Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Luar Negeri

'Roh Leluhur' yang Naik Kelas

Haiti menjadikan Voodoo sebagai agama resmi negara.

Ombu Ukunge, 22 tahun, tampak memejamkan mata. Pemuda bertubuh kekar itu sedang melangsungkan perkawinan dengan perempuan pujaannya. Seorang mambo, perempuan pemimpin agama Voodoo, terlihat khusyuk berdoa. Lantunan mantra sakti lamat-lamat memecah kesunyian. Belasan lelaki bertelanjang dada yang mengelilingi mempelai memanggil-manggil Damballah, dewa pelindung penganut Voodoo.

Peristiwa pernikahan itu pekan lalu menjadi perhatian warga Haiti. Itulah perkawinan pertama setelah Presiden Haiti, Jean Bertrand Aristide, menjadikan Voodoo sebagai agama resmi negara. Keputusan kontroversial ini sempat mengguncang Gereja Katolik Roma. Soalnya, Aristide selama ini dikenal sebagai penganut Katolik Roma yang taat. Pria berusia 56 tahun ini dibesarkan di sebuah seminari. Bahkan, sebelum terpilih sebagai Presiden Haiti pada 1990, Aristide menjadi pelayan Tuhan di sebuah gereja tua di Port Au Prince, ibu kota Haiti.

Dengan keputusan Aristide, segala aktivitas ritual Voodoo—perkawinan, pengajaran agama, hingga ritual Voodoo pada acara kenegaraan—tak lagi dianggap ilegal. "Voodoo adalah udara yang dihirup warga Haiti," ujar Aristide.

Aristide tak asal bicara. Bagi Haiti, negeri kecil di Kepulauan Karibia yang berpenduduk 7 juta jiwa itu, Voodoo memang menjadi napas kehidupan. Kematian, penyakit, kegagalan panen, juga berita gembira selalu dikait-kaitkan dengan Voodoo. Tak aneh, ada joke menarik soal komposisi agama di Haiti: "70 persen Katolik, 30 persen Protestan, dan 100 persen Voodoo".

Namun, Voodoo sejatinya bukan kepercayaan asli Haiti. Menurut E. Belgum, ahli agama yang menulis buku Voodoo (diterbitkan Greenhaven Press, San Diego, 1991), Voodoo lahir di kawasan Afrika Barat. Sejak abad pertengahan, suku Yoruba—suku ini sekarang banyak bermukim di Togo, Benin, dan Nigeria—telah menjalankan pelbagai ritual Voodoo. Dalam bahasa Yoruba, kata "voodoo" sebenarnya berarti "roh para leluhur". Dari kawasan Afrika Barat inilah, pada abad ke-18, Voodoo bermigrasi ke Haiti. Para budak Negro yang diculik tentara Spanyol, dan dipekerjakan di pelbagai perkebunan tebu di Haiti, menjadikan voodoo sebagai "sang dewa penolong".

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, sebenarnya mengenal istilah Voodoo. Hanya, Voodoo di sini adalah versi yang dipotret dengan lensa hitam pekat. Pelbagai stempel buruk—mulai dari pembunuhan lewat boneka, pemujaan terhadap setan, dan pengorbanan jiwa seorang perawan—menempel kuat pada kepercayaan Voodoo. Padahal, "Itu hanyalah ajaran Voodoo versi film Hollywood," ujar Mamaissii Vivian, doktor ahli Voodoo yang kini bermukim di New York, Amerika Serikat.

Tak cuma para produser Hollywood, kaum orientalis picik juga berperan dalam membuat stigma jahat pada Voodoo. Stephen St. John, misalnya, pada 1884 menulis buku sensasional berjudul Haiti or the Black Republic. Buku yang mulanya beredar di Amerika dan Eropa ini menggambarkan pelbagai sifat kanibal pada ajaran Voodoo. Dengan gagah berani, St. John menyebut Voodoo sebagai "evil religion".

Kini, 60 juta penganut Voodoo di seluruh dunia tengah berjuang melepas stigma negatif atas kepercayaan mereka. Keputusan Presiden Aristide menjadikan Voodoo sebagai "agama" resmi negara merupakan momen bersejarah bagi mereka. Soalnya, bahkan di negara-negara Afrika Barat, tempat asal kepercayaan Voodoo, negara tak mengakui Voodoo sebagai agama resmi.

Untuk mengubah persepsi dunia, pelbagai kampanye dan penjelasan soal Voodoo dilakukan secara aktif. Di Amerika Serikat, khususnya di New Orleans, pelbagai perangkat kebutuhan penganut Voodoo diperdagangkan secara bebas. Mereka telah menggelar acara ritual mistis ala Voodoo secara terbuka.

Sebenarnya, di samping pelbagai perbedaan, banyak pula "persamaan" konseptual antara Voodoo dan agama-agama langit (Nasrani, Islam, dan Yahudi). Penganut Voodoo, misalnya, percaya adanya kehidupan setelah kematian, pertempuran antara kekuatan baik dan jahat, serta perlunya ritual "pengorbanan" bagi Tuhan Sang Pencipta. Konsep-konsep ini, meski diimplementasikan dengan cara yang berbeda, terdapat pada ajaran Nasrani, Islam, dan Yahudi.

Presiden Aristide, yang belakangan gemar mengusung theologi pembebasan, punya kata-kata bijak. Saat meresmikan Voodoo sebagai agama resmi bagi Haiti, ia berujar, "Barangkali, kebenaran bukanlah monopoli satu agama."

Setiyardi (BBC, religioustolerance.com, voodooshop.com)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data