Lab Hidup di Kayan Mentarang Pusat keanekaragaman hayati dan kawasan lindung terpenting. Ternyata Rafflesia juga ditemukan di Kalimantan. |
PARIS Dawat menyalakan motor perahunya. Ia mencemplungkan kakinya ke dalam air sungai untuk memutar arah ketinting—sebutan masyarakat setempat untuk perahu—agar mengikuti arus air Sungai Pilutut menuju Desa Pa'raye, Kecamatan Krayan Darat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Dari dermaga kecil di Long Umung itu dibutuhkan waktu hampir sejam untuk mencapai Pa'raye, desa kecil di pinggir Taman Nasional Kayan Mentarang. Dengan perlahan, pada sore yang mendung itu, ketinting membelah Sungai Pilutut, yang kanan-kirinya disesaki semak belukar, rotan yang menjalar, dan pohon tinggi menjulang. "Pilutut artinya keruh," ujar lelaki berusia 60 tahun itu. Sesekali ketintingnya berpapasan dengan ketinting lain.
Saat memasuki perkampungan Pa'raye, jangan kaget, Anda hanya akan melihat 20-an rumah panggung kayu yang dibangun mengelilingi sebuah padang rumput seluas lapangan sepak bola. Desa itu memang hanya berpenduduk 125 jiwa, yang terbagi atas 31 keluarga.
Tinggal di pinggiran taman nasional, penduduk desa itu—sebagaimana 49 desa lain di sekitar taman nasional tersebut—benar-benar menggantungkan hidup pada hasil hutan. "Tapi kami hanya menggunakan hasil hutan sesuai dengan kebutuhan," ujar Paris. Menurut dia, sejak kawasan itu ditetapkan menjadi taman nasional tujuh tahun lalu, ada keinginan dari masyarakat setempat untuk menjaga hutan tersebut—meskipun jauh sebelumnya sudah ada semacam kearifan lokal untuk hal yang sama.
Di seluruh kawasan taman nasional itu ada 10 wilayah adat, dihuni oleh sekitar 16 ribu orang penduduk dari komunitas Dayak, seperti suku Kenyah, Kayan, Lundaye, Tagel, Saben, dan Punan. Lebih dari 50 persen wilayah adat mereka di dalam kawasan taman nasional.
Terletak di sepanjang perbatasan antara Kalimantan Timur dan wilayah Negara Bagian Sabah dan Serawak, Malaysia, kawasan seluas 1,35 juta hektare ini adalah salah satu pusat utama keanekaragaman hayati penting dunia dan kawasan lindung terpenting di Asia tropis. Menurut publikasi World Wide Fund for Nature (WWF) tahun 1994, Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan pusat terbesar keanekaragaman hayati dan endemisme tumbuhan untuk Pulau Kalimantan.
Jenis flora yang dilaporkan hidup di dalam kawasan ini termasuk 500 jenis anggrek dan sedikitnya 25 jenis rotan. Dari 228 jenis mamalia di Kalimantan, lebih dari 150 jenis diduga terdapat di taman nasional ini. Beberapa di antaranya jenis endemik (khas) Kalimantan. Birdlife International mencalonkan pegunungan Kayan Mentarang sebagai salah satu daerah konservasi burung-burung endemik terpenting di dunia. Sejauh ini, telah tercapat 337 jenis burung, termasuk jenis yang terancam punah.
Dalam ekspedisi bersama ilmuwan Indonesia dan Malaysia yang digelar WWF bulan lalu di kawasan ini ditemukan puluhan spesies dan record (catatan) baru flora dan fauna. Contoh yang paling mengejutkan adalah bunga Rafflesia yang ditemukan pada 8 April lalu—padahal sebelumnya bunga langka ini hanya ditemukan di belantara Sumatera.
Berbeda dengan Rafflesia arnoldi yang ditemukan pada 20 Mei 1818 di tepi Sungai Muna, Bengkulu, oleh Sir Thomas Stamford Raffles dan Dr. Joseph Arnold, bunga jenis ini ukurannya lebih kecil, berdiameter 30 sentimeter. Bentuk fisiknya juga lain, memiliki bercak putih—sementara arnoldi berwarna merah. Bentuk dan warna ramenta atau bulu-bulunya juga berbeda. Demikian juga jumlah prosesus atau lubang diafragmanya.
Ketika menemukannya, tim ekspedisi yakin bahwa bunga itu adalah spesies baru. Namun ada juga yang menduga temuan itu mirip dengan Rafflesia pricei, yang ditemukan di hutan Sabah, Malaysia. "Yang jelas, ini adalah record pertama Rafflesia jenis ini di Indonesia," ujar Harry Wiriadinata, staf Herbarium Bogor yang ikut dalam ekspedisi. Ia pun langsung memboyong spesimen jenis baru itu untuk disimpan di lembaganya.
Menurut dia, memang tak gampang memastikan apakah itu sebuah spesies baru atau bukan—karena harus diteliti lebih dalam dan dipublikasikan. Sedikitnya terdapat 16 jenis Rafflesia di dunia, yang tersebar di hutan-hutan Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Taman Nasional Kayan Mentarang ternyata juga sangat kaya dengan berbagai jenis serangga. Sekitar 10 ribu jenis serangga ditemukan di sini dan 500 jenis di antaranya adalah jenis semut. Bahkan enam dari tujuh jenis lebah Indonesia—dan sembilan jenis di dunia—ditemukan di sini. Menurut Rosichon Ubaidillah, ahli serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, setidaknya 80 persen dari 30 jenis serangga yang ditemukan adalah record baru untuk Kalimantan. Diperkirakan ada 7-10 juta jenis serangga di seluruh dunia.
Pakar mamalia Ibnu Maryanto dari Museum Zoologi Bogor mengungkapkan, timnya menemukan beberapa jenis mamalia yang merupakan spesies dan record baru. Dua spesies baru yang ditemukan adalah Sundamys sp. (tikus besar) dan Rhinolophus sp. (kelelawar). Sementara itu, Glyphotes simus (bajing) merupakan record baru untuk Kalimantan dan Hylobates muelleri (monyet) adalah jenis yang banyak ditemukan. Ia juga mengungkapkan ditemukannya dua jenis ikan baru, Seliang binai dan Ribarau, serta satu jenis endemik baru Kalimantan, Dektet.
Kawasan ini juga kaya aneka burung. Menurut Candradewana Boer, ahli ekologi kehidupan liar dari Universitas Mulawarman, Samarinda, jenis yang banyak ditemukan di antaranya Calorhamphus fuliginosis (barbet/burung takur), Megalaima chrysopogon (takur emas), Megalaima monticola (takur gunung), Rhyficeros undulatus (enggang), Musicapa sibirica, dan Argosianus argus (kuau). "Burung kuau adalah endemik Kalimantan," ujarnya. Malah, dalam tradisi Dayak, terdapat tari kuau.
Taman Nasional Kayan Mentarang memang ibarat laboratorium hidup bagi para peneliti hewan dan tumbuhan. Kawasan ini juga merupakan habitat bagi banyak jenis satwa dilindungi seperti banteng (Bos javanicus), beruang madu (Helarctos malayanus), trenggiling (Manis javanica), macan dahan (Neofelis nebulosa), landak (Hystrix brachyura), dan rusa sambar (Cervus unicolor).
Namun potensi keanekaragaman hayati di Kayan Mentarang bisa rusak—seperti yang dialami sejumlah taman nasional lain di Indonesia—jika hutan tak dijaga dengan baik. Kebutuhan masyarakat setempat akan sumber daya alam di hutan itu, misalnya, harus bisa diakomodasi dalam sistem zonasi yang ada. Menurut I.G.N.N. Sutedja, project executant WWF Tarakan, sebagian besar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang akan dijadikan zona pemanfaatan tradisional, sementara bagian lain dijadikan zona inti yang sama sekali tak bisa diganggu.
Pemerintah pusat melalui tiga Surat Keputusan Menteri Kehutanan (Nomor 1213, 1214, dan 1215/Kpts-II/2002) sudah menyetujui rencana pengelolaan (management plan) Taman Nasional Kayan Mentarang yang diajukan sejumlah pihak yang terlibat dalam persiapan taman nasional ini. Pendekatan yang menggunakan metode kolaboratif itu, menurut Arif Data Kusuma dari WWF Tarakan, cukup mendapat sambutan di kalangan masyarakat, terutama masyarakat adat.
Logikanya, taman nasional yang terjaga akan mampu melestarikan dan melahirkan jenis-jenis baru hayati. "Jika hutannya rusak, jangankan jenis baru, jenis yang ada pun akan cepat punah," kata Arif Data. Masyarakat sekitar juga akan ikut terancam karena dalam jangka panjang mereka bisa kehilangan sumber hidup dan udara bersih yang tak ternilai harganya.
Budi Putra
|