’Indiana Jones’ Turun Gunung Para ahli purbakala sedunia berikhtiar keras untuk menyelamatkan jejak peradaban masa silam di Bagdad yang hancur oleh perang dan penjarahan. |
Peti berisi tumpukan manuskrip dan berhelai-helai perkamen itu dihantarkan seorang lelaki ke sebuah masjid di Kota Bagdad. Menyusul ke sana, satu pianis yang menenteng aneka barang kuno, termasuk patung raja Assyria dari abad ke-9 sebelum Masehi. Tak lama kemudian, seorang pria bolak-balik mendrop puluhan koleksi barang antik, termasuk sebuah vas berusia tujuh abad, kepada pengurus masjid.
Kegiatan di masjid itu, secara langsung maupun tak langsung, sejatinya berhubungan dengan aktivitas lain yang berlangsung nun jauh di London, pada pekan lalu. Di kota itu, berkumpullah para ahli sejarah purbakala dari seantero dunia. Selain geram melihat hancur binasanya jejak peradaban dunia di Irak karena perang dan penjarahan, mereka mulai mengikhtiarkan langkah penyelamatan harta karun sejarah yang tak ternilai itu.
Bom Amerika memang menghancurkan situs-situs bersejarah sejak zaman Mesopotamia. Namun peradaban purbakala itu kian binasa justru setelah perang—secara resmi—berakhir. Para penjarah, yang diduga telah merancang kejahatan ini sejak jauh-jauh hari, bergerak cepat menggaruk isi berbagai museum sejarah dan arkeologi di Bagdad. ”Delapan puluh persen barang yang kami punya telah dicuri,” ujar Raid Abdul Reda, arkeolog di Museum Nasional Irak.
Lemari-lemari yang menyimpan koleksi sejarah tua di museum itu kosong melompong. Pecahan kaca berserakan di lantai. ”Ini adalah kejahatan terbesar abad ini,” kata Donny George, direktur riset sekaligus kurator di Museum Bagdad. Hancurnya jejak peradaban dunia ini membuat para ”Indiana Jones”—ini nama seorang ahli purbakala yang diperankan Harrison Ford dalam sekuel Indiana Jones karya sutradara Steven Spielberg—berkumpul dan bersidang di London.
Para ”Indiana Jones” benar-benar naik pitam karena pasukan Amerika diam saja menyaksikan penjarahan aneka museum dan perpustakaan: ”Luar biasa…, tentara Amerika berada nyaris di depan pintu gerbang museum dan membiarkan saja kejadian itu,” ujar Neil MacGregor, Direktur Museum Inggris. Dalam pertemuan tersebut, mereka bersepakat mengkampanyekan pembangunan kembali institusi budaya Irak. Museum Inggris menawarkan diri sebagai clearing house untuk menampung serta memperbaiki barang-barang hasil jarahan.
Badan PBB untuk Urusan Pendidikan (UNESCO) mengirimkan sebuah tim ke Bagdad untuk mendaftarkan barang yang hilang maupun yang masih tersisa. Direktur Jenderal UNESCO, Koichiro Matsuura, mendesak Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk mengembargo penjualan seluruh obyek budaya Irak di pasar internasional selama periode tertentu. Banyak yang curiga bahwa penjarahan serta penyelundupan itu dilakukan oleh organisasi profesional.
Kecurigaan itu bukan tidak berdasar. Menurut Donny George, pemerintah Yordania telah menahan 12 kotak barang antik dan dokumen penting yang diselundupkan dari Irak. Lebih edan lagi, penyelundup 12 kotak tersebut adalah seorang wartawan asing. Bahkan seorang staf Fox News—sebuah saluran televisi Amerika— ketahuan menggondol 12 lukisan dari Istana Saddam Hussein saat bagasinya diperiksa di Bandara Dulles, Washington, DC.
Kemarahan dunia yang bertubi-tubi membuat pasukan Amerika gerah juga. Tadinya tidak peduli, mereka akhirnya menerjunkan tentara untuk menjaga museum yang sudah amburadul. Pemeriksaan di pintu-pintu perbatasan diperketat. Amerika juga ”melombakan” pengembalian barang jarahan dengan imbalan melalui siaran-siaran di radio.
Irak memang sebuah museum dunia dalam arti sesungguhnya. Menyimpan peninggalan masa kejayaan Babilonia, Samaria, Assyria, maupun Islam, Irak telah melahirkan bermacam karya akbar di bidang sastra, arsitektur, hukum, matematika, farmasi, dan astronomi sejak 10 ribu tahun lampau. Tak mengherankan jika mantan Menteri Penerangan Irak Muhammad Said al-Sahaf berani meledek Presiden Amerika seperti ini di hadapan ratusan wartawan dalam dan luar negeri: ”Sebelum nenek moyang George Bush mengenal baca-tulis, kami sudah menetapkan hukum-hukum matematika.”
Kini, segala jejak peradaban itu tinggal ceritera. Dan para arkeolog sedunia meratapi ratusan ribu artifak yang selamat di masa pendudukan Persia, Alexander Agung, maupun Mongol, tapi justru hancur di tangan Amerika serta para penjarah profesional itu.
Purwani Diyah Prabandari (The Guardian, NYT, BBC)
|