Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXII/21 - 27 April 2003
   
Musik

Secarik Imajinasi Matematika

Duet piano-selo Sulistyo Utomo-Miwako Fukushi sepi penonton, tapi menelurkan hal menarik.

Apa yang dilakukan bunyi piano yang berdenting dengan nada-nada minor di suatu ketinggian? Partitur Sonata no. 2 in D Major untuk piano dan selo karya komponis Johan Sebastian Bach memang mengharuskan si pianis bermain di atas sana. Kita tahu itu. Potongan dari bagian ketiga sonata itu, andante yang bergerak lambat dan liris itu bukan bagian teramat penting dari komposisi. Tapi pemain yang sudah menguasai seluk-beluk dan kandungan emosi karya itu dapat memberikan sedikit ruang tafsir bagi penonton yang larut dalam musik.

Boleh jadi denting piano itu menaburkan titik-titik yang perlahan dirangkai, dihubungkan satu sama lain oleh alunan selo yang mengalir bagaikan garis panjang, sambung-menyambung, dan naik-turun. Gesekan selo Sulistyo Utomo mengikuti garis melodi yang sebelumnya "ditetapkan" oleh piano Miwako Fukushi malam itu. Rabu pekan lalu, di ruang pertunjukan Erasmus Huis, Jakarta, bagian itu mendahului bagian terakhir yang memang klimaktik: allegro. Di antara bagian ketiga dan keempat ada kontras cukup mencolok. Musik bergerak cepat, minor dan mayor silih berganti: yang diawali dengan nada-nada mayor terkadang berakhir dengan minor, begitu pula sebaliknya.

Itulah sonata, sesuatu yang kerap disebut pencapaian bentuk terhebat dalam musik klasik. Tapi itu pula J.S. Bach. Sonata di zaman Barok (1600-1750), periode Bach hidup, memang belum berkembang sepesat zaman Romantik (1815-1900), namun Franz Joseph Haydn, salah seorang kolega Bach, berhasil mengembangkannya sedikit melampaui batas-batas zamannya. Bentuk sonata dipecah jadi empat bagian (movement) terpisah, tapi tiap bagiannya bisa memelihara hubungan "organik" satu sama lain.

J.S. Bach sendiri adalah sosok kontroversial. Para pengkritiknya memandang J.S. Bach komponis yang bergerak, berkreasi seperti mesin, mengikuti pola-pola persamaan matematika—pendeknya semua yang menunjukkan betapa kakunya seorang Bach. Ia adalah komponis beranak sembilan yang menelurkan banyak komposisi musik gereja, senang berpenampilan serius, tapi juga sedikit congkak. Tidak bisa dimungkiri, Sonata no. 2 in D Major mengandung muatan matematika. Tapi soal denting piano yang menebarkan titik-titik dan gesekan selo yang menghubungkannya dengan garis panjang itu mungkin lebih cocok disebut "imajinasi matematika".

Duet Sulistyo Utomo-Miwako Fukushi malam itu tentu tak cuma membawakan Sonata no. 2 in D Major. Di hadapan segelintir penonton di Erasmus Huis, mereka sanggup memainkan Adagio und Allegro karya Robert Schumann tanpa banyak kesulitan. Sedangkan Sonata no. 3 in A Major Opus 69 karya Ludwig van Beethoven, yang diawali dengan permainan piano yang jernih Miwako Fukushi, sesekali tersandung. Gesekan selo Sulistyo Utomo terkadang tak mampu menyajikan tingkat akurasi yang tinggi. Beberapa kali sang selis tak sanggup menghasilkan nada secara bulat. Selo memang bukan instrumen yang mudah dimainkan, kecuali dengan kepekaan perasaan yang sangat tajam, kondisi batin prima, dan penguasaan teknik.

Sebenarnya Sulistyo berhasil menangkap irama dengan baik—bahkan sesekali ia bermain dengan sinkopasi, nada jatuh di antara dua ketukan yang tak didapat dalam partitur. Ia mendapatkan yang dikejarnya, tapi tak sepenuhnya berhasil memainkan melodi secara sempurna. Mungkin kita memang tak bisa mendapatkan semuanya sekaligus. Sulistyo sesungguhnya bukan orang baru di dunia para selis di negeri ini. Ia banyak belajar dan berpentas di Amerika Serikat. Sepanjang 1995-1996 ia mendapat beasiswa di Towson State University, Amerika, serta menggelar resital di Washington, DC dan Baltimore. Sedangkan Miwako Fukushi, sang pianis, sosok yang sudah mengenal piano dalam usia empat tahun. Ia telah berkali-kali menang dalam festival piano internasional.

Pertunjukan duet Sulistyo Utomo-Miwako Fukushi tidak gagal. Mereka telah berhasil membawakan musik yang melampaui batas-batas yang dibubuhkan dalam partitur Sonata no. 2 in D Major karya J.S. Bach. Di situ mereka adalah "juru bicara" sekaligus "juru tafsir" komponis besar yang sudah tiada.

Idrus F. Shahab


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data