengesankan perbedaan bom Bandara dengan bom di Kali Cideng dan di Medan. "TNT-nya sangat sedikit," kata Erwin Mappaseng.
Menurut Kolonel Suryo Prabowo, anggota Komando Pasukan Khusus yang ahli bahan peledak, bom jenis ini relatif mudah dibuat. Prinsip dasarnya malah sama dengan petasan. Bedanya, bom jenis ini tak dibungkus kertas, tapi dibungkus dengan wadah logam atau pipa besi. Bungkus inilah yang dapat melukai—bahkan membunuh—korbannya.
Erwin Mappaseng juga membenarkan penemuan topi di lokasi, dengan tulisan "Tobelo" dan "Galela" di sisi depan, dan "Tulang Bawang" di sisi belakang. Tobelo dan Galela daerah konflik di Maluku, sedangkan Tulang Bawang tempat berdirinya "Negara Islam Indonesia" di Lampung.
Mungkin topi itu milik pelaku, karena para korban tak ada yang mengaku memilikinya. Menanggapi ide untuk melakukan tes DNA pada topi tersebut, Erwin tak terlalu optimistis. "Itu sulit dilakukan," katanya. Sebab, "Untuk menentukan kepemilikan topi itu berdasarkan tes DNA, kita harus punya DNA pembandingnya."
Cahyo Junaedy
|