Orang-Orang Nyentrik di Sekitar Cak Nur |
Beberapa pria muda hilir-mudik di kampus Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, Senin pekan lalu. Ada yang sibuk menelepon, ada pula yang berbicara dengan sesamanya. Hari itu Nurcholish Madjid mengundang wartawan untuk mengumumkan kesediaannya menjadi calon presiden pada Pemilu 2004.
Ketika para wartawan datang dan memenuhi ruang rapat di kampus itu, mereka segera membaur, duduk di kursi baris belakang atau berbincang dengan para wartawan. Nurcholish menyebut mereka "orang-orang nyentrik". Katanya sembari terkekeh pelan, "Sekumpulan anak muda, 40 tahunan, yang tidak mau ikut-ikutan edan."
Ternyata "orang-orang nyentrik" inilah tim sukses Cak Nur. Sebuah tim kecil, terdiri dari sekitar 10 orang, yang bekerja untuk mempersiapkan Cak Nur "bertempur" di arena pemilihan presiden secara langsung tahun depan.
Menurut Utomo Dananjaya, karib Cak Nur dan salah seorang pengurus Universitas Paramadina Mulya, anggota tim itu antara lain Erry Riyana Hardjapamekas (bekas Direktur Utama PN Timah), Sudirman Said (akuntan), Nizar Suhendra (aktivis LSM), Ibnu Sunanto (Yayasan Paramadina), dan Utomo sendiri. Tak ketinggalan Rahmat Hidayat, sekretaris pribadi Nurcholish yang setia. "Di luar itu masih ada beberapa kawan yang bekerja sukarela," ujar Sudirman.
Kelompok itu terbentuk dalam serangkaian diskusi internal tahun lalu. "Jujur saja, ini adalah interaksi yang saling memerlukan," kata Sudirman. Maksudnya, ada sejumlah orang yang sukarela ingin membantu ketika Nurcholish ada keinginan maju menjadi calon presiden.
Mereka sendiri sebelumnya sudah saling mengenal. Sudirman dan Utomo, misalnya, kerap bertemu dalam berbagai diskusi. Erry, Sudirman, dan Nizar adalah pengurus Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), lembaga nirlaba yang aktif mengkampanyekan gerakan antikorupsi. "Erry Ryana diminta bergabung karena dia anggota tim pembenahan manajemen Yayasan Paramadina," kata Sudirman lagi.
Anggota tim lainnya direkrut berdasarkan asas kepercayaan dan pertemanan. "Nanti, jika organisasi sudah lebih baik, kami akan melakukan rekrutmen terbuka," tutur Sudirman. Rencananya, kelak anggota tim akan digaji secara profesional. Jika kelak Cak Nur harus berkoalisi dengan partai tertentu, anggota tim bukan tak mungkin bertambah. "Dan kami kemudian jadi bagian dari koalisi itu," tambahnya lagi.
Karena belum jadi lembaga resmi, tim ini bekerja serabutan. Mereka mengatur perjalanan Nurcholish ke daerah-daerah, mulai dari memesan tiket hingga penginapan. Mereka pula yang mempersiapkan acara, misalnya bertemu dengan tokoh-tokoh politik.
Mereka sering ketemu di kantor MTI di kawasan Kebayoran Baru atau di Kampus Paramadina Mulya. Bisa juga dilakukan di sebuah kafe. Kini mereka sedang menyiapkan kantor yang lebih permanen meski tempatnya belum dipastikan.
Bagaimana dengan dana? Jangan membayangkan ada duit melimpah-ruah. Menurut Sudirman, mereka hati-hati betul terhadap donasi dari luar. "Kami sepakat, dana tidak boleh didominasi oleh segelintir orang," katanya. Tujuannya, agar Nurcholish tidak disetir oleh pemberi dana. Sudah bukan rahasia lagi, di masa pemilu banyak "pengusaha hitam" yang menggelontorkan duit ke kandidat sebagai "premi asuransi". Maksudnya gampang ditebak: jika kelak sang kandidat terpilih, mereka berharap aman dari sentuhan hukum. "Bahkan, jika nanti proses berlanjut, keuangan tim akan diaudit dan diumumkan ke publik," kata Sudirman lagi.
Karena belum mengantongi dana besar, tim menggunakan dana operasional dari kocek bersama yang ditanggung secara gotong-royong. Dana untuk tiket pesawat, sewa kamar hotel, atau sekadar makan, misalnya, ditanggung bersama. Adapun perjalanan dalam kota menggunakan mobil pribadi secara bergantian.
Belum jelas kapan tim ini akan mendeklarasikan diri. Menurut Erry Riyana, mereka masih menunggu disahkannya UU Pemilihan Presiden, yang salah satu pasalnya mengatur soal tim sukses. Sementara menunggu, tim sukses Cak Nur bekerja secara informal. Dengan dana bantingan, kerja serabutan, dan gaya yang nyentrik, seperti kata Cak Nur.
Arif Zulkifli, Cahyo Junaidi
|