Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Kesehatan

Pintu yang Berlapis

Puncak penyebaran sindrom radang paru-paru akut dan parah di sejumlah negara sudah terlewati. Tapi Indonesia tak boleh lengah.

DOUBLE check: cek di pintu kedatangan, cek juga di pintu keberangkatan. Itulah langkah terbaru yang akan dilakukan pemerintah Indonesia, mulai pekan ini, untuk menanggulangi wabah sindrom radang paru-paru akut dan parah alias severe acute respiratory syndrome (SARS). Jadi, siapa pun yang pergi-dari atau datang-ke Indonesia, baik lewat pelabuhan maupun bandar udara, mesti menjalani pemeriksaan tersebut. Bila ada gejala SARS, seperti suhu di atas 38 derajat, plus gejala lain, seperti batuk kering atau sesak napas, maaf, Anda mesti siap-siap diisolasi. Kalau di Jakarta, ya, dibawa ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Sulit dimungkiri, pemeriksaan sebelum keberangkatan merupakan satu langkah maju. Sebelum ini, pemeriksaan hanya dilakukan terhadap mereka yang datang. Kebijakan baru itu dilakukan menyusul ditekennya kesepakatan para pemimpin negara di kawasan Asia Tenggara dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Bangkok, Thailand, pekan lalu. Untuk menanggulangi menyebarnya wabah SARS, menurut Menteri Kesehatan Achmad Suyudi, ASEAN bersepakat menerapkan standardisasi pemeriksaan. Jadi, warga Indonesia yang punya mobilitas tinggi dan sering ke luar negeri tak perlu kaget jika sejak di negerinya sendiri, juga di negara ASEAN yang lain, akan bolak-balik menjalani pemeriksaan.

Tak hanya itu. Selain mempertahankan pemberian health alert card (kartu kewaspadaan kesehatan), Indonesia berencana menambah peralatan baru untuk memonitor sedini mungkin orang yang diduga terjangkit SARS. Alat canggih ini lazim disebut thermal scanner. Tapi, karena alat ini dipakai untuk memonitor kasus SARS, ada yang menyebutnya SARS temperature scanner.

Menurut Umar Fahmi Achmadi, Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, alat yang harganya lebih dari Rp 500 juta ini mampu mendeteksi suhu tubuh penumpang. Jika suhu tubuh tinggi, alat ini otomatis akan menyala merah. Rencananya, alat ini akan dipasang di empat lokasi bandara dan pelabuhan, yakni di Cengkareng, Denpasar, Medan, dan Batam.

Presiden Megawati dan menteri-menteri terkait sudah setuju untuk mendatangkan alat ini. Selain menjadi bukti keseriusan menangani SARS, upaya seperti itu penting untuk menjaga kepercayaan dunia internasional terhadap iklim usaha dan turisme di Indonesia. Cuma, soal kapan pembelian dan penggunaan alat itu secara pasti, "Masih kita bicarakan," kata Umar.

Indonesia mirip dengan Cina bila dilihat dari populasi dan kepadatan penduduknya. Kalau saja ada satu kasus penyakit yang disebabkan oleh virus SARS lolos dan tak terpantau, jelas akan merepotkan. Bukan mustahil, wabah yang hingga 1 Mei telah merenggut nyawa 391 orang sedunia dari 5.865 kasus yang ada itu bisa menyebar luas di negeri dengan ribuan pulau ini.

Untunglah, sejauh ini, kekhawatiran itu belum terbukti. Kalaupun ada kasus dugaan SARS di Indonesia, itu masih kasus impor, yakni orang luar yang masuk ke Indonesia. Belum adanya kasus kedua (secondary) alias kasus baru yang terjadi akibat penularan oleh penderita yang lain cukup melegakan. Entah kenapa, penyakit yang berawal dari Guangdong, Cina, itu tak gampang menyebar di negeri ini.

Di balik misteri tidak berkembangnya kasus SARS di Indonesia—menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), hingga akhir April hanya ada dua kasus di Indonesia—tentu pemerintah Megawati tak boleh lengah. Kabar yang dilansir Dokter David Heyman, Kepala Bagian Penyakit Menular WHO, bahwa puncak penyakit ini di beberapa negara sudah dilewati, seperti di Hong Kong, Singapura, Kanada, dan Vietnam, juga tak boleh melenakan. Maklum, di balik kabar yang menyenangkan itu, ada juga kabar yang masih bikin deg-degan: di Cina, kasus SARS terus menghantui (lihat Ketika Elite Partai pun Terancam SARS). "Risiko dan ancaman SARS sebagai penyakit yang mewabah masih sangat besar," kata Heyman.

"Meski upaya Departemen Kesehatan bisa dibilang efektif, terlalu awal kalau dikatakan kita berhasil mencegah SARS. Justru, itu tadi, kita harus all-out!" kata Sjahrizal Sjarief, ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Apalagi titik rawan untuk kemungkinan masuknya virus SARS di negeri ini bertebaran. Sekadar contoh, tiap hari ada 80-100 tenaga kerja Indonesia yang pulang kampung. Bukan tak mungkin, mereka ini bekerja di negara yang terjangkit SARS dan terpapar virus tersebut. Di sinilah, selain ada pemeriksaan ganda yang terstandardisasi, menurut Dokter Tjandra Yoga Aditama, Ketua Tim Verifikasi Penanggulangan SARS Indonesia, kampanye sadar SARS harus terus dipompakan kepada seluruh warga, khususnya tenaga kerja Indonesia.

Dwi Wiyana, Dwi Arjanto, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data