Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Hukum

'Sumanto' Lain dari Palu

BELUM selesai perkara Sumanto diadili, muncul "Sumanto" lain di Palu, Sulawesi Tengah. Namanya Yunus, 28 tahun, warga di kota itu yang diduga sebagai penganut ilmu hitam dan pencari 15 mayat untuk menyempurnakan ilmunya. Gawatnya, akhir pekan lalu, dia lari dari rumah sakit jiwa. "Ia kabur setelah menjebol eternit kamarnya," ujar S.T. Raharjo, Kepala Tata Usaha Rumah Sakit Jiwa Mamboro, Palu.

Yunus, yang ditangkap dua pekan silam, sejatinya masih dalam pengawasan. Meskipun pihak rumah sakit menyatakan dia normal, polisi yakin ia sinting. Pemuda ini sempat ditahan polisi karena seorang penggali kubur bernama Samsuddin memergokinya "mencuri" mayat orok di pemakaman Pogego, Palu Barat. "Gigi dan tangannya cokelat, seperti bekas darah," kata Samsuddin, yang melihat muka Yunus dalam jarak dekat.

Menurut sejumlah saksi, mayat bayi yang belum genap sebulan dikubur itu sudah tak utuh lagi. Batok kepalanya berlubang, perutnya terburai, dan daging tangan beserta pahanya koyak. "Yunus juga sudah menggigit putus lidah bayi. Kata kepercayaan, lidah bayi berkhasiat menyempurnakan ilmu hitam," kata Meri, 23 tahun, seorang warga setempat, kepada TEMPO.

Dalam kesehariannya, Yunus, yang tinggal di Kampung Baru, Palu Barat, tampak sebagai pemuda yang manis. Raut wajahnya tenang dan bersih, bicaranya lancar. Di dalam tahanan Kepolisian Sektor Palu Barat, ia pun rajin melakukan salat. Tapi kenapa punya hobi menggerogoti mayat? Lelaki asal Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sehari-hari menjadi tukang becak ini mengaku sedang menimba ilmu. Tak jelas ilmu macam apa yang dipelajarinya.

Kesaksian miring juga datang dari ibu angkat Yunus, yang keberatan disebut namanya. Ia pernah mendengar, Yunus ingin memakan 15 bayi untuk menyempurnakan ilmunya. Tapi ia tetap kaget saat diberi tahu bahwa Yunus telah membongkar kuburan.

Begitu Yunus ditahan polisi, orang Palu langsung menjulukinya kanibal. Hanya, tak ada orang yang bersaksi bahwa Yunus telah membunuh bayi atau orang dewasa. Yang diincarnya cuma mayat bayi yang sudah dikubur. "Aku melakukannya karena petunjuk wali," kata Yunus kepada Rachmat, rekan satu selnya di tahanan Kepolisian Sektor Palu Barat.

Kisahnya, menurut Rachmat, Yunus mengaku didatangi oleh seorang wali pada suatu pagi di Pasar Inpres Manonda. Sang wali, yang berpakaian putih-putih dan bersorban, mengenalkan dirinya bernama Muhamad Tahir. Dia memerintahkan agar Yunus menggali kuburan bayi yang belum genap sebulan dipendam. "Mayat itu ada di kuburan Islam Pogego," kata sang wali.

Ketika disalami, tubuh Yunus sekonyong-konyong seperti disiram air kulkas. Dan busss…. "Saat itulah sukma wali Tahir masuk ke dalam diri saya," kata Yunus seperti ditirukan Rachmat. Ia lantas melangkahkan kaki telanjangnya ke kuburan, yang cuma berjarak 800 meter. Digalinya kuburan itu dengan tangan. Setelah mayat bayi ditemukan, ia mengangkat dan mencium si bayi. "Baunya harum, seperti bunga sedap malam," ungkap Yunus.

Dia lalu mengganti bungkus kafan mayat itu dengan kaus lusuh yang dipakainya. Rencananya, dia terus pergi ke masjid untuk melakukan salat, tapi keburu kepergok oleh Samsuddin. Dikatakannya kepada Rachmat, teguran sang penggali kubur membuat bau bayi itu berubah menjadi busuk.

Saat ditemui TEMPO di tahanan, Yunus sendiri bercerita bahwa dirinya hanya mengambil bungkusan hitam di dalam kuburan untuk kesempurnaan ilmunya. "Ini ilmu keselamatan, ilmu agar tak dimakan tanah alias awet ketika mati," ujarnya.

Ketika diperiksa polisi, pengakuan Yunus pun cenderung berubah-ubah dan tak sesuai dengan keterangan para saksi. Karena itu, akhirnya dia dititipkan ke rumah sakit jiwa. "Buat apa kita periksa jika Yunus ternyata orang yang kurang waras?" kata Ajun Komisaris Polisi Hajat M. Pujangga, Kepala Polsek Palu Barat. Peliknya lagi, orang tua dan kerabat Yunus sendiri tak jelas. Menurut ibu angkatnya, Yunus adalah pengungsi dari Ambon.

Kini kasus ini menjadi lebih pelik karena si pelaku telah kabur, apalagi jika kelak terungkap Yunus ternyata cukup waras.

Arif Kuswardono, Darlis Muhammad (Palu)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data