Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Kesehatan

Vampir Kecil Pengisap Isi Kantong

Akibat virus SARS, ekonomi Asia diperkirakan bergerak lebih lambat dibandingkan dengan tahun lalu.

VIRUS berukuran 0,3 mikron itu telah menjelma menjadi hantu. Para pelaku pasar dan ekonom memperkirakan, serangan SARS menghambat pertumbuhan ekonomi sejumlah negara Asia. Seketika, tersentuhlah pusat-pusat kecemasan di kawasan ini dan pusinglah para penyelenggara negara. "Muncul ketakutan yang berlebihan di mana-mana dan malah memperburuk keadaan," ucap Mahendra Siregar, staf ahli Menteri Koordinator Perekonomian, menyesalkan prediksi yang bermunculan di media massa.

Memang, sejak virus misterius yang bisa menyebabkan kematian ini merebak, sejumlah negara di Asia terpaksa mengoreksi angka pertumbuhan ekonominya. Berdasarkan laporan Bank Pembangunan Asia (ADB), ekonomi Asia diperkirakan bakal melemah. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,7 persen, tapi tahun ini terpaksa turun menjadi hanya sekitar 5,3 persen.

Cina dilaporkan memikul dampak terberat. Negara tempat ditemukannya kasus SARS pertama ini harus puas dengan tingkat pertumbuhan sekitar 7,3 persen pada tahun 2003, dari angka tahun sebelumnya yang rata-rata 8 persen.

Begitu pula Hong Kong dan Singapura. Seolah bersaing dengan Cina, pertumbuhan ekonomi dua negara tersebut terimbas dampak SARS yang cukup telak. Dalam laporan ADB, pertumbuhan ekonomi di Hong Kong diperkirakan bakal turun 0,6 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Sedangkan Perdana Menteri Singapura, Goh Chok Tong, pesimistis target pertumbuhan ekonomi di negaranya bakal mencapai 2 hingga 5 persen pada tahun ini.

Setali tiga uang, Indonesia merasakan hal yang sama. Berdasarkan perkiraan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), tahun ini Indonesia harus puas dengan tingkat pertumbuhan sekitar 3,28 persen, lebih kecil dibandingkan dengan tahun lalu, yang mencapai 3,7 persen. Ekonom Indef, Dradjad H. Wibowo, mengatakan bahwa dampak akibat SARS jauh lebih besar daripada dampak meledaknya bom di Bali atau perang Irak sekalipun.

Alasannya, kepanikan yang ditimbulkan akibat SARS berlangsung dalam waktu yang lebih tak tentu dibandingkan dengan tragedi bom Bali dan perang Irak. "Bom di Bali dan perang di Irak terfokus pada waktu dan tempat tertentu. Sedangkan SARS menyebar dan belum bisa diperkirakan," tuturnya.

Penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu tak urung ikut memukul berbagai sektor penting yang menggerakkan laju ekonomi. Selain memukul industri penerbangan dan pariwisata, menurut Dradjad, SARS ikut mempengaruhi permintaan terhadap ekspor, terutama untuk produk pertanian. Kekhawatiran muncul lantaran produk-produk pertanian bakal menjadi medium yang cocok untuk penularan virus SARS. Selain itu, kegiatan ekspor sebagian besar dilakukan lewat laut. Sedangkan pelabuhan Singapura, yang kerap menjadi lokasi singgah sebelum berlayar ke negeri tujuan, termasuk daerah endemi SARS, yang mau tak mau harus dihindari. Virus ini juga ikut menghambat perjalanan bisnis. Walhasil, berbagai keputusan investasi pun harus ditunda.

Namun ada berkah lain di balik kasus ini. Menurut Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Mohammad Ikhsan, pariwisata dalam negeri justru menggeliat. Sebab, banyak wisatawan lokal yang akhirnya memutuskan berlibur di dalam negeri ketimbang melancong ke negara tetangga. Indonesia juga ikut menerima limpahan wisatawan asing yang lebih memilih pelesir ke Bali daripada ke negara lain seperti Malaysia, Thailand, Hong Kong, dan Singapura, yang selama ini kerap menjadi tujuan wisata. Sayangnya, baik Ikhsan maupun Dradjad belum punya angka resmi tentang peningkatan arus wisatawan lokal dan asing.

Keduanya juga sepakat meminta pemerintah bergerak cepat. Ikhsan bahkan menyarankan agar Indonesia meniru langkah tegas yang dilakukan Singapura. Meski berkesan represif, tindakan negeri tetangga itu, yakni melakukan pengawasan ekstraketat terhadap warganya, merupakan salah satu langkah tepat. Begitu juga dengan Dradjad. Ia bahkan menyarankan, untuk urusan dagang, Indonesia sebaiknya jangan terlalu bergantung pada Singapura. Menyiapkan berbagai pelabuhan pengganti harus dilakukan sejak dini. Sebab, "Begitu pengapalan tidak mungkin dilakukan di Singapura, kita masih punya beberapa tempat pilihan lain," katanya.

Sementara itu, menurut Mahendra, pemerintah juga sudah menyusun berbagai langkah untuk memulihkan kembali laju perekonomian. Di antaranya mengurangi tingkat penyebaran penyakit ini dengan meningkatkan pengawasan, selain mencoba menggali celah pasar dalam negeri sebagai alternatif pengganti negara tujuan ekspor. Bagaimanapun caranya, yang jelas, business must go on!

Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data