Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Luar Negeri

Menghapus Arang Wall Street

Sepuluh perusahaan keuangan raksasa diganjar hukuman oleh otoritas pasar modal Amerika Serikat. Aksi bersih-bersih di bursa terbesar dunia.

WILLIAM H. Donaldson terlihat lega seusai menggelar konferensi pers yang dipadati pengunjung di basement Securities and Exchange Commission (SEC) di Washington, Senin pekan lalu. Ketua SEC—badan pengendali pasar modal—Amerika Serikat ini baru saja mengungkapkan penyelesaian akhir sebuah skandal besar di Bursa Saham New York (NYSE). Ia telah menghapus arang yang mencoreng pusat transaksi saham terbesar di dunia.

Donaldson, yang didampingi Eliot Spitzer, jaksa Negara Bagian New York, mengumumkan pemberian sanksi atas sepuluh perusahaan keuangan terbesar di Wall Street. Berdasarkan hasil investigasi SEC dan kejaksaan, perusahaan-perusahaan ini—di antaranya Credit Suisse First Boston (CSFB), Goldman Sachs, dan Merrill Lynch—terbukti telah mengeluarkan hasil riset yang bias atas sejumlah emiten, terutama saham-saham telekomunikasi dan teknologi, pada periode 1990-an. Sanksi buat mereka bukan alang kepalang: denda US$ 1,38 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun.

Denda besar itu dibarengi pula dengan sanksi bagi analis tenar era 1990-an, Jack Grubman dan Henry Blodget. Mereka didenda masing-masing US$ 15 juta dan US$ 4 juta. Mereka juga dilarang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan transaksi di Wall Street. Keduanya mendapat ganjaran, menurut Donaldson, karena terbukti telah mengeluarkan laporan hasil riset yang menyesatkan.

Upaya bebersih oleh Donaldson memang buntut panjang akibat dilabraknya garis pemisah (Chinese wall) antara lembaga riset dan lembaga investasi. Sudah menjadi keharusan bahwa para analis, dalam melakukan pekerjaannya, mesti independen. Beratus-ratus lembar bukti yang dilemparkan Donaldson dan Spitzer telah menelanjangi konflik kepentingan antara lembaga riset dan lembaga investasi. Hal ini menimbulkan hasil analisis yang bias.

Misalnya yang dilakukan seorang analis Merrill Lynch. Sehari sebelum Tyco—perusahaan teknologi yang listed di NYSE—mengumumkan akuisisi terhadap Siemens senilai US$ 1,1 miliar, sebuah surat elektronik tanpa nama masuk ke Direktur Tyco. Surat elektronik ini datang dari analis di Merrill Lynch. Ketika itu, diketahui bahwa Phua Young adalah analis yang meng-cover Tyco. Isi surat itu amat pendek: meminta bantuan Tyco atas kebenaran akuisisi. Sehari sebelum akuisisi terjadi, analis di Merrill Lynch itu memberikan analisisnya ke sejumlah lembaga investasi. Disebutkannya, Tyco akan mengakuisisi Siemens. Keesokan harinya, akuisisi benar terjadi, saham Tyco sudah laris sebelumnya, harganya sudah melambung.

Seorang analis senior di CSFB punya pengalaman lain. Suatu ketika, ia kebagian menganalisis saham Digital Impact berdasarkan pesanan sebuah bank investasi yang menjadi pemegang sahamnya. Ketika saham Digital terjungkal dari US$ 50 menjadi kurang dari US$ 2, ia berupaya memberikan nasihat kepada para investornya agar melepas Digital. Kenyataannya, berdasarkan investigasi SEC, kliennya—bank investasi yang punya saham itu—berkeinginan mempertahankan sahamnya. Buat membantu kliennya dari kerugian, analis ini mengeluarkan rekomendasi "beli" untuk saham Digital.

Kedekatan antara lembaga riset dan investor semacam itu ternyata tak gratis. SEC dan kejaksaan menemukan bahwa Dennis Kozlowski—salah satu pemimpin Tyco—diduga menjarah Tyco US$ 600 juta. Duit bergepok-gepok ini ditujukan buat pembayaran yang tak jelas serta penjualan saham yang tak sepatutnya. Selidik punya selidik, Kozlowski menggunakan uang itu buat menjamu Young, termasuk memberinya anggur dan sampanye mahal.

Begitu besar pengaruh perusahaan-perusahaan investasi itu. Simak saja hasil survei internal oleh Goldman Sachs terhadap para analisnya yang menanyakan apa tiga tujuan utama yang akan mereka capai pada 2000. Mereka menjawab ketiga-tiganya dengan "memberi bank investasi keuntungan lebih banyak lagi."

Kini arang telah dihapus, lantai bursa diharapkan bersih lagi, dan berkahnya lalu menciprat ke lembaga-lembaga riset independen. Soalnya, kesepuluh perusahaan tersebut selama lima tahun ke depan diwajibkan menggunakan analis independen buat melakukan aktivitasnya. Saatnya bagi lembaga riset independen buat membuktikan kepercayaan yang mendadak jatuh ke tangan mereka.

Agus Hidayat (AP, Reuters, SEC)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data