Goyang Inul Goyang Politik Rhoma Irama memarahi Inul Daratista. Khalayak di Indonesia terbelah: pro-Inul dan pro-Rhoma. |
Di sebuah panggung Inul menyanyi. Tapi sesungguhnya ia lebih dari sekadar melantunkan lagu. Seperti wajahnya, suara Inul tidak jelek, tapi tidak juga istimewa. Manakala lagu ciptaan Rhoma Irama berjudul Cincin Kawin itu sampai pada bagian refrain, suara Inul sedikit menggeletar (vibrato) layaknya seorang bintang rock yang tiba-tiba mesti menyanyikan lagu bertempo lambat. Tapi bukan itu puncak acaranya.
Interlud, interlud! Itulah momentum yang paling ditunggu segenap penonton. Di situ gendang dan alat perkusi lain bertemu, bersentuhan, berdialog akrab dengan gerak panggung sang penyanyi, Inul Daratista. Suara penyanyi senyap sementara, tapi tepukan gendang yang dinamis—sering dalam jaipongan—mengambil alih, mengisi kevakuman yang dibiarkan menganga. Seraya mengiringi lengkingan suling yang menyayat, tapi dengan ritme terjaga. Cincin Kawin memang lagu yang berkisah tentang pasangan kekasih yang gagal bersatu. Tapi dalam interlud di atas panggung, Inul tidak menunjukkan ekspresi yang melodramatis, sedih. Ia menggeliat lentur, memutar tubuh bagian perut ke bawah hampir 360 derajat, berlawanan dengan gerak tubuh bagian atas. Istilah populernya ngebor, tapi sebagian orang menafsirkannya erotis.
Maka bisul yang telah lama bengkak itu pun pecah pekan lalu. Rhoma Irama, satu figur terhormat di dunia dangdut, turun tangan buat meluruskan yang dinilainya miring. Si senior yang telah banyak makan garam itu menegur si junior yang namanya melambung, melampaui rekan-rekannya. Peristiwa wajar, tapi menimbulkan gelombang raksasa.
Masyarakat cepat terbelah dua: pro-Inul dan pro-Rhoma. Alkisah, dalam satu pertemuan lintas generasi di Studio Soneta Group, Depok, Jawa Barat itu, Rhoma Irama tidak cukup menyemburkan tudingan bahwa Inul telah "melemparkan dangdut ke comberan". Rhoma Irama tegas menyebut goyang Inul telah merusak moral dan akhlak bangsa, dan seraya melarang Inul membawakan lagu-lagu ciptaannya dan lagu-lagu ciptaan anggota Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI, dipimpin Rhoma). Inul hanya "anak kecil", tapi Rhoma punya prestasi musik hebat dan kredibilitas moral sewaktu berseberangan dengan Orde Baru. Ada sanksi berat jika Inul Daratista melanjutkan gaya ngebor.
Inul pasrah, matanya sembab, tapi masyarakat pendukungnya tidak mau menerima perlakuan sekeras itu. Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi) yang dipimpin Anwar Fuadi mencela tindakan Rhoma. Sosok yang kerap dipanggil Wak Haji itu dinilai membatasi kebebasan berekspresi. Semangat bertempur dikobarkan: Inul jangan goyah, jalan terus dengan gaya berdangdut yang telah menjadi ciri khasnya. Kemarahan Rhoma yang dinilai berlebihan itu mendapat sambutan. Ada Guruh Sukarno Putra yang mengimbau semua pihak menghargai kebebasan berekspresi tiap-tiap orang. Ada pula Presiden Indonesia keempat, K.H. Abdurrahman Wahid, yang lebih konfrontatif. Tidak sekadar mendukung penyanyi asal Pasuruan itu, Gus Dur berjanji akan mengerahkan Banser NU "jika ada pihak-pihak yang sengaja memasung kreativitas Inul dalam berkesenian."
Pagar yang memisahkan dangdut dan dunia di luarnya telah rebah, dan hampir tiap-tiap kelompok di negeri ini menghambur masuk—seraya menunjukkan sikap, identitas ideologinya. Kita maklum, setahun menjelang Pemilu 2004 dangdut sudah jadi komoditas politik. Dangdut adalah musik yang dicintai produser rekaman, disukai pejabat, dan—tentu saja—disayangi masyarakat luas. Tiap lima tahun, pejabat dan politikus naik ke panggung, melantunkan lagu-lagu dangdut dalam kampanye besar. Musik kelas bawah tersebut berhasil naik kelas dan kini menikmati perlakuan istimewa.
Semua mau naik kelas. Persaingan antarbintang dangdut semakin panas, tapi kualitas bukan lagi faktor yang paling menentukan. Di atas panggung dangdut Inul, interlud jadi bagian yang paling dinanti-nantikan penonton. Dengan kata lain, penyanyi boleh kehilangan suara, tapi tidak goyangnya. Di bawah panggung yang gemerlap, ada orang yang menyesalkan cara Rhoma Irama menegur adiknya yang populer, tapi juga meratapi lunturnya kualitas musik itu. Ahmad Vad'aq menganjurkan pertemuan empat mata antara si senior dan si junior. "Dinasihati dengan baik, dirangkul untuk diskusi tentang penampilannya," kata Vad'aq, bekas pemimpin Orkes Melayu Lokananta. Tapi di luar itu ia tak bersukacita dengan perkembangan dunia dangdut kini.
Beat dangdut memang merangsang goyang, tapi beat tak boleh selalu me- ngalahkan emosi di dalam lagu. Vad'aq percaya, proses kreatif penciptaan berawal pada syair, berakhir pada ritme. "Seharusnya syair diilustrasi oleh lagu, melodi. Apabila syairnya sedih, melodi ikut sedih, lantas ritmenya juga mengikuti," ujar lelaki 65 tahun yang juga pernah membuat komposisi untuk Rhoma Irama ini. Dangdut telah naik kelas, tapi sukses itu, di mata Vad'aq, lebih banyak melahirkan keseragaman gaya ketimbang kreativitas.
Lagu Cincin Kawin karya Rhoma Irama bergerak dalam tempo sedang. Di situ Inul tampak berduet dengan seorang lelaki yang mempunyai suara pas-pasan. Jauh sebelum itu, Rhoma Irama—waktu itu masih Oma Irama—melantunkan lagu yang sama dengan pasangannya di atas panggung: Elvy Sukaesih. Regenerasi terjadi, sebuah lagu bertahan melawan waktu, tapi cara orang membawakannya hampir berubah total. Mungkin yang bertahan adalah muatan bisnis dan politik, dua hal yang tidak akan membiarkan dangdut jalan sendiri.
Di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat malam pekan lalu, Rhoma Irama memeluk dan mencium Gus Dur. Keduanya bersepakat tentang kebebasan berekspresi dan erotisme. Sikap mereka: menghormati kebebasan sepanjang ia tak melanggar konstitusi, dan memerangi erotisme dengan cara masing-masing. Dan yang berhak mengatakan Inul melanggar konstitusi, kata Gus Dur, hanyalah Mahkamah Agung. Bagi Inul dan rekan-rekannya, dangdut adalah lagu tentang orang yang mencoba menggapai kelas yang lebih tinggi, sesuatu yang sukar terjadi di sini.
Idrus F. Shahab, Dwi Arjanto, Dewi Rina Cahyani, Nunuy Nurhayati (Tempo News Room)
|