Sebuah Parodi yang Konyol Kisah mantan polisi yang menjadi satpam. Tema yang menarik berkembang jadi komedi yang tak lucu. |
National Security (2002)
Pemain : Steve Zahn, Martin Lawrence
Sutradara : Dennis Dugan
Skenario : Jay Scherick, David Ronn
Produksi : Sony Pictures
Polisi itu akhirnya ditendang keluar dari kesatuannya. Ia sebelumnya dipenjara, tapi lalu dinyatakan stres setelah mondok di bui enam bulan oleh atasannya. Film National Security yang masih diputar di bioskop-bioskop Tanah Air bergulir: Hank Rafferty (Steve Zahn), bekas polisi tersebut, bebas tapi masa lalunya, reputasinya selama menjadi polisi, seakan tidak hendak meninggalkannya.
Tak disangka, di tempat kerjanya yang baru di perusahaan pengamanan, ia harus bekerja berpasangan dengan orang yang memfitnah dan menjebloskannya ke penjara. Alkisah, Earl Montgomery (Martin Lawrence) menangkap kata-kata berbahaya yang keluar dari mulut Rafferty. Di sebuah kesempatan Rafferty mengungkap niat membunuh mitranya dalam tugas. Dari situlah satu rangkaian dilema—keterpaksaan dan ketidakberdayaan—membuntutinya.
Inilah kompromi yang harus dibuat, tapi tak mudah: musuh yang harus menjadi kawan. National Security film dengan tema menarik, tapi kemudian buyar-berkeping ketika sutradara serta penulis skenario mulai mengungkapkannya dalam plot dan bahasa gambar. Dilema yang membayangi tokoh pemeran utama itu, apa boleh buat, tak dikembangkan lebih jauh, kecuali melalui bahasa humor kacangan. Terlalu enteng untuk mengisi tema itu. Adegan kocak, yang kebanyakan slapstik, bertaburan di sepanjang film.
Sebagai hiburan dari kepenatan, film ini boleh saja ditonton. Tapi tolong jangan terlalu berharap kualitas dan akting yang yahud. Antiklimaks sudah terjadi ketika penonton tahu bahwa adegan pembuka, upaya serius Rafferty buat membongkar si pembunuh mitranya, ternyata bukan inti cerita. Setelah itu, sepanjang satu setengah jam, penonton menyaksikan alur cerita tidak jelas dan kelucuan-kelucuan klasik dipaksa muncul kembali: klise ketimbang lucu.
Dari segi cerita, banyak hal yang mengganggu. Di adegan-adegan awal, penonton akan sebal melihat Rafferty pasrah dan menelan bulat-bulat keputusan hakim bahwa dia akan membunuh sang mitra—hal yang tak pernah dilakukannya. Persoalan rasial dibiarkan terus muncul sebatas permukaan, sehingga menerbitkan konotasi tak mengenakkan. Ketika Montgomery ditanya mengapa dia memfitnah seperti itu, ia menjawab enteng, "Komunitas kulit hitam sudah telanjur mendukung saya." Memang, dalam film ini, ketika terbetik berita bahwa seorang polisi mencoba membunuh orang kulit hitam, demonstrasi dan protes pun merebak. Namun adegan ini justru memberikan kesan bahwa orang kulit hitam melakukan segala cara—meskipun harus memfitnah—untuk membalas dendam pada orang bule. Belum lagi lelucon-lelucon rasial yang sangat merendahkan.
Dalam film ini, Martin Lawrence jelas tidak berbakat sebagai komedian. Dia tak lebih dari orang kulit hitam yang menghina rasnya sendiri dan melontarkan joke tidak lucu sepanjang film. Entah mengapa sutradara dan penulis skenario begitu bernafsu mengeksploitasi persoalan rasial dengan cara-cara yang tidak lucu. Mungkin saja ide awalnya justru pembauran atau sebangsanya. Namun kenyataannya dalam film tidaklah demikian. Malah terasa dibuat-buat.
Awalnya, National Security lumayan menjanjikan. Kisah polisi yang dituding menyerang warga kulit hitam mengingatkan akan kasus Rodney King. Namun selebihnya film ini malah terasa dangkal dan sangat rasial. Jangan bandingkan Martin Lawrence dengan Eddie Murphy, sesama komedian berkulit hitam, yang kerap berperan sebagai polisi, antara lain dalam film 48 Hrs dan Beverly Hills Cop. Memang, tidak semua film komedi Murphy bagus atau lucu—misalnya sekuel Beverly Hills II dan III yang terlalu slapstik. Namun, setidaknya, Murphy cukup segar dan menghibur. Berbeda sekali dengan Lawrence, yang tidak mengesankan penonton dan tidak lucu. Dan aktor yang tidak lucu adalah kegagalan terbesar film komedi.
Andari Karina Anom
|