Ketika Elite Partai pun Terancam SARS Kini keterusterangan tentang wabah SARS mengakibatkan rakyat Cina panik. Isolasi besar-besaran terjadi, dan rumah sakit dibangun dalam waktu empat hari. |
Pemerintah Cina semakin kewalahan menangani wabah virus severe acute respiratory syndrome (SARS). Jumlah korban yang mati terus bertambah, begitu pula tingkat kepanikan. Lihat saja peristiwa yang terjadi di kota kecil Chagugang, Ahad malam, 27 April lalu. Sekitar 10 ribu penduduk Chagugang turun ke jalan melakukan aksi perusakan terhadap gedung sekolah menengah. Massa melempari jendela kaca, membakar material bangunan, dan mengobrak-abrik kamar tidur di sekolah itu. Sebuah rumor beredar: pemerintah menjadikan sekolah itu tempat penampungan pengidap virus SARS dari kota lain.
Kerusuhan baru mereda pada tengah malam setelah pemerintah menurunkan pasukan antihuru-hara. Menurut pemerintah, sekolah itu bukan untuk menampung pasien yang sudah positif terjangkiti virus SARS. Tapi siapa peduli penjelasan itu di tengah kepanikan SARS. Kerusuhan pun terjadi setelah pemerintah menutup sekolah itu dua pekan silam, dan sejumlah tukang kayu datang untuk menyulap ruang kelas menjadi tempat isolasi dengan 200 tempat tidur.
Kepanikan dalam bentuk lain muncul di Ibu Kota Beijing. Pemerintah menutup sekolah, perpustakaan, museum, gedung bioskop. Toko dan restoran pun nyaris tanpa pengunjung karena penduduk merasa lebih aman tinggal di rumah. Tak ada lagi penduduk yang mandi matahari di Lapangan Tiananmen. Sebaliknya, stasiun kereta dan terminal bus penuh oleh calon penumpang yang akan menyelamatkan diri ke luar Beijing. "Bos saya meminta kami tetap tinggal, tapi tak ada yang peduli karena setiap orang ketakutan," kata Qin Shiyong dalam perjalanan pulang ke tempat asalnya di Anhui. Di Beijing ada sekitar tiga juta pekerja migran seperti Qin.
Kepanikan dipicu pernyataan pejabat Wali Kota Beijing, Wang Qisham, di televisi. Wang menyatakan epidemi SARS sangat kuat dan tak terkontrol. Pernyataan Wang bertolak belakang dengan pernyataan semua pejabat Cina sebelum mendapat kritik tajam dari Badan Kesehatan Dunia, WHO. Cina dikritik WHO karena menutupi fakta penyebaran virus SARS yang sudah menyebar setengah tahun silam di Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong.
Wang bergerak cepat. Ia memerintahkan tindakan isolasi ketika kasus SARS meningkat tajam dari 350 menjadi 1.440 kasus. Tindakan ini berhasil menjaring 9.000 orang penduduk Beijing yang diduga terpapar virus SARS. Sebanyak 300 mahasiswa yang kontak dengan penderita SARS diboyong ke kamp militer untuk diobservasi selama sepekan. Selain itu, pemerintah menutup rapat Rumah Sakit Rakyat di Universitas Beijing setelah selusin dokter dan perawat diduga terpapar virus SARS. Lebih dari 2.000 karyawan dan pasien kini terpenjara di rumah sakit. Mereka dilarang melewati pita polisi yang membebat gedung rumah sakit.
SARS bergerak lebih cepat. Rabu pekan lalu Kementerian Kesehatan Cina mencatat 3.303 kasus SARS dan merenggut 148 nyawa, sehingga rumah sakit tak mampu lagi menampung pasien. Pemerintah terpaksa membangun rumah sakit baru di kawasan tetirah bagi pejabat pemerintah di resor Xiaotangshan, satu jam perjalanan dari Beijing. Sekitar 4.000 pekerja konstruksi dikerahkan bekerja siang malam, dan diperkirakan akan selesai dalam waktu empat hari, pada Ahad tengah malam, dengan 1.000 tempat tidur. "Kami diperintahkan mengerjakannya secara cepat," kata Wang Hui, kepala pekerja. Bak semangat mobilisasi massa pada era Ketua Mao setengah abad silam, proyek mendadak ini dihiasi dengan bendera merah Cina dan spanduk bertuliskan "Kelompok Pionir Pemuda Unggul".
Bagaimana di kawasan pedesaan? Pemerintah memberikan gratis termometer kepada setiap rumah tangga dan mengajari penduduk menggunakannya. "Kepala desa harus tahu suhu tubuh semua penduduk desanya," ujar Wang. Penduduk desa juga diperintahkan menunda acara perkawinan, pertemuan sosial, dan bahkan acara penguburan. Beijing bak sedang dalam keadaan perang. Rumor yang beredar, Pemerintah Kota Beijing akan memberlakukan undang-undang darurat perang. Tapi Wang membantah. "Kami belum mengambil keputusan sejauh itu," ujarnya.
Kini muncul romor yang lebih sensitif, yakni SARS sudah mengancam pejabat elite Partai Komunis Cina di Beijing. "Wabah (SARS) berpengaruh terhadap elite politik lebih daripada ancaman lain sejak revolusi," kata Jean-Pierre Cabestan, pengamat politik Cina di Hong Kong. Kalau benar, wabah SARS lebih ampuh untuk menyingkirkan rezim komunis tinimbang demo mahasiswa di Lapangan Tiananmen.
Raihul Fadjri (New York Times, Washington Post, Reuters)
|