Sebuah Amerika yang Lain Far from Heaven, peraih empat nominasi Oscar 2003, film melodrama berkelas dengan bumbu konflik rasisme dan isu gender, tersedia dalam bentuk DVD di Indonesia |
Far From Heaven
Pemain : Julianne Moore, Dennis Quaid, Dennis Haysbert
Sutradara : Todd Haynes
Akhir 1950-an. Amerika sedang berbangga atas kemenangannya di medan Perang Dunia Kedua. Semua kepala seperti mendongak hendak mengatur seluruh bumi. Produksi barang-barang konsumsi, radio, TV, mobil, gaun-gaun berwarna pelangi, melonjak penuh semangat.
Di tempat makmur sejahtera itulah, tepatnya di Kota Hartford, Connecticut, kisah bermula. Kota kecil yang betul-betul rapi. Jalanan bening tanpa polusi. Baju dan riasan rambut penduduknya, bahkan pelayan dan tukang kebun, tak pernah kusut diterjang angin musim gugur. Serba sempurna.
Namun, justru kesempurnaan itulah jantung satire kemakmuran Amerika. Ada magma yang siap meledak di balik segala kerapian dan kesopanan rumah-rumah impian itu. Sutradara Todd Haynes (pernah sukses dalam Safe dan Velvet Goldmine) mengemasnya dalam film Far from Heaven, yang membuahkan empat nominasi piala Oscar 2003, Maret lalu, termasuk untuk kategori artis terbaik.
Far from Heaven dibuka dengan gambar yang memanjakan mata ala kartu pos nan indah. Daun mapel berwarna merah dan emas. Angin musim gugur yang menerbangkan selendang Cathy Whitaker (dimainkan dengan amat bagus oleh Julianne Moore), perempuan kelas menengah atas yang jadi model ideal ibu rumah tangga. Profil Cathy sempat tampil di koran lokal dengan label: di balik setiap lelaki yang cemerlang, selalu ada dukungan perempuan brilian yang memainkan peran domestik.
Lalu, ada Frank Whitaker (diperankan Dennis Quaid), sang suami, seorang salesman sukses di pabrik TV Magnatech. Perkawinan Frank-Cathy tampak makin serasi dengan kehadiran sepasang anak manis. Merekalah simbol kebahagiaan komunitas Hartford. Sampai akhirnya surga terbang melayang saat Cathy memergoki Frank sedang berciuman mesra dengan sesama lelaki.
Ternyata Frank adalah seorang gay. Sebuah kondisi yang mungkin tidak kelewat istimewa di masa kini. Tetapi, untuk periode 1950-an, homoseksualitas masih teramat tabu dan bisa membuat orang terlempar dari kelas terhormat ke kasta paria. Frank tentu tak ingin keluarga idamannya terbanting. "Aku akan melawan kelainan ini," demikian ia berjanji kepada Cathy. Tapi janji tinggal janji, dan Frank diam-diam terus hanyut dalam gairah homoseksualnya.
Sementara itu, datanglah Raymond Deagan (Dennis Haysbert), tukang kebun berkulit hitam, mewarnai hidup Cathy. Mereka berteman dan akhirnya bercinta, meski hanya platonik, dengan hangat dan tulus. Tak ada ciuman mesra, hanya pandang mata yang mengisyaratkan rindu mendalam.
Tak pelak lagi, seluruh sudut kota langsung mencibir hubungan kekasih dua ras ini. Anak gadis Ray dilempari batu sampai pingsan. Bahkan seorang lelaki menghardik Ray ketika dia berani menyentuh pundak Cathy di jalanan umum. Dosa penyelewengan Frank seolah hanya seujung kuku hitam jika dibandingkan dengan pertemanan Cathy-Raymond. Sulit dipercaya, budaya rasialis ini terjadi di bumi Amerika baru setengah abad yang lalu.
Nah, bagi mereka yang ingin meledek superioritas Amerika, atau bagi orang Amerika yang ingin belajar agar lebih arif, film ini amat layak ditunggu kehadirannya di layar bioskop kita. Lagi pula, kualitas akting Julianne Moore yang elegan, yang membuat dia dinominasikan untuk artis terbaik Oscar 2003, menjadikan film ini sayang untuk dilewatkan. Sutradara Haynes pun cukup lihai tidak membiarkan Far from Heaven jatuh ke drama yang banjir air mata. Adegan-adegan yang menguras emosi, ditunjang dengan akting Dennis Haysbert yang kukuh, tampil dengan kuat dan berkelas.
Haynes mengaku, Far from Heaven terilhami film karya Douglas Sirkraja melodrama tahun 1950-anberjudul All That Heaven Allows yang mengisahkan seorang janda, dimainkan artis Jane Wyman, yang jatuh cinta pada tukang kebunnya, diperankan Rock Hudson, yang berusia 15 tahun lebih muda. Film ini disebut-sebut sebagai monumen penting yang memotret problem perempuan, dan ucapan Jane Wyman kepada Rock Hudson pun populer di kalangan feminis, "Sering kupikir kau berharap, andai aku ini seorang laki-laki."
Sayang sekali, kita tidak mendapatkan pesan mendalam dari Far from Heaven. Film ini hanya memotret dunia seorang Cathy, bukan dunia perempuan yang bergulat di zaman yang dipenuhi para bigot, orang-orang yang mengutamakan garis batas kita dan mereka. Haynes juga gagal mengelola konflik ras Amerika saat itu dengan lebih intens. Film berdurasi 1 jam 46 menit ini pun berlalu dengan akhir menggantung tanpa gebrakan berarti.
Mardiyah Chamim
|