Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXXII/05 - 11 Mei 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Cyrillus Harinowo: "Saya Tahu Ada Kelompok Hitam"

CYRILLUS Harinowo santai-santai saja. Pria berusia 50 tahun yang dinominasikan sebagai salah satu calon gubernur bank sentral ini tak melakukan persiapan khusus menjelang "kontes" yang segera digelar parlemen. Makalahnya pas-pasan saja, 20 lembar, sesuai dengan yang dipersyaratkan. Dia pun mengaku tak lintang-pukang melobi para wakil rakyat untuk menyokongnya. "Untuk apa? Wong, partai yang meminang saya juga tidak ada, kok," katanya tanpa beban kepada wartawan TEMPO Febrina Siahaan.

Berikut ini petikan wawancara dengan doktor moneter lulusan Vanderbilt University, AS, yang kini menjabat sebagai salah satu Direktur Bank Indonesia itu.

Apa agenda utama Anda kalau terpilih?

Melakukan konsolidasi internal. Tugas BI untuk mengendalikan moneter dan sistem pembayaran serta pengawasan bank sudah berjalan bagus. Tinggal dipertajam. Tapi konsolidasi internal BI justru sangat urgen. Kalau konsolidasi eksternal, dengan tim ekonomi di kabinet, saya kira bagus. Saya kenal baik dengan Pak Djatun (Menteri Koordinator Perekonomian), apalagi Boediono (Menteri Keuangan).

Bagaimana visi moneter Anda? Berani pasang target rupiah di level 7.000 per dolar?

Stabilitas rupiah yang terpenting, bukan levelnya. Dengan cepatnya rupiah menguat sekarang, saya malah bertanya-tanya bukankah itu malah jadi masalah bagi eksportir.

Anda setuju pengawasan bank dipindahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK)?

Untuk yang satu ini, saya berpikiran lain. Untuk Indonesia, sebaiknya pengawasan bank tetap di bank sentral. BI sudah teruji independensinya. Buktinya, separah apa pun badai menerjang, Pak Syahril (Gubernur BI sekarang—Red.) tetap bertahan. Bandingkan dengan BPPN yang mirip-mirip OJK. Pemimpinnya berganti terus. Kalau itu terjadi dengan OJK, pasti terjadi instabilitas yang luar biasa.

Sikap Anda soal OJK sudah harga mati?

Minimal, saya akan melihat lagi Rancangan Undang-Undang OJK itu dengan lebih hati-hati.

Deputi Senior Gubernur BI Anwar Nasution dan para pengamat menjuluki BI sebagai sarang penyamun. Menurut Anda, betul begitu?

O, betul itu. Saya pikir mereka punya data yang mendukung hal itu.

Bagaimana cara Anda membersihkan BI?

Saya akan melakukan pemetaan. Untuk kasus korupsi yang sudah sangat jelas, saya punya cara yang cepat dan tepat. Sebagai orang dalam yang paham isi perut BI, saya tahu bagaimana menanganinya. Memang pasti ada tentangan dari kelompok tersebut. Makanya dari awal saya bilang perlu konsolidasi. Saya tahu mana kelompok putih, hitam, dan yang abu-abu.

Dibandingkan dengan kandidat lain, kans Anda disebut-sebut yang paling kecil.

Tapi saya tetap pede (percaya diri—Red.), optimistis, ha-ha-ha….

Soal kekayaan, kok, Anda belum melapor ke Komisi Pemeriksa?

Saya baru kembali ke Indonesia bulan Febuari lalu. Sewaktu di Washington, saya diminta melaporkan kekayaan saya. Datanya sudah saya serahkan ke BI. Kalau ditotal dengan nilai pasar sekarang, harta saya mungkin sekitar Rp 1,8 miliar.

Mertua Anda seorang tokoh PDI. Karena itu Anda dicalonkan?

Namanya Palaunsuka. Ia memang terpandang, tapi sederhana. Kalau ada pembagian mobil, dia jual untuk kampanye. Beliau meninggal tahun 1993. Jadi, kalau saya dipilih karena kolusi-nepotisme, itu tidak benar. Beliau ini termasuk dalam Kelompok 17 bersama Soetardjo Soerjogoeritno, yang dipecat Soerjadi (Ketua Umum PDI ketika itu).

Sejauh mana keterlibatan Anda dalam pengucuran dana BLBI?

Waktu itu saya Kepala Bagian Urusan Operasi Pengendalian Moneter. Tapi, sesuai dengan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan, tidak ada satu pun keterkaitan positif antara bagian saya dan pengucuran dana BLBI. Makanya nama saya, wakil saya, atau anak buah saya tidak satu pun yang masuk daftar pejabat BI yang terlibat BLBI menurut versi BPK.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data